Penantian Kinara

Penantian Kinara
Melahirkan tanpa suami


__ADS_3

"Berikan semangat untuk Mami kamu, Nak. Katakan padanya Papi mendoakannya dari sini. Papi sedang berdoa untuk keselamatan nya dan juga ketiga adikmu. Kamu pengganti Papi. Papi tidak jauh dari kalian. Papi selalu ada di dalam hati Kalian. Tetapi Mami kamu tidak bisa mengingat itu. Karena ia sedang sakit saat ini,"


"Sampaikan pesan Papi, Nak. Dengarkan sayang. Berjuanglah untuk melahirkan buah cinta kita kedunia ini. Abang akan segera ulang. Bersabarlah sampai waktu itu tiba. Besarkan ketiga anak kita denagn kasih sayangmu. Selalu kenalkn mereka sama Abang. Selalu tunjukkan foto Abang pada mereka bertiga. Ingat sayang.Allah selalu bersamamu. Berjuanglah. Abang bersama mu.." Gading membisikkan dengungan suara yang kini terus berdenging di telinga dan pikirannya.


Gading menyampaikan pesan Ali kepada Kinara yang kini begitu menahan sakit yang tiada tara.


"Ya, terus. Dorong! Ya, Bagus! Sedikit lagi!" seru Bu bidan yang kini sedang membantu Kinara melahirkan bayi pertamanya.


Bayangan Ali yang sedang tersenyum lembut padanya menari di pelupuk mata Kinara. Tanpa sadar mulut itu memanggil namanya denagn kauta saat anka pertama mereka lahir ke dunia.


"Sayang.. Yang kuat. Abang disini bersamamu.." terdengar lagi bisikan itu di telinga Kinara.


Air mata itu merembes keluar. "Hiks.. Eeegghh.. Eeggh.. Eegghh.. Egghhhhh.. Allahu Bang Aliiiiiii!!!!!"


"Oek.. Oek.. Oek.." terdengar suara tangisan bayi begitu bergema diruangan.


Bu bidan menangis melihat bayi itu keluar dengan selamat. "Alhamadulillah. Laki-laki, Nak. Ayo berjuang lagi. Masih ada dua lagi yang akan menyusul!"Imbuhnya pada Kinara yang kini tersengal.


Air mata itu terus merembes di pipinya saat lagi dan lagi bisikan lirih suara Ali masih terngiang di telinganya.


Gading pun ikut menagis. Ia bahkan sampai sesegukan. Sedang nan jauh disana pun demikian. Ia tersedu. Tersedu dan tersedu tetapi lidahnya tidak berhenti untuk berzikir menyebut asma Allah.

__ADS_1


Sampai-sampai wanita tua di rumah itu pun ikut menangis melihat keadaannya.


Lagi, Kinara merasakan mulas seperti tadi. Dorongan sakit dan sesak ingin di keluarkan itu makin terasa.


Ia kembali mengedan. "Kamu kuat sayangku.. Kamu kuat.." lagi bisikan lirih itu terdengar yang membuat Kinara semakin kuat dalam melahirkan dua bayi yang tersisa.


"Euuugghhhh.. Eeeggghhtt.. Egghhttt.. Huuufftt.. Egghhh.. Eggghhhhhhttt.." masih terdengar suara Kinara yang sedang berusaha mengeluarkan kedua bayinya.


Bi bidan bergetar tangannya. Air matanya terus menetes melihat perjuangan Kinara yang melahirkan tanapa di dampingi oleh seorang suami.


Hanya seorang anak kecil berusia tujuh tahun yang ikut menemaninya. Gading naik di kursi dan memeluk erat tubuh Kinara yang kini berjuang melahirkan dua orang adiknya lagi.


Suatu saat, kenangan ini akan terus teringat olehnya. Kenangan yang begitu menyakitkan untuk ia lihat.


Tetapi ia harus kuat demi sang Mami. Begitu pesan Papi Ali dulu padanya sebelum kembali bertugas dan setelahnya tidak kembali lagi.


"Terus Nak. Dorong!" seru Bu Bidan semakin semangat


Ia pun menjadi semangat lagi saat melihat Kinara yang juga semangat saat melahirkan dua bayi yang tersisa.


"Eggghhtt... Egghtt.. Eggghhttt.. Eggggghhttt.. Abaaaaaaanggggg...."

__ADS_1


"Oek.. Oek.. Oek.." bayi kedua Kinara pun lahir kedunia tersisa satu lagi.


"Alhamadulillah ya Allah- eh kamu ngedan lagi Nak?!" seru nya begitu kaget karena melihat Kinara yang baru bernafas kini mengedan lagi.


Dengan keringat yang bercucucuran dan air mata yang sudah menganak sungai. Kinara kembali berjuang mengeluarkan satu bayi tersisa.


Dokter anak dan dan dokter kandungan itu tertawa melihat bayi ketiga Kinara yang juga sibuk ingin keluar.


Mereka tertawa bersama walau air mata terus bercucuran. Mereka pun saksi kunci dari perjuangan seorang ibu muda seperti Kinara ini.


"Egghhtt.. Egghtt.. Huffftt huffftt.. Egghheh.. Egghhhh.. Allahu tolong akuuuu!!!!" seru Kinara begitu kuat


"Oekk.. Oek.. Oek.." bayi ketiga Kinara terlahir dengan selamat.


"Alhamdulillah, perempuan nak! Cantik sekali. Persisi seperti mama nya!" kata Bu bidan itu pada Kinara yang kini masih tersengal dengan mata terpejam.


Gading mendongak mendengar bidan itu berbicara yang mengatakan anak ketiga Kinara merupakan bayi perempuan.


Deg, deg, deg...


Jantung pemuda keci itu berdetak begitu kencang saat melihat dengan matanya bayi berjenis kelamin perempuan itu menangis dengan kencang.

__ADS_1


__ADS_2