Penantian Kinara

Penantian Kinara
Trauma masa lalu


__ADS_3

"Dengarkan Kinara, Bang Ali! Lihat wajahku! Ini KINARA ZIVANNA! BUKAN TEMAN MASA LALU MU! LIHAT AKU!" ucapnya dengan suara lembut tetapi begitu tegas terdengar.


Spontan saja Ali mengerjabkan matanya. "Sa-sayang? Ka-kamu??"


Kinara tersenyum lembut padanya. "Ya, ini aku. Kinara Zivanna istrimu. Buang rasa takutmu akan pengalaman masa lalu mu itu. Ingat? Ada aku selalu bersama mu. Jangan takut terhadap apapun. Itu cuma masa lalu. Tidak akan pernah kembali lagi. Abang hidup di masa depan. Lupakan kenangan itu. pejamkan kembali mata mu dan ingatlah kejadian saat ini. Dimana kamu dan ke enam anak kita sedang bermain di sebuah taman dan berlarian kesana kemari bercanda bersama dimana seluruh keluarga besar kita sedang berkumpul." Ucap Kinara menatap lekat pada mata Ali yang terpejam.


Ali bisa melihat dan merasakan apa yang Kinara katakan. Senyum manis itu terukir disudut bibirnya yang masih pucat.


Melihat Ali tersenyum, Kinara bernafas lega. Berarti sigesti posistif yang ia katakan berhasil masuk ke dalam pikiran Ali.


"Ingat Bang Ali. Lupakan kejadian yang lalu. Saat ini kamu hidup dimasa kini dan masa depan bersama ke enam anak kita. Jangan pernah takut lagi saat kamu melihat jarum dan benang seperti dirumah sakit kemarin. Ingatlah selalu. Bahwa Kinara mu tidak akan pernah pergi kemana pun. Kami akan tetap bersama mu. Kami tidak akan meninggalkan mu terkecuali karena takdir kita. Takdir kematian. Paham?" imbuh Kinara lagi dan lagi amsih memberikan sugesti posistif untuk Ali.


Ali mengangguk dengan bibir tersenyum manis. Semmua yang melihatnya tertegun. Tetapi tidak dengan Malda.

__ADS_1


Gadis ayu itu tersenyum lembut dan terharu karena untuk kedua kalinya sang Mami berhasil membawa orang-orang yang trauma bisa kembali lagi. Sama sepertinya.


"Sekarang, buka mata Abang dan lihatlah ini!"


Ali membuka matanya perlahan, sontak saja ia terkesiap melihat jarum dan benang di tangan Kinara.


"Masih takut?" tanya KLinara karena tidak melihat tubuh sang suami kembali bergetar.


Ali menatap Kinara yang kini tersenyum lembut padanya. Ali pun membalas senyum itu dan menggeleng.


Semua yang melihatnya bernafas lega. Melihat Ali yang udah kembali seperti biasa, mereka semua bubar dan meninggalkan kedua orang itu.


Malda tersenyum, "Inilah yang dulu pernah Mami Kinara lakukan sama Kakak. Mami selalu memberikan sugesti-sugesti positif hingga trauma itu berangsur sembuh hanya dalam waktu singkat. Tetapi ya.. Seperti yang Papi Ali tadi bilang. Kalau kami harus membiasakan diri dengan hal itu dan harus selalu dibiasakan," ujar Malda dan diangguki semua orang.

__ADS_1


Tetapi tidak dengan Maura. Wanita itu kini menunduk dan melamun. Ternyata perbuatannya dulu begitu melukai Malda sampai-sampai putri sulungnya itu trauma berat.


Beruntungnya Maura, Kinara mau mengurusi rasa trauma Malda yang pada saat itu begitu parah. Hingga saat ini, lidahnya terasa kelu untuk meminta maaf pada Malda atas kesalahan yang ia lakukan enam tahun silam hingga mengakibatkan trauma untup putri sulungnya itu.


Malda tersenyum melihat Maura. "Mami..."


Deg!


"Ya Nak? Kamu butuh sesuatu??"


Malda menggeleng, ia mengusap air mata yang terus bercucuran di pipi Maura. "Jangan menangis.. Semua itu hanya masa lalu. Kaak udah nggak gitu lagi kok. Mari kita hidup bersama sebagai ibu dan anak. Walau Mami bukanlah Mami kandungku, tetapi Kakak tetap menganggap Mami Maura sebagai Mami kandung kakak. Begitu pun dengan Mami Kinara. Kalian berdua itu sama posisinya." ujarnya membuat Maura semakin tersedu.


"Maafin Mami, Nak.. Maafin Mami.." bisiknyas di telinga Malda dan diangguki oleh Putri sulungnya itu.

__ADS_1


Kini, semua masalah telah usai. Tinggal menunggu hari aqiqahan baby twins Kinara dan Ali.


__ADS_2