
Seminggu berlalu sejak kejadian dimana Lana Maura, Nara dan Ali bertandang kerumah Komandan Kevin, dua hari setelah nya mereka sudah kembali lagi untuk bertugas. Dan saat ini pun mereka sedang bertugas ke perbatasan lagi.
Sesuai permintaan dan kesepakatan yang sudah mereka sepakati dua hari yang lalu bersama jendral Sudirman sebelum mereka kali bertugas.
Dan hari ini, Nara sedang bersiap-siap untuk pergi ke taman kota Medan. Kemarin malam Nara mengajak seluruh saudaranya untuk bisa bertamasya bersama setelah sekian lama.
Inginkan mengajak Mami dan Papinya tapi kedua orang itu sedang disibukkan dengan segudang pekerjaan mereka saat ini.
''Nasi, daging ayam, mie hun, sama... ah iya! Puding lumut hehehe .. hampir aja ketinggalan. Kirimin ke Abang ah. Mana tau saat Abang membuka ponsel nanti Abang tau kalau aku sedang bertamasysa bersama kakak-kakak ku! hihihi...'' ucap Nara pada diri sendiri.
Tidak ada orang dirunah itu. Hanya Nara sendiri. Ia tidak merasa takut jika tinggal sendiri. Kadang tidur di rumahnya. Kadang juga menginap di rumah Maura kalau Malda sedang ingin di temani Nara.
Untuk masalah rumah Nara sanggup membersihkan sendiri karena sudah terbiasa sejak tinggal di rumahnya. Rumah Mami Alisa dan Papi Gilang. Bahkan rumah Mami Alisa itu lebih lebar dan luas daripada rumah yang ia tempati saat ini.
''Oke! Cus jalan-jalan! Hihihi.. senang nya.. andai Abang juga disini.. adek kangen sama Abang! Padahal baru aja seminggu kita berpisah! Ck! Hiks.'' Keluh Nara pura-pura menangis padahal tidak mengisi sama sekali.
Ck. Dasar Nara suka sekali mendrama! hadeuuhh.. jikalau ada Ali, sudah habis Nara di goda olehnya. Nara terkekeh geli saat mengenang ke usilan Ali padanya.
Nara berjalan keluar dimana Maura sudah menunggunya dan sedang memanaskan mobil milik Lana.
Tiba di depan Maura, Nara tersenyum. ''Kakak!!'' panggilnya.
Maura menoleh, ''Sudah siap Dek??''
''Sudah Kak. Ini bekal untuk kita nanti!'' Kata Nara sambil menunjukkan bekal itu kepada Maura. Maura tersenyum.
''Oke. Ayo, kita berangkat!''
''Ayo!'' sahut Nara.
__ADS_1
Dengan segera Maura masuk ke pintu kemudi di ikuti oleh Nara yang juga duduk di depan dengan memangku Malda.
Sedang Mbak Sus duduk di deretan kedua. Setelahnya, mobil Pajero milik Lana keluar dari komplek perumahan para tentara.
Selama dalam perjalanan, Malda begitu senang. Ia berceloteh ria disana. Hingga mereka tiba di taman kota Medan.
Turun dari mobil, Malda langsung berlari mengejar sang Kakak yang ternyata sudah berada disana lebih dulu.
''Adek!!''
''Tak Ala! Yee...'' pekik Malda kesenangan ketika Ziara mendekatinya dan memeluk tubuh chubby itu dengan gemas.
Saat ini usia Ziara sudah sembilan tahun. Sudah pandai mengurus adik. Selama ini ia selalu bisa mengurusi ketiga adiknya dibantu Arga juga.
Ada Arga, Rania dan Rasya. Anak kembar Ira dan Ragata. Dan satu lagi, Pangeran Ravendra, anak bungsu kak Ira yang masih berusia satu tahun lima bulan. Maura tersenyum saat melihat putri angkat nya itu begitu akrab dengan kedua keponakan nya. Ziara dan Arga.
''Assalamu'alaikum, Kakak, Abang!'' sapa Maura pada Ira dan Ragata.
''Apa kabar Dek?? Kangen banget kakak sama kalian berdua, hem? Ih, meni geulis pisan euuyy istri komandan Ali???'' goda Kak Ira pada Nara.
Nara tertawa. ''Adek udah cantik dari dulu Kakak! Kakak aja nggak ngeh!'' ucap Nara sedikit sombong.
''Hilih! Kita tunggu saudara kembar mu! Mak labu yang ayu itu begitu membuat kakak kesal! Ada-ada saja keinginan nya! Bang Tama juga! Malah menuruti kemauan nya! Ishh..'' gerutu wanita cantik tertutup niqob itu.
Sementara Sang Suami dan juga kedua adiknya tertawa bersama mendengar gerutuan Kak Ira. Bagaimana tidak, Jika saat ini Annisa sedang hamil tiga bulan.
Buah cintanya dengan Tama setelah berpisah selama empat tahun. Maura salut dengan adik kecil Lana itu.
Di usia muda sudah menikah dan hamil tanpa di dampingi oleh suami. Hebatnya Annisa malah bertahan hingga empat tahun lamanya untuk menyembunyikan identitas kedua anak kembarnya. Bahkan dari Bang Tama sekalipun.
__ADS_1
Ia menutup akses semua itu. Agar keluarga dan sang suami tidak mengetahui fakta yang sebenarnya.
Maura salut akan hal itu. Ia pun turut andil saat membujuk Annisa untuk kembali dengan Tama. Pemuda tampan incaran para gadis haus akan harta.
''Mana nih Mak labu nya?? Belum datang kah??'' tanya Maura pada Kak Ira.
''Kenapa? Siapa yang nyariin Mak labu?? Siapa Mak labu??'' celutuk Annisa dari belakang Maura dan Nara.
Wajah ayu mirip Nara itu pun mendekati kedua saudaranya yang tersenyum melihat kehadiran nya.
''Hehehe.. ya kakak lah! Siapa lagi??'' sahut Nara dengan segera menghambur ke pelukan Kakaknya itu.
''Hem, si kembar beda usia!'' celutuk kak Ira sewot.
Maura tertawa begitu juga dengan Bang Raga. Ia mendekati Bang Tama juga ikut bersama kedua anaknya.
''Apa kabar Bang??''
''Baik, Alhamdulillah.. Abang! Adek! Ishh.. anak itu! Sudah kabur saja! Abang kejar Tania sama Danis dulu! Keburu jauh!'' jawabnya sambil berlari mengejar kedua bocah usil bin rusuh itu.
Maura tertawa lagi saat melihat dari kejauhan jika Bang Tama begitu lelah mengejar bocah nakal anak mereka berdua.
Sementara Annisa? Mak labu itu sedang makan pesanannya pada Kak Ira. Ia duduk santai bersama ketiga anak Kak Ira yang masih bawah lima tahun.
Maura tersenyum lembut melihat ketiga saudara iparnya itu saling lempar canda dan godaan bersama. Sedang Bang Raga, sudah pergi mengejar putra Annisa yang kelewat rusuh itu menuju ke luar taman.
Maura menggeleng kan kepala nya saat melihat Bang Tama begitu kelelahan karena ulah dua bocil rusuh itu. ( Ada di kisah adek Annisa istri kecilku. Tapi belum sampai ke tahap itu ceritanya.)
💕💕💕
__ADS_1
Pantengin terus ye?
Like, komen, kembang, vote dan rate setiap kali kalian singgah di cerita remehan othor ini.