
Ali mulai lagi bergerak di setiap inci tubuh sang istri. Kinara yang tadinya tegang kini mulai rileks lagi. ''Rileks.. Abang nggak akan gigit kok. Cuma makan dikit doang!''
Plakk..
Ali tertawa. Ia sangat suka menggoda Kinara. Tangan kekar itu terus saja membelai dan menyentuh apapun yang ia jumpai. Kini, Kinara sudah tidak bisa mendengar apapun lagi.
Jiwa dan raga nya seakan terbang melayang ke awan dikala sentuhan lembut itu menyentuh setiap inci tubuh halusnya.
Ughhh..
Suara pertama Kinara setelah sekian lama tidak menyentuh nya. Terakhir sebelum Ali kembali bertugas dulunya.
''Emmm...'' gumaman halus itu terus terdengar di telinga Ali. Ali semakin semangat untuk membuka tanggul surga miliknya. Ia tidak ingin gagal lagi setelah dulu menahannya hingga setahun.
Sekilas bayangan tentang mimpi itu hadir, Ali berhenti. Namun, hanya sebentar. Ia kembali fokus untuk menyentuh dan membelai lembut sang istri.
Mereka berkelana kemana-mana. Merambat ke gunung, mendaki lembah hingga Ali menemukan tanggul surga miliknya. Kinara malu. Wajah itu merona.
Ali terkekeh. Ia memulai menyatukan dua tubuh yang sudah terbuka itu. Masih di ruang tamu Ali mencoba untuk membuka tanggul itu. Namun, sayang. Belum lagi masuk, Kinara sudah memekik sakit.
Ali berhenti. ''Ya sudah nggak usah saja ya? Malam besok saja. Kasihan kamunya! Besar banget ya pisang raja kamu??'' Kinara menepuk lembut dada bidang yang selalu membuatnya hangat itu.
Ali terkekeh. Ia ingin duduk tapi Kinara melarangnya. ''Jangan disini. Malu... dikamar kita aja ya? Abang belum nunjukin loh sama aku kayak apa kamar tidur kita??'' goda Nara pada sang suami.
Ali tergelak keras. ''Pantas saja kamu menjerit seperti itu? Ternyata... Haha.. kamu ingin di kamar kita?? Tidak ingin disini kah? Kan gorden jendela nya udah di tutup rapat? Siapa yang mau lihat coba??'' kata Ali masih dengan tertawa nya.
Kinara tersipu malu. ''Orang itu kalau bermalam pengantin di kamar loh Abang! Masa' iya kita diruang tamu?? Jangan ngikutin bang Lana ah! Adek nggak suka! Kita kan punya kamar tempat kita berbagi??'' goda Kinara dengan mengedip-ngeduokan matanya pada Ali.
__ADS_1
Ali tertawa lagi. Ia begitu gemas dengan istri kecilnya ini. ''Baiklah permaisuri ku.. kita akan ke kamar! Tutupi dengan ini tubuh kita berdua,''
Kinara mengangguk, dengan segera ia membelitkan kain panjang di tubuh mereka berdua. Ali menggendong Kinara ala bridal style.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka. Mulut Kinara ternganga kala melihat ruangan kamarnya begitu cantik saat ini. Persis seperti kamar Mami Alisa dulu saat mereka menikah.
''I-ini seperti kamar Mami dulu??? Dari mana Abang tau dekorasi kamar ini??'' tanya Kinara masih dalam gendongan Ali.
Ali tersenyum, ''Abang pernah melihat foto Papi dan Mami saat di kamar mereka. Sangat cantik. Tapi sayangnya foto itu menunjukkan Mami kita nggak pakai hijab. Persis seperti kamu saat ini. Rekaman video itu sengaja Abang ambil dari ponsel Papi dulu. Hehehe.. maaf sayang.. Abang tau. Kamu sangat ingin memiliki kamar pengantin seperti punya kedua orang tua mu. Maka dari itu Abang sengaja memanggil khusus pendekorasi kamar pengantin dan ruang tamu kita. Sama persis seperti punya Papi dulunya. Gimana?? Suka nggak sama kejutan Abang??'' tanya Ali sembari meletakkan tubuh Nara diranjang king size miliknya.
Kinara tersenyum dan mengangguk. ''Tentu. Adek menyukai kamar ini. Bahkan sangat suka. Terimakasih Bang. Cup!''
Kinara mulai duluan. Ia mulai memaguut dan mengecup putik merah ibu milik sang suami yang sedang tersenyum melihat nya. Semakin lama semakin menuntut.
Kinara tidak mengizinkan Ali untuk bergerak sedikitpun. Kedua kakinya membelit tubuh sang komandan dengan erat.
Sekali.
Aarrgghhtt..
Pekikan Nara terdengar mendayu di telinganya.
Dua kali.
Kinara semakin meringis.
__ADS_1
Tiga kali.
Masih meringis.
Empat kali.
Kinara menahan nafasnya dengan menggigit bibirnya. Ali kasihan melihatnya. Ingin berhenti tapi kepalang tanggung.
Terakhir.
Blusshh...
''Aaaaa...'' Kinara memekik panjang namun, suara itu terbungkam karena pagutan sang suami yang kini membungkam mulutnya.
Setetes buliran bening mengalir di pipinya. Ali menyatukan kening mereka berdua. ''Maaf sayang.. maaf.. sakit banget ya??'' bisiknya di telinga Kinara.
Kinara tersenyum, ia menggeleng. ''Lanjutkan!''
''Yakin??'' Kinara mengangguk lagi. ''Ingat sayang, sekali Abang merasakan maka Abang tidak bisa berhenti!'' Ali menatap dalam pada sang istri.
Kinara tersenyum lembut padanya walau dengan air mata terus mengalir di pipinya. ''Lakukan lah! Aku milikmu!''
Ali tersenyum, Cup.
Kembali ia labuhan kecupan hangat di putik merah jambu miliknya dengan tubuh mulai bergerak seirama. Kinara meringis menahan sakit.
Namun, itu hanya sebentar. Setelahnya hanya suara mendayu dari keduanya yang sedang memecah cakrawala dari tanggul surga miliknya. Ali tersenyum haru saat Kinara bisa mengimbangi dirinya.
__ADS_1
Sentuhan lembut yang Ali berikan membuat Kinara terlena. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama mereka berdua akhirnya bersatu untuk selamanya.
Tanggul surga milik Kinara sudah terbuka lebar untuknya dan siap menampung bibit unggulnya. Ali tersenyum sambil memeluk erat tubuh sang istri yang kini sudah utuh menjadi miliknya.