
Dua jam lebih perjalanan Jakarta menuju Bandung melalui rute Jakarta-Bandung yang Abi Husen lalui melewati jalan tol. Hingga hanya membutuhkan waktu dua jam lebih lima belas menit saja.
Kini mereka tiba di kediaman Abi Husen. Didepan pintu rumah Abi Husen sudah menunggu Ummi Siti dan kedua adik Ali.
"Assalamualaikum Ummi.." sapa Ali pada Ummi Siti yang kini menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Ali tersenyum lembut pada wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu. "Waa'alaikum salam, Nak? Apa kabar?? Sehat? Ih meni kasep pisannya?" ucap Ibu Siti sambil mencium kening Ali dan memeluk erat tubuh Ali yang tertawa di puji oleh ibu Siti.
"Aih? Menantu Ummi saha'? tanya Ummi Siti lagi. Ali tersenyum.
"Ada Ummi.. Menantu Ummi mabuk pesawat. Tuh, orangnya!" tunjuk Ali pada Kinara yang saat ini masih saja terbaring dengan nyamannya.
Ummi Siti terkekeh, "Ya sudah, bawa masuk menantu Ummi. Bawa kembali ke kamarmu. Biarkan ia istirahat terlebih dahulu. Gading?" panggil Ummi Siti pada Gading
"Iya nek. Ayo! Abang pun ingin ngomong sama Nenek!" sahut Gading dengan segera memegang tangan ummi Siti dan menggamitnya menuju dapur mereka. Abi Husen tertawa melihat tingkah Gading yang tidak pernah berubah sama sekali. Masih sama. Menggemaskan dan sangat pengertian.
Delia adik kedua Ali segera menarik koper pengantin usang rasa baru itu menuju ke kamar mereka.
Begitu pun dengan Ali. Ia menggendong Kinara kembali seperti saat di bandara tadi untuk menuju kamarnya. Tiba di kamar, Ali segera membaringkan tubuh lemah Kinara di ranjang Kingsize miliknya yang dulu pernah di tempati Nara saat menjemput Gading ke Jakarta.
Pelan tapi pasti tubuh lemas sang istri ia bringin di ranjang. Kemudian ia membuka hijab, baju Nara serta kaos kaki yang menutupi kaki jenjangnya.
Ali tersenyum. ''Tidurlah. Abang mau keluar sebentar ngobrol sama ummi dan Abi. Cup.'' Ali mengecup kening Nara dan berlalu keluar dari kamarnya. Sedang Nara tidak juga sadar. Ia sangat lelah. Lelah hati dan pikiran.
Satu jam kemudian Ali masuk kembali ke kamarnya. Ia membuka bajunya dan juga celana jeans nya. Kemudian bergabung dengan sang istri yang begitu damai dalam tidurnya.
Setelah melakukan sholat dhuhur berjamaah di mesjid komplek perumahan Abi Husen, Ali langsung masuk ke kamar tanpa makan siang terlebih dahulu.
Ia ingin menemani Kinara. Begitu katanya pada Abi Husen tadi. Dan beliau memaklumi nya.
''Hemmm... hooaamm.. Abang pun ngantuk Sayang. Hemm..'' lirih Ali sambil menguap dan membawa Kinara ke dalam pelukan hangatnya.
__ADS_1
Sepanjang pengantin berwarna usang rasa baru itu terlelap hingga sore hari. Waktu ashar sudah terlewat tiga puluh menit yang lalu. Kinara menggiatkan tubuhnya saat menyadari jika jantung kemihnya terasa penuh.
''Egghh..jama berapa ini? Sssttt.. kebelet banget sih?'' gerutu Kinara pada tubuhnya.
Dengan kepala yang masih pusing Kinara memaksakan diri untuk bangun. Tanpa berpikir jika tubuhnya itu hanya menggunakan kaca mata kuda dan CD saja ia berlenggang masuk ke kamar mandi.
Bertepatan dengan Ali pun mengerjab. Ia pun bangkit menyesuaikan diri yang masih mengantuk. Dirasa cukup, Ali melirik jam
''Jam Empat lewat lewat sepuluh? Hemm .. Lama juga ternyata Kami tidur? Hemm.. mandi dan sholat dululah. Bawa handuk sekalian. Hoaammm..'' gumam Ali masih dengan menguap karena mengantuk.
Tiba di kamar mandi ternyata Kinara masih terduduk di kloset dengan mata terpejam sedang CD yang turun ke betis.
Ali terkekeh, ''Ngantuk banget ya? Sayang? Bangun? Kamu udah bolong sholat dhuhur disambung ashar loh..'' ucap Ali di depan Nara.
Mata Nara mengerjab. ''Hem.. Ngantuk Abang.. nggak tau ini mata kayak lem sedari tadi saat kita di bandara?'' jawab Kinara saat ini menatap Ali dengan mata sayu nya.
Ali terkekeh, ''Kita mandi ya? Air dingin. Buat tubuh kamu seger lagi. Entar malam Abang pijat kamu. Ayo, ummi dan Abi sedari tadi sudah nungguin kamu. Masa' iya menantunya molor terus sedari tiba hingga sore hari??'' goda Ali pada Kinara
Membuat Kinara melototkan matanya. .''Abi! Ummi! Astaghfirullah!!! Kenapa Abang nggak bangunin sih?!'' ucap Kinara sedikit kesal pada Ali.
''Ya... tapi kan nggak sampai sore juga Bang? Ishh.. maluuuu...'' rengek Kinara sembari tangan menghidupkan kran air dingin dan mereka berdua mandi bersama.
Mereka mandi bersama dengan saling menyambung tubuh secara bergantian. Cukup lima belas menit, ritual mandi selesai. Mereka berwudhu untuk sholat ashar terlebih dahulu sebelum bertemu Abi Husen dan Ummi Siti.
Pukul Lima lewat lima baru Kinara keluar. Ia langsung saja menuju pondok di belakang rumah Ali yang kini banyak ditanami sayuran seperti ia datangi dulu.
Nara berjalan cepat saat mendengar gelka tawa dari Abi Husen, Ummi Siti dan ketika aduk Ali. Nara tersenyum saat melihat sang pelaku pembuat mereka berlima tertawa. Siapa lagi kalau bukan Gading.
Nara terkekeh kecil saat mendengar lelucon Gading. ''Assalamu'alaikum Abi.. Ummi...'' sapa Nara pada kedua orang tuanya Ali itu.
Semua yang disana menoleh. Semuanya tersenyum hangat padanya. ''Waalaikum salam mantu Abi dan Ummi..'' sahut Abi Husen dan ummi Siti.
__ADS_1
Kinara tertawa. Ia mendekati paruh baya itu dan mengecup takzim kedua tangan yang telah membesarkan Ali dua puluh delapan tahun yang lalu itu.
Ummi Siti memeluk Kinara bersama dengan Abi Husen. ''Ksngen banget sama Ummi.. Abi... hiks ..'' Kinara terisak.
Abi Husen tertawa. Ummi Siti terkejut, ia mengurai pelukannya dan melihat Nara dengan serius. ''Katakan! Apa bocah ummi itu menyakiti kamu?''
Ali yang baru tiba pun terkejut. ''Eh? Kapan Aa' menyakiti Nara, Ummi?'' tanya Ali dengan wajah bingungnya.
Ketiga adik Ali tertawa. Gading terkekeh. Entah apa yang ia kekehkan. Yang jelas, terkekeh saja itu yang ia tau.
Kinara semakin terisak. Entah kenapa hatinya begitu ingin menangis. Sejak di bandara Kuala namu ia menahannya hingga saat ini pecahlsg sudah saat melihat ummi Siti dan Abi Husen menyambutnya dengan hangat.
''Ali???? Bisa kamu jelaskan?!'' tanya ummi Siti pada Ali dengan mata menatap tajam pada Ali.
Ali kebingungan. ''Aa' Mi? Kapan? Nggak ada ah! Mana ada Aa' nyakitin istri Aa' sendiri? Ummi ngacok ah!'' bantah Ali.
Ia tidak terima dituduh menyakiti sang istri yang sangat ia cintai dan sangat ia sayangi. ''Lah terus, kenapa mantu Ummi menangis kayak gini? Kalau bukan kamu penyebab nya lalu siapa lagi? Ku kan suaminya?''
Ali memutar bola mata malas. Abi Husen terkekeh, ''Nggak gitu Ummi. Mungkin istri Aa lagi lapar. Sedari pulang tadi belum makan loh.. Nara sekarang keseringan makan. Sudah satu Minggu ini ia banyak makan. Tengah malam selalu saja lapar. Mungkin karena itu ummi.'' Jelas Ali membuat Ummi Siti menatap Kinara dengan dalam.
💕💕💕💕
Masih ada lagi. Tungguin ye?
Sambilan nunggu cerita ini update, mampir dulu yuk di karya temen othor yang satu ini.
Judul karya : After one night mistake
By author : Alya Aziz
__ADS_1
Noh, cus kepoin!
Like, komen dan kembang setiap bab ye?