Penantian Kinara

Penantian Kinara
Penjelasan Ali


__ADS_3

Ali tersenyum, ia menoleh pada Gading. Gading masih menatap Mami Alisa dan sang Mami sambungnya. Ali mengusap surai hitam Gading yang kemerahan.


''Namanya Gading Jaber Al Basri. Putraku Mak!''


Deg!


Deg!


Deg!


''Apa?!'' pekik Papi Gilang begitu terkejut.


Mami Alisa masih menatap Ali. Begitu juga dengan Nara. Mata Nara tetap fokus pada bocah kecil berusia enam tahun lebih itu sedang menatap nya tak berkedip. Wajah terkejut Nara begitu kentara terlihat melalui sambungan ponsel miliknya.


Ali tersenyum saat melihat wajah terkejut Nara. ''Sayang..'' panggilnya.


Nara diam. Ia masih menatap Gading yang kini sedang menatapnya. ''Ali??'' panggil Mak Alisa lagi.


''Iya Mak. Ini Gading. Putra angkatku. Baru saja kemarin ku angkat menjadi anak. Gading seorang yatim piatu. Umminya sudah meninggal dua tahun yang lalu. Sedang Abi nya?'' Ali mengusap surai hitam Gading.


''Maksudnya, Gading sama kayak Malda?'' tanya Maura pada Ali.


Ali mengangguk, ''Ya ... Abi gading baru saja meninggal kemarin ia tertembak oleh rekan kami karena di anggap penyusup. Tapi yang sebenarnya beliau datang untuk menyelamatkan Gading yang saat itu di culik oleh orang berkulit hitam dan dibuang di hutan ini. Ia pun sama kayak bang Lana. Ia juga berasal dari Medan. Tapi sudah tidak memiliki keluarga lagi.. ia yatim piatu..'' lirih Ali dengan Air mata yang sudah menetes.


Semua yang ada disana ikut menangis tersedu Karena mendengar penjelasan Ali. ''Gading juga mengalami pelecehan Mak. Ia di siksa hingga tubuhnya semua mengalami luka lebam. Bagian pembuangan air besar nya terluka. Bahkan yang lebih parah.. hiks.. bagian penghasil bibit masa depan nya terancam mandul dan tidak bisa memiliki keturunan karena di jepit menggunakan tang kecil saat ia berada bersama penculiknya...'' Ali tersedu. Ia memeluk erat tubuh Gading.

__ADS_1


''Astaghfirullah ya Allah..'' lirih mereka semua.


Nara semakin terkejut. Mata itu tidak putus dari menatap Gading. Gading tersenyum melihat air mata Nara mengalir di pipi mulusnya.


''Mami?? Mami Nara??''


Deg, deg, deg..


Jantung Nara berdegup kencang. Ia masih menatap Gading. Seutas senyum manis terbit dari sudut bibir Nara. ''Sayang??'' panggil Ali.


Nara mengangguk, Ali tersenyum. ''Mami?? Mami mau nerima Abang??'' tanya Gading masih dengan menatap Nara.


Nara tersenyum, ''Tentu. Mami menerima Abang! Mami tunggu Abang disini. Cepat sembuh ya? Kita akan berkumpul bersama disini.'' Imbuhnya, membuat Gading menangis tersedu.


Ali tertawa. Begitu juga dengan Lana. Semua yang ada di dalam sambungan ponsel itu ikut terharu. Mereka mengais bersama. ''Hiks .. putraku.. Terimakasih sayang. Karena kamu telah menerima Gading menjadi putra angkat mu. Abang sayang sama kamu Dek!'' ucap Ali pada Nara.


Nara mengangguk dan tersenyum, walau air mata itu masih saja bercucuran. Tapi bibir tipis yang selalu membuat Ali candu itu tetap menyungging kan senyum manis.


''Tentu. Apapun yang menjadi keinginan Abang pastilah yang terbaik buat kita. Kenapa adek menolaknya? Sementara adek sendiri menyukai anak kecil? Belum lagi Gading. Ia pasti bocah kecil penurut dan baik budinya. Adek yakin itu. Dari matanya begitu terlihat Abang. Adek senang bisa memilki anak angkat. Sama seperti Mak dan bang Lana. Iyakan Kak??'' tanya Nara pada Maura.


Maura mengangguk. ''Tentu, jika anak itu baik dan penurut apa salahnya? Lagipun Ali pasti punya tujuan kenapa ia mengangkat Gading menjadi anaknya, pasti ada sesuatu. Dan itu cuma Ali yang tau. Bukan begitu Ali??'' tanya Maura pada Ali.


Ali mengangguk, ''Ya, Kakak benar! Kami akan pulang ketika waktu kami di izinkan untuk cuti. Nggak lama lagi. Kita harus segera mengobati Gading. Semua ini demi kesembuhan nya. Aku akan mencari dan menemukan seorang dokter yang mau merawat Gading selama disini. Berapa pun akan aku bayar. Jika menunggu delapan bulan lagi maka penyakit nya akan terlalu parah. Aku akan konsultasi dengan temanku yang seorang dokter spesialis organ dalam di Jakarta. Jika ia mau, aku akan menyuruhnya kesini. Kamu tidak keberatan kan sayang, kalau uang Abang habis untuk mengobati Gading??'' tanya Ali pada Nara.


Nara tersenyum. '' Enggak Abang.. kalau masalah uang, kita bisa cari lagi. Tapi jika Gading tiada karena penyakitnya itu yang akan membuat kita merasa bersalah karena kehilangan nya. Buat apa uang banyak, jika Tidak bisa menyembuhkan! Obati saja. Adek mendukung Abang. Bahaya. Itu saluran air kecil sangat sensitif. Jangan sampai terlambat untuk menanganinya. Jika perlu, biarkan ia dibawa ke Jakarta untuk di obati! Adek akan cuti dari sekolah untuk menemani Gading!'' ucap Nara begitu menggebu-gebu.

__ADS_1


Ali terkekeh, ''Nggak gitu juga kali sayang.. tugas kamu itu sekolah. Jangan pikir kan kesehatan Gading. Biar itu menjadi urusan Abang. Kamu dan keluarga cukup untuk mendoakan Abang saja. Karena doa seorang istri untuk seorang suami lebih cepat makbul nya. Abang percaya itu!''


Nara tersenyum, ''Tentu Abang. Adek akan selalu mendoakan Abang dan juga putra kita. Gading. Untuk kesembuhan nya. Gading??''


Gading menoleh pada ponsel yang Ali pegang. ''Iya Mi?''


''Baik-baik disana ya? Kamu harus nurut kata kedua Papi mu. Papi Ali dan Papi Lana. Kita akan bertemu pada waktu yang tepat. Mami akan mendoakan kesembuhan Gading disini. Semoga putra ganteng Mami cepat sembuh, sehat kembali dan bisa sekolah nanti saat disini. Ya??''


Gading terharu, lagi air mata itu jatuh tanpa di pinta. Gading menangis. ''Huaaa.. Mamiiii...'' pekik Gading di telinga Ali.


Ali sampai meringis menahan sakit di telinga nya. Sedang seluruh keluarga tertawa melihat tingkah Gading putra angkat Ali dan Nara.


''Hadeeuuuhh.. diam ih, sayang! pengangkatan nih kuping Papi!'' kata Ali pada Gading.


Gading berhenti tersedu. ''Maaf Pi. Abang senang banget bisa ketemu Mami. Walau hanya melalui ponsel Papi aja. Abang senang, karena akhirnya Mami bisa menerima Abang. Terimakasih Papi, Mami. Abang Gading beruntung memiliki kalau semua. Huaaa... Abang mau ketemu Mamiiii.. hiks.. hiks..'' sedu sedan Gading semakin menjadi.


Ali sampai kewalahan menanganinya. ''Ini lagi kesenangan atau lagi menangis sih?! Bingung Papi lihatin kamu!'' ledek Ali pura-pura marah pada Gading.


Gading terdiam. Ia menatap sendu pada Ali. Aku tersenyum. ''Huaaaaa... Mamiiii.. Papi nggak sayang Abang lagi... huaaaa... huaaaa...'' pekik Gading semakin menjadi-jadi.


Lana sampai tertawa terbahak di buatnya. Begitu pun dengan seluruh keluarga besar di Medan sana. Mereka pun ikut tertawa melihat tingkah Gading yang begitu mengocok perut mereka sesaat ini


''Sudah, sudah. Ayo, Abang sama Papi. Kamu mau ngomong sama Papi kamu. Kita lihat adek kembar aja ya?'' ucap Lana pada Gading dan membuat bocah kecil itu mengangguk walau masih dengan sesegukan.


Lana membawa Gading menjauh dari Ali. Ia pun tau kalau ipar sekaligus rekannya ini sangat merindukan sang istri. Siapa lagi kalau bukan Kinara. Adik kecil tersayangnya.

__ADS_1


__ADS_2