
Sekuat-kuatnya wanita, ia pastilah terluka saat mengetahui jika sang suami pergi meninggalkan nya dan hanya menitipkan sesuatu yang sangat berharga.
Jika dibandingkan dengan harta, Ali lah yang lebih penting menurut Kinara. Tetapi tidak ali. Ia lebih memikirkan hidup sang istri dan putra angkatnya akan seperti apa tanpa nya.
Jauh sebelum kejadian dihari itu terjadi, ia sudah memikirkan hal ini. Ali sudah merasakan firasat buruk saat beberapa bulan sebelum ia kembali ke Medan.
Semua itu sudah terpikirkn olehnya tentang masalahh itu. Maka dari itu saat pihak toko mengabarkan perhiasan tempahan Ali sudah siap, Ali memintanya untuk di kirim ke Papua.
Dan untuk di kirim ke Papua pun, yang tidak sedikit. Karena perhiasan itu bukanlah periasn seperti biasanya.
Tetapi itu berlian asli. Dan Ppai Gilang tau itu. Ia semapt menebak jika perhiasan itu milik Kinara.
Tetapi ketika melihat nota pembelian bertuliskan nama Jaber al Bashri. Papi Gilang sedikit curiga jika itu adalah Ali.
Dan benar saja, jika itu adalah Ali. Papi Gilang baru tau saat ini. Saat ia membaca surat yang diberikan oleh Ali di dalam kotak beludru itu.
__ADS_1
Belum lagi jam tangan yang pernah Kinara belikan untuknya saat mereka dulu ke Jakarta, jam tangan itulah yang Ali kenakan saat dirinya berangkat ke Papua.
Tapi sekarang jam itu telah menjadi kenangan karena Ali melepaskan semua yang tersisa di tubuhnya saat dirinya jatuh ke dalam laut yang tak berdasar di Papua sana.
Kinara yang sudah berhenti menangis, segera mengusap seluruh wajahnya dengan tangan dan juga hijab instannya.
Dengan wajah sembab Kinara menoleh pada Papi Gilang yang kini sedang menatapnya dengan tatapan yang entah seperti apa.
"Pegang perhiasan beserta suratnya, pi. Adek ingin gadaikan perhiasan ini sama papi. Seperti kata Bang Ali. Bang Ali ingin perhiasan itu tetap di tangan Papi tetapi gantinya berikan adek uang untuk bisa membuka usaha. Abang sudah berpesan sama adek. Perhiasan itu adek gadai. Bukan adek jual. Karena perhiasan itu merupakan mahar dari bang Ali untuk adek yang dulunya tidak karena perhiasan ini butuh waktu untuk di tempah. Dan sekarang, adek serahkan sama Papi. Papi simpan. Katakan saja pada Mami yang sebenarnya." Ucap Kinara setelah lama mereka terdiam.
"Kalau maslah uang, Papi bisa memberikan nya padamu, nak. Sebutkan saja berapa yang kamu butuhkan pati akan Papi beriakn."
Papi Gilang tertegun sejenak. Setelahnya pria paruh baya itu tersenyum dan mengusap kepala Kinara.
"Baiklah jika itu yang menjadi keputusan mu. Pegang saja dulu perhiasan ini. Selama mertua kamu disini. Maka selama itu juag kami akan menginap disini. Nanti ketika Papi pulang, akan Papi ambil perhiasan mu untuk Papi simpan diberangkas keluarga kita. Kira-kira kamu ingin buka usaha apa Nak?"
__ADS_1
Kinaar menerawang jauh ke depan. Ia menginagt jika di komplek perumahahn tentara ini belum ada swalayan lengkap.
Dulu, Ali dan Kinara pernah tercetuskan ide itu. Ada tanah kosong di ujung dekat rumah Lana.
Tanah itu begitu luas sanagt pas untuk pembanguann swalayan itu.Kinaar tersenyum saat memikirkan ide nya itu.
"Besok pagi, kita jalan berdua saja ya? Berjalan kaki saja. Nanti akan adek tunjukkan dan adek katakan sama Papi usaha apa yang akan adek rintis.
Papi Gilang tersenyum, "Oke! Untuk malam ini, istirahat saja dulu. Ayo, nanti Mami dan mertua kamu kebingunagn mencari keberadaan kamu,"
Kinara mengangguk, ia bangkit dan menuju westafel yang ada di dapur untuk mencuci wajah nya agar tidak terlihat sembab.
"Sudah," ucap Kinara dengan segera membawa ransel itu kembali yang di ikuti oleh Papi Gilang di belakang nya.
Mereka berdua pun berpisah saat berada di ruang tamu. Karena semua lelaki masih berkumpul disana.
__ADS_1
Sedangkan Kinara segera masuk ke kamar nya dan meletakkan ransel dan perhiasan Ali, ia letakkan di dalam lemari.
Mulai malam ini ia harus bangkit. Ia harus bisa berdiri sendiri tanap bantuan oarnag lain. Segala sesutunay ia akan belajar banayk dari Papi Gialng yang memang seorang pengusaha dan juag Mami Alisa.