
Semua yang ada disana mendengar serentetan ucapan Annisa menjadi tersedu. Apalagi Lana, ia sampai merosot terduduk di bawah kursi karena mendengar segala kemarahan adiknya, Annisa.
Gadis kecil yang dulu sering di ayun hingga sering di timang olehnya kini dengan beraninya ia menyindir Lana habis-habisan.
Bukan menyindir, tetapi menegur. Lana tau itu. Tetapi apa yang harus ia perbuat? Istri nya pun sama seperti Kinara saat ini.
Sedang hamil. Bahkan mungkin kehamilan mereka sama saat ini. Tetapi karena belum di periksa, mereka belum tau pasti berapa usia kehamilan kedua wanita yang begitu ia sayangi itu.
Lana tau, ia salah. Tetapi ia tidak bisa mengabaikan Maura yang sering menangis karena merindukan dirinya.
Lana lupa. Bahkan Kinara lebih sedih lagi hidupnya. Selama hampir satu bulan ia selalu bermimpi buruk tentang suami nya yang sedang bertugas.
"Hiks.. Maafkan Abang, dek.. Maaf.. Tetapi kakak mu saat itu begitu sedih karena merindukan Abang, jadi Abang-,"
"Wooahh.. Kesedihan hati istrimu yang menangis tiap malam bisa kamu lihat ya Bang MAULANA AKBAR?!!! Lalu, bagaimana dengan Kinara yang selama sebulan ini selalu memimpikan suami nya yang tenggelam ke dasar laut sementara tidak ada satu pun yang bisa menolongnya?! Tidakkah kamu lihat perbedaan istrimu dan juga adikmu?! Mana yang lebih berisi diantara mereka berdua?!"
Deg!
__ADS_1
Lana tersentak. Ia menatap pada seluruh tubuh Kinara. Benar. Tubuh itu begitu kurus saat terakhir kali ia melihatnya dua bulan yang lalu sebelum kembali bertugas.
Sementara Istrinya?
"Kenapa? Gemuk istri kamu dibanding adik kecil kamu?! Baru sadar kamu?!" ketus Annisa masih dengan suara meninggi
Kinara masih setia memeluk tubuh Annisa yang saat ini juga memeluknya dengan erat. "Apa yang dialami oleh istri kamu tidak sebanding dengan penderitaan Kinara selama hampir tiga bulan ini. Istri kamu masih bisa makan dengan lahap saat Mak mengantar makanan kerumah mu. tetapi Kinara? Jangankan makan, Minum pun ia tidak bisa. Tubuhnya begitu kurus hanya tinggal tulang dan kulit! Masih ingin kamu mengelak?! Huh?!!! Kamu egois Bang Lana! Aku sangat membenci saudara sepertimu yang tidak pernah bisa adil terhadap saudaranya yang lain!"
"Benar kata orang. Jika saudara kita sudah berumah tangga baik itu lelaki atau perempuan, pastilah mereka lebih mengutamakan keluarga mereka dibandingakn saudaranya yang sedang tertimpa musibah! Aku harap, kamu bisa merasakan apa yang Kinara rasakan Kakak ipar! Mungkin tidak sekarang. Tetapi suatu saat nanti! Dan disaat itu terjadi, tidak akan ada saudara yang akan menemanimu selain Kinara dan juga keluarga kecilnya!"
Semuanya terhenyak. "Dan untuk kamu Bang Lana, setelah ini jangan lagi mengurusi saudara-sandaramu yang lain! Urus saja keluarga kecil kamu bersama istri kamu. Karena kamu merasa cukup dengan keluarga kamu dan kamu membuang kami yang lebih dekat dengan mu!"
Deg!
"Istri bisa putus. Tetapi saudara tidak pernah bisa putus walau apa pun yang terjadi. Tak akan putus air di cincang! Kamu akan menyesal suatu saat nanti bang Lana! Dan disaat penyesalan itu datang. Kami semua sudah tidak ada lagi disamping mu!"
Deg!"
__ADS_1
"Bukan sekali dua kali kamu melakukan hal ini. Sudah berulang kali kamu melakukannya bang Lana! Setiap kali kamu pulang bertugas pastilah Maura, Maura dan Maura yang ingin kamu temui! Tidak dengan kami, saudara kandung mu. Kadang aku merasa.. Jika istri mu itu sengaja membuat kami menjauh darimu? Ia hanya ingin dirinya saja yang kamu lihat? Tetapi kami tidak? Cih! Seorang istri yang sengaja memutuskan tali persaudararan suami nya akan mendapatkan siksa neraka! Walaupun ia seorang wanita salihah sekalipun!"
Dddduuuuuaaaarrrrrrr..
Tersentak Maura mendengarnya. Ia menatap nanar pada Annisa dan Kinara yang masih saling berpelukan.
"Dan untuk kamu, dek! Jangan bergantung kepada siapa pun tentang kehamilan kamu ini! Kakak pun pernah sama di posisimu. Bahkan sampai empat tahun lamanya. Tetapi kakak tidak pernah sekalipun melupakan kalian adik-adik kakak. Belum lagi tiga adik ku yang lainnya. Mereka bahkan sampai saat ini sangat ingin tinggal bersama ku. Karena apa? Karena aku lain. Tetapi berbeda dengan mu. Yang lebih mementingkan istrimu dan melupakan seluruh saudaramu yang lain yang se ayah dan se ibu dengan mu. Kecewa! Aku sangat kecewa dengan mu Bang Lana! Sangat kecewa..." lirih Annisa dengan suara yang begitu lirih
Maura menangis dalam diam. Sedangkan Lana kini semakin tersedu. Karena semua perkataan Annisa itu memang benar adanya.
Setiap kali pulang bertugas bukanlah saudara yang ingin ia temui. Tetapi calon istrinya.
Ia bisa berkunjung lama-lama kerumah calon istrinya. Tetapi tidak sekalipun Lana sering mengunjungi adiknya yang saat itu berada di pesantren.
Salah satunya Annisa. Kinara dan Algi apalagi. Jika anak Ayah Emil yang lainnya, tidak pernah sekalipun ia menanyakan kabar apa lagi menjenguknya.
Hanya Annisa dan Kak Ira saja yang sering berkomunikasi dengan tiga adiknya yang lain itu.
__ADS_1