Penantian Kinara

Penantian Kinara
Kepulangan Lana Seorang diri


__ADS_3

Lana pulang dengan hati yang lara. Lana pulang seorang diri tanpa Ali bersamanya. Saat ini ia sudah tiba di Bandara kuala namu. Lana menghela nafasnya saat mersakan sesak di dada itu semakin menjadi-jadi.


Sebelum ia pulang, terlebih dahulu menghidupkan ponselnya yang sengaja ia matikan karena pencarian Ali.


Walau Di Papua sana tidak ada signal, tetapi Lana memang sengaja mematikan daya ponselnya agar mereka semua tidak bisa menghubungi Lana saat ponsel itu menyala.


Dan benar saja. Baru sebentar Lana menghidupkan ponselnya sudah ratusan pesan dan panggilan tak terjawab dari banyak nomor. Salah satunya dari nomor yang saat ini tidak ingin temui. Karena rasanya ia ingin teggelam saja ke dasar bumi ikut bersama adik iparnya.


"Hiks.. kenapa bukan aku saja yang jatuh kelaut sana? Kenapa harus adik iparku!" serunya kepada diri sendiri dengan bibir bergetar. "Apa yang harus aku katakan sama adek tentang suaminya? Hiks.. Maafkan Abang, Kinara.. Abang gagal melindungi suamu seperti keinginan mu dulu ketika masih kecil. Hiks.. Abang harus jawab apa Dek?? Huh?" serunya dengan suara rendah dan terus tersedu di depan Bandara yang kini banyak di lalui oleh orang-orang.


Mereka menatap aneh pada nya karena menangis sambil memegang ponsel. Lana tersedu lagi saat nanti ketika ia pulang melihat wajah adik bungsunya sendu tak terkira dengan kabar yang akan ia sampaikan nantinya.


Lana semakin tersedu. Sakit sekali hatinya karena tidak bisa menolong Ali saat kejadian kelam itu sebulan yang lalu.

__ADS_1


Sekarang Lana harus apa? Selain hanya bisa menghadapi adik kecilnya. Mau tak mau ia harus mengabarkan hal ini kepada seluruh keluarga dan juga kedua orang tua Ali di Bandung sana.


Ia memegang ponsel itu dan mendial nama satu orang yang dianggap bisa membantunya saat menghadapi Kinara.


Sekuat tenaga Lana mencoba berbicara dengan dua orang itu, "Hallo Kak.. Assalamu'alaikum. Abang udah pulang dan saat ini masih di bandara. Kakak hubungi Maura untuk datang krumah Mak kita. Ada yang ingin Abang sampaikan disana.." lirihnya semakin merasakan dada itu sangat sesak.


Seseorang di balik ponsel itu tertegun mendengar ucapan sang adik tanpa putus dan menjeda dan tidak memberikan dirinya untuk menjawab semua perkataanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi Dek?" tanya Ira setelah beberapa saat mereka berdua terdiam tanpa kata.


Ira sangat shock mendengarnya. Sampai-sampai ponsel yang di tangannya terlepas. Untunglah ada sang suami disampingnya saat ini karena mereka pagi ini sednag melakukan visit di rumah sakit milik Ira.


Ira tersedu. Ragata dengan cepat memeluk dirinya. Jadilah ia yang berbicara dengan Lana. Ia pun tak kalah shocknya dengan Ira sang istri.

__ADS_1


"Baik, Abang dan kakak mu akan segera ke rumah istrimu. Kamu pulang saja dulu. Abang pun butuh waktu untuk menyadarkan Kakak mu yang pingsan! Astagfirullah, bangun Hunny! Assalamu'alaikum.."


Tut!


"Wa'alaikum salam.." lirihnya begitu sesak


Sambungan ponsel itu terputus membuat Lana semakin tersedu. Ia berjalan dengan menarik kedua kakinya untuk mencari rental yang bisa mengntarkan nya menuju kerumah Papi Gilang dan Mami Alisa.


Sedari dalam perjalanan Lana terus memeluk barang peninggalan Ali saat di Papua sana. Apa yang harus ia katakan kepada adiknya nanti.


Sangguphkah Kinara menerima berita ini? Sanggupkah keluarga besarnya mendengar kenyataan jika Ali menghilang saat bertugas?


Beribu macam pertanyaan muncul di benak Lana, hingga tidak terasa rental yang membawanya dari Bandara kini sudah tiba di depan rumah besar diantara rumah tetangga yang lainnya.

__ADS_1


Lana tidak sadar jika ia sudah tiba. Ia terkejut saat supir taksi itu mengejutkannya. "Terimakasih pak!" ucapnya pada supir rental itu.


Dengan langkah yang berat, ia menguatkan dirinya agar kuat masuk melangkah kerumah kedua orang tuanya untuk mengabarkan hal ini.


__ADS_2