
Kinara yang sudah di periksa pun tinggal menunggu melahirkan saja. Seorang Bidan paruh baya itu kasihan melihat Kinara tanpa ada yang menemani.
Hanya putra kecilnya. "Maaf nak, boleh ibuk bertanya?"
Kinara tersenyum dan mengangguk. "Suami kamu kemana? Kok tidak menemani kamu? Keluarga kamu yang lain juga pada kemana? Kalau yang di sebelah ada suaminya. Tetapi manja nya? Astaghfirullah.. Nggak kuat ibuk sama wanita itu. Ibuk disini saja sama kamu." Ucap bidan itu membuat Kinara terkekeh di sela-sela rasa skitnya.
Kinara tau, jika itu merupakan Kakak iparnya. Tadi, pada saat Gading ingin keluar untuk memanggil bidan, ia melihat uwaknya dari jauh sedang membopong Maura yang sedang menangis karena tidak tahan dengan rasa sakit di pinggang dan punggung nya.
Gading mengatakan hal itu pada Kinara. Dan Kinara menyuruhnya tetap diruangan saja. "Suami saya nggak tau dimana buk. Ia tewas saat bertugas di Papua. Dan untuk seluruh keluarga saya. Sssttt... Hufftt.. Huufftt.. Besok baru saya hubungi. Abang bobok aja Nak. Mami tak apa. Ada Bu bidan kok,"
"Ya betul. Kamu tidurlah dulu. Nanti nenek bangunkan ya?" kata nya pada Gading
Gading menggeleng. Ia malah semakin merapatkan dirinya di perut Kinara dan bersenandung lirih disana.
__ADS_1
Sholawat yang pernah Kinara ajarkan setiap harinya, kini Gading yang menyenandungkannya. Kinara tersenyum di sela-sela rasa sakitnya.
Bu bidan itu sampai menangis melihat perjuangan Kinara yang melahirkan ketiga anaknya seorang diri.
Sementara Maura yang sudah tidak tahan lagi, ia mengajukan operasi di tengah malam itu juga. Dengan sangat terpaksa bang Raga dan dokter bedah datang kerumah sakit di waktu dini hari demi Maura yang akan melahirkan secara operasi.
Kinara masih merasakan mulas yang semakin lama semakin terasa sakit. Ia dibantu seorang bidan dan dua orang dokter anak dan dokter kandungan lain yang baru saja di hubungi oleh Bang Raga segera menangani Kinara.
"Sangat baik. Posisi bayinya sangat baik. Sudah pembukaan delapan. Dua pembukaan lagi bersiap!" ujar dokter itu
Jadi, tidak mengapa untuk membuka hijab yang sudah basah karena keringat yang mengucur deras.
Bidan paruah baya itu segera memposisikan dirinya di kedua kaki Kinara yang sudah terbuka lebar.
__ADS_1
"Tarik nafas. Buang. Ya begitu! Yakinlah, kalian berempat akan selamat!" ucapnya memberi semangat pada Kinara yang kini sedang berjuang mengeluarkan ketiga anaknya.
Seseorang nan jauh disana terus saja berzikir tanpa putus. Ia tidak tidur selama dua hari demi bisa mendoakan orang yang begitu disayanginya.
Bahkan lapar perutnya terasa kenyang. Lidahnya tidak putus untuk berzikir memohon perlindung Nya.
Ia hanya akan berhenti saat melaksanakan sholat lima waktu saja.
Kinara masih berjuang mengeluarkan bayi pertamanya. Gading tetap setia menemani sang mami yang saat ini begitu kesakitan saat ingin melahirkan ketiga adiknya.
"Papi.. Abang harus apa??" bisiknya dalam hati
"Berikan semangat untuk Mami kamu, Nak. Katakan padanya Papi mendoakannya dari sini. Papi sedang berdoa untuk keselamatan nya dan juga ketiga adikmu. Bisikan di telinganya," gema suara itu di dalam pikiran Gading.
__ADS_1
Sontak saja Gading terkejut dan segera membisikan kalimat yang suara itu katakan padanya.
Kinara semakin bersemangat. Tanpa sadar ia memanggil nama Ali saat anak pertama mereka lahir kedunia.