
"Itu bekas luka baru saat di Arab saudi, bersabarlah. Akan sampai ke tahap itu." imbuhnya pada Kinara yang masih membeku melihat bekas luka di punggung Ali.
Kinara hanya bisa menahan sesak di dada. Ternyata suaminya sangat menderita selama enam tahun ini. Maih syukur ia bisa pulang dengan selamat. Begitu pikir Kinara.
"Di pikiran saya saat itu hanya satu. Yaitu jatuh ke dasar laut, tenggelam dan mati!"
Deg!
Deg!
Kinara memejamkan kedua matanya saat tangan Ali semakin bertaut di kedua tangannya.
Sesak sekali.
"Tetapi tidak. Saya masih hidup. Yang saya pikirkan saat itu ialah istri kecil saya ini. Belum lagi seluruh keluarga saya yang di Bandung sana. Mereka pasti akan sangat terpukul mendengar berita jika saya sudah tewas dan menghilang."
__ADS_1
Hening.
Hanya terdengar deru nafas dari semua orang saja.
"Satu keyakinan saya saat itu. Kinara." Ali menoleh pada Kinara yang kini sedang menatapnya dengan tatapan kosongnya.
"Kinara pernah berjanji akan menunggu saya pulang walau sampai kapanpun. Ingin saya berteriak saat ini, tetapi lidah saya terasa kelu. Ternayta, duri yang menancap di seluruh tubuh saya itu berbisa dan membuat seluruh tubuh mati rasa dalam sekejab. Tetapi saya tetap menguatkan diri agar bisa menuliskan sepucuk surat untuk istri saya berharap, jika nanti ada yang mencari saya, mereka pasti akan menemukan surat peninggalan saya beserta dengan sebuah kotak beludru berwarna dongker yang sengaja saya titipkan untuk Kinara, istri saya."
Kinara masih ingat dengan isi surat itu.
"Selesai dengan surat itu, saya meletakkan nya di dalam kotak beludru itu. Dan tanpa saya tau, pohon tempat tubuh saya bertahan patah seketika dan saya tidak bisa menyelamatkan diri lagi. Padahal saat itu, saya bisa mendengar Bang Lana dan Fathir berteriak meraung memanggil nama saya. Tetapi tidak bisa bertahan lagi."
"Tubuh ini jatuh ke bawah seiring dengan cabang kayu yang patah membawa serta tubuh saya. Saya hanya bisa pasrah. Teringat kotak surat masih berada di tangan saya, maka saya buang itu semampu saya. Serta jam tangan yang saya kenakan saya buang juga. Karena disitu berisi petujuk dan hanya putra saya yang tau. Gading!"
Kinara dan semua oarng terkejut mendengar ucapan Ali. Tetapi tidak ingin menyela karena masih ingin mendengar lanjutan dari cerita Ali yang sangat ingin untuk mereka dengar.
__ADS_1
"Tubuh saya jatuh berguling dan berapa kali bertabrakan dengan dahan lainnya. Sangat sakit. Saya pasrah pada sat itu. Hingga diri ini merasa melayang di udara dan terjebur ke dalam laut yang tak berdasar. Saya hanya bisa melihat tanpa bersaura jika istri saya sedang menangis dan meraung memanggil nama saya sebelum mata ini tertutup." Lanjutnya lagi
Kinara semakin sesak dadanya saat Ali menceritakan bagian itu. Karena dirinya lah yang sangat tau seperti apa Ali saat itu melalui pandangan mata terpejamnya.
Seakan pikiran keduanya terhubung saat itu.
"Kehidupan saya tidak sampai disitu saja. Saat saya merasa pasrah karena saluran pernafasan di penuhi dengan air laut yang begitu asin dan agak pahit, saya mendengar suara seseorang."
Semuanya saling pandang.
"Suara seseorang itu begitujelas di telinga saya yang mata sudah terpejam erat dan tubuh saya semakin jauh masuk ke dasar laut. Saat itu suara itu mengatakan, saya tidak boleh mati dulu. Dan saya harus menolong seseorang. Hidup saya masih panjang dan juga anak dan istri saya menunggu saya. Saya spontan saja membuka kedua mata saya di dalam air laut yang begitu gelap itu. Tetapi tidak. Semuanya terlihat begitu terang dan seolah tubuh ini di tuntun ke arah cahaya itu."
"Saya kaget melihat sosok seorang perwira sedang melambai pada saya sambil meminta tolong. Tetapi beliau tidak bisa mendekati saya. Istri beliau ada disana tetapi ia tidak bisa melihatnya."
Ali menoleh pada dua orang yang kini sedang menatap nya dengan bibir tersenyum tetapi berbalut sendu.
__ADS_1