
Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 siang. Saat ini ke tujuh orang dewasa itu sedang makan siang bersama. Tidak ada Mak Alisa dan Papi Gilang disana.
Dua paruh baya itu sedang sibuk dengan usaha mereka yang tersebar dimana-mana. Mak Alisa selalu mengikuti kemana pun Papi Gilang pergi. Karena itu adalah keinginan nya.
''Papi dan Mami kapan pulang Kak??'' tanya Nara pada kedua kakak nya.
Annisa terkekeh begitu juga dengan Ira. ''Kamu seperti tidak tau saja dengan kedua orang tua kita itu. Walau sudah tua, tapi mereka itu sangat hobi berbulan madu. Tiap hari dan tiap bulan malahan. Terkadang Kakak bingung dengan Mak? Kok mau sih di kibulin sama Papi terus??''
Nara, Annisa, Bang Tama dan Bang Raga tertawa mendengar ucapan Kak Ira. ''Huss.. kamu Dek! Nggak boleh ngomong gitu. Begitu pun mereka itu kedua orang tua kita! Maklumin ajalah.. mereka itu 'kan pasangan beda usia?? Sama seperti Abang dan Annisa??''
Lagi, tiga bersaudara itu tertawa bersama. ''Kalian ini ya! Suka banget sih ngatain Mak saat nggak ada? Giliran orangnya ada, kalian malah langsung kicep!'' celutuk Bang Ragata.
Annisa tertawa lagi. ''Ya iyalah Abang! 'Kan kalau ada Mak, pasti ada pawangnya! Ya mana berani kita ngomong kayak gini? Takut di semprot pawang Mak, bisa habis kita semua! Abang kayak nggak tau aja Pawangnya Mak itu kayak apa? Galak dan Posesif!''
Buahahaha...
Tiga bersaudara itu tertawa lagi. ''Hooh bener! Tapi walaupun begitu, Papi itu Sangat penyayang orangnya. Terbukti, ketika kakak jauh dari bang Tama aja beliau selalu meletakkan satu orang mata-mata nya untuk mengawasi kakak! Begitu juga dengan Rahasia ku ini! Tapi sayang nya, mereka tidak tau, jika kakak menyembunyikan harta Karun milik bang Tama selama empat tahun lama nya. Gimana? Hebat kan??'' tanya Annisa dengan menggerakkan alisnya naik turun menggoda kakak dan adiknya.
Ira mencebik. ''Hilih! Itu bukan hebat namanya! Dasar kamu nya yang tidak jelas! Tidak tetap pendirian nya! Bisa-bisa nya kamu menuduh Abang kayak gitu!'' sewot Kak Ira.
Annisa manyun. Bang Tama terkekeh, begitu juga dengan Maura dan Nara. ''Hehehe.. jangan manyun ih! Mau di gigit lebah kepala hitam?!'' celutuk Nara saat melihat mulut Annisa manyun kayak bebek.
''Hah?!'' ucap ke lima orang itu.
__ADS_1
''Hahaha...'' Maura tertawa terbahak bahak saat mengingat ucapan itu di tujukan untuk Nara saat mereka menikah sebulan yang lalu.
''Hahaha.. lebah kepala hitam?? Hahaha.. tapi kamu sudah puas kan selama ini di hisap madu mu oleh lebah kepala hitam yang berstatus suami mu itu??'' goda Maura pada Nara. Nara melotot.
Plaakk..
Nara memukul ringan lengan Maura karena merasa malu.
Buhahahaha..
Lagi Maura tertawa terbahak saat melihat wajah malu Nara begitu terlihat. Annisa dan Bang Tama pun ikut tertawa setelah tau apa arti lebah kepala hitam itu.
Sedangkan Kak Ira dan bang Raga mereka berdua terkekeh kecil saat menyadari ucapan Maura benar adanya.
Plakk..
Lagi, Nara menepuk ringan lengan Maura.
''Kakak ih! Seneng banget sih, godain aku terus?? Ih, sebel!'' ucap Nara cemberut.
Maura semakin tertawa melihat wajah Nara bersemu merah. Annisa pun ikut menggoda adik kecilnya itu.
''Hahaha.. ternyata adek ku ini sudah pernah merasakan hisapan lebah kepala hitam ya? Gimana? mau lagi? Atau mau nambah??''
__ADS_1
Plakk..
Buhahahaha...
Semua yang ada disana, puas sekali bisa menggoda Nara. Adik kecil mereka. Jika ada Rayyan, pastilah lebih seru lagi. Pemuda tampan mirip Papi Gilang itu sedang berusaha memulihkan hatinya yang patah akibat di tinggal sang istri empat tahun yang lalu.
Dan saat ini pun, pemuda tampan tapi perjaka itu sedang kuliah di Bandung. Sebulan yang lalu, ia kembali karena harus menghadiri pernikahan Abangnya. Maulana.
''Hemm.. kangen sama Abang. Abang betah banget ya kuliah di Bandung? Padahal disini kan juga banyak tempat kuliah??'' kata Nara pada kedua saudaranya.
Maura mengelus tangan Nara untuk menguatkan. ''Sabar Dek.. Rayyan kesana pun bukan main-main. Dia kesana menuntut ilmu. Sampai kedua anak kembarnya dengan mendiang Zahra pun ikut ia bawa. Kakak salut padanya. Sudah empat tahun berlalu, tapi ia masih betah sendiri. Entah mungkin karena cintanya kepada almarhumah Zahra begitu dalam, hingga sulit untuk melupakan nya. Kakak hanya bisa berdoa untuknya. Semoga ia mendapatkan pengganti yang sama persis di dunia ini seperti Zahra.''
''Amiin...'' jawab mereka semua
Memang benar, jika diantara saudaranya yang lain, Rayyan lah yang lebih tragis hidupnya. Ia harus menerima keputusan takdir, saat Zahra berpulang ke pangkuan Allah di umur yang sangat muda dan meninggalkan dua orang anak dari pernikahan mereka.
Takdir tidak ada yang tau. Akan tetapi nasib?? Nasib bisa dirubah. Ada yang bisa mengubah takdir, yaitu berdoa.
Hanya doa yang bisa mengubah takdir kita. Othor sendiri saksi nyata dari takdir. Mungkin sekarang semesta sedang menempah Rayyan menjadi yang terbaik, agar kelak bisa bertemu dengan seseorang titisan Zahra dimasa depan.
Semoga saja.
💕💕💕💕
__ADS_1
Kalau kalian udah pernah baca ini di lapak bang Lana, scroll aja. Kalau belum silahkan nikmati! 😁😁