Penantian Kinara

Penantian Kinara
Kabar duka untuk Kinara


__ADS_3

Sedangkan Kinara saath ini masih tinggal di kediaman Mami Alisa dan Papi Gilang. Hal yang tidak pernah Kinara duga ialah, jika setiap malamnya ia selalu memimpikan tentang Ali yang tenggelam ke dasar lautan.


''Tidaaaaakkkk... Aliiiii....."


Deg!


Deg!


''Abangggg....'' pekik Kinara dengan mata terpejam hingga membuat Mami Alisa terkejut bukan main.


''Naraaa!!! Bangun Nak! Bangun! Kamu kenapa???'' pekik Mami Alisa begitu kuat.


Ia mengguncang-guncang tubuh Nara yang masih berada didalam mimpi. ''Papiii!! Kesini!!! Adek mimpi buruk lagiiii!!'' pekik Mami Alisa melalui pintu kamar yang terbuka.


Papi Gilang berlari bersama Algi menuju kamar atas. Saat ini Nara masih berada di rumah Mami Alisa. Karena sejak mimpi tentang Ali yang berulang kali itu membuat Mami Alisa dan Papi Gilang terpaksa harus memboyong Nara ke rumahnya kembali.


Maura tetap dirumahnya. Sudah sebulan ini, Nara tinggal di sana. Lagi dan lagi Nara selalu memimpikan Ali. ''Hiks .. Abang. Jangan pergi. Kalau Abang pergi, adek sama siapa??'' gumamnya masih dengan Mata terpejam.


Mami Alisa terisak melihat keadaan Nara yang selalu memimpikan Ali sang suami yang sedang bertugas di Papua sana.


Sudah sebulan ini mereka berdua menghilang tanpa kabar. Semua nya dilanda cemas. Ingin cari tau tapi tak tau ingin cari tau pada siapa. Lagi pun Papi Gilang melarang keluarga besarnya untuk tidak mengganggu Lana dan Ali yang sedang bertugas.


Sementara diluar rumah Mami Alisa. Seseorang berdiri dengan tubuh bergetar. Ia melihat jendela kamar Nara yang terbuka lebar pertanda adik bungsunya itu ada di rumah Mami Alisa. Tepat seperti dugaan nya.


Dengan kaki yang rasanya tidak sanggup berjalan, Lana masuk kerumah itu setelah mengucapkan salam tapi tidak di dengar oleh siapa pun. Karena mereka semua sedang berkumpul di atas. Tepat nya di kamar Nara.


Dengan langkah yang terseok-seok Lana memaksakan kakinya menuju ke atas dimana kamar Nara berada. Baru setengah tangga yang ia naiki sudah terdengar suara Isak tangis yang begitu menyayat hati bagi siapa saja yang mendengar nya.


''Hiks... Abang... bang Lana.. bang Ali... adek kangen...'' igaunya lagi masih dengan mata terpejam.


Mami Alisa tak kuasa menahan tangis. Ia memeluk tubuh Nara dengan erat. Ia terisak sambil memeluk tubuh ringkih Nara yang semakin kurus selama sebulan ini tidak mau makan sama sekali karena selalu mengingat Ali dan Lana yang tiada kabar sama sekali.


''Hiks... maafkan Abang Dek.. maaf... hiks..'' Isak Lana lagi masih di tengah tangga. Ia duduk tepekur disana sambil menangis memeluk tas Ali dan segala barang-barang Ali yang tertinggal di camp.


Selama sebulan pencarian Ali tapi tidak membuahkan hasil. Lana sampai shock menerima kenyataan jika Ali dinyatakan tewas dan menghilang di nyatakan oleh petugas tim SAR yang membantu mencari Ali selama sebulan ini.


''Aliiii.... hiks... Aliiii... aaaaaa Abang harus bilang apa sama istri kamu, Li!! Haaaaa... aaaaaaaaaa... aaaaaaaaaa...'' pekik Lana begitu keras di tengah tangga.


''Abangggg!!!! Abang pulang?!'' pekik Nara dengan mata terbuka. Ia berlari menuju ujung keluar dimana Lana sedang menangis tersedu dan memeluk erat semua peralatan Ali yang tertinggal selama di camp.


''Tunggu naaaakk.. mana mungkin Abang mu pulang. Ia masih bertugas di sana!!'' seru Mami Alisa begitu panik dan terkejut melihat Nara berlari menuju tangga.


Mereka bertiga berlari dengan panik karena melihat Nara berlari keluar mencari Lana. Tiba di undakan tangga, mereka bertiga mematung melihat Lana sedang menangis tersedu sedang Nara berdiri membeku di tempat karena melihat Lana terus memanggil Ali dengan suara lirih dan terisak-isak.


''A..Li... hiks.. A..Li.. ma.. maaf kan. hiks.. Abang hiks A..Li.. hiks.. haaaaa... aaaaaaaaaa... aaaaaaaaaa.. aaaaaaaaaa haaaaa...'' Lana tersedu di undakan tangga rumah Mami Alisa dan Papi Gilang.


Mereka berempat tidak ada satu pun yang bergerak mendekati Lana terkecuali Nara. Sekuat tenaga Nara mendekati Lana dan duduk dihadapan nya.

__ADS_1


Ia menyentuh pipi Lana dan mengusap nya dengan sayang. Bibir itu bergetar menahan tangis yang sebentar lagi akan meluncur keluar.


Tangan Nara bergetar hebat. ''Abang...''


Deg!


Deg!


Deg!


''Adek!!!'' seru Lana masih dengan terisak.


Nara mengangguk walau dengan bibir bergetar. Ia melihat tas Ali yang dulu dibawanya untuk bertugas disaat ia berada di bandara Kuala namu. Nara menyentuhnya.


Entah kenapa ia merasakan Ali ada disana. Nara memeluk tas itu dan....


''Tidaaaaaaaaaaaakkkkk... haaaaa... Abaaaangg... tidaaaaaaakkkk... huaaaa... Bang Aliiii......''


Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...


Brruuuukkkkk...


''Sayang!!!''


''Mamiiii!!!''


Deg!


Deg!


''Uhuuuukkk.. uhuuuukkk.. uhuuuukkk... Allahuakbar!!!! Naraaaaaaaaaaa....'' pekik seseorang nan jauh disana.


Lana semakin erat memeluk tubuh Nara yang semakin histeris karena ia tau jika Ali sudah tewas dalam bertugas. Lana semakin bersalah terhadap Nara. Ia pun ikut sesegukan di dalam pelukan Nara yang semakin histeris memanggil nama Ali.


''Ngggaaaakk.. hiks.. A.. hiks.. Bang... hiks.. ngggak.. abaaaangg... hiks... Abang...'' Isak Nara dalam pelukan Lana.


Lana semakin erat memeluk tubuh adiknya ini. Sementara empat orang yang berada di bawah sana berdiri mematung Kala melihat Nara dan Lana saling berpelukan dan menangis bersama.


''Bang??? Abang pulang?? Adek Kenapa?? Ali mana???'' tanya Maura yang saat sedang berjalan mendekati dirinya dan Nara


Lana menoleh karena mendengar suara sang istri. Wajah sembab basah dengan air mata. Lana semakin menangis kala melihat wajah Ira dan Raga yang berwajah datar menatapnya.


Seperti katanya tadi sebelum pulang Lana menghubungi Ira dan Raga. Ia menyuruh suami istri itu untuk menyusul Maura dan membawa mereka kerumah Mami Alisa.


''Bang??'' panggil Maura lagi. Ia mendekati Lana yang sedang memeluk Nara yang sudah terdiam.


Ira dan Raga mendekat. ''Abangggg!!!'' sentak Maura dengan suara meninggi.

__ADS_1


Lana tersentak. Ia menoleh pada Maura dengan tatapan sendunya. ''Ma-maaf... Abang hiks pulang sendiri... A-ali.. A-ali.. telah tiadaaa! Ia tewas saat bertugas sebulan yang lalu... hiks.. Hiks.."


Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...


Bbrrrrruuuukkkk..


''Sayang!!!''


''Maura!!!''


''Naraaa!!!''


Pekik mereka secara bersamaan. Papi Gilang dan Algi segera berlari mendekati kedua wanita yang jatuh terkapar di undakan tangga. ''Ya Allah... kabar duka untuk kita semua... innalilahi wa innailaihi rojiun...'' lirih Ira sambil memeluk adik iparnya itu.


''Bawa ke dalam. Baringkan disana. Abang, kamu bawa istri kamu. Biar Papi yang bawa Nara ke kamar nya. Ayo!'' ucap Papi Gilang begitu panik


Ia baru saja membuat Mami Alisa sadar dari pingsannya. Saat ini wanita itu sedang termenung seorang diri di kamar. Ia di temani Algi di sampingnya yang selalu mengingatkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.


Raga dan Ira mengikuti Papi Gilang dan Lana menuju kamar Nara yang dulu menjadi kamar Ira. Saat pertama kali pindah kerumah itu.


''Baringkan disana. Nara disini.'' titah Papi Gilang pada Lana. Lana mengangguk.


Dengan segera ia membaringkan Maura di sebelah Nara yang sudah terlebih dahulu Papi Gilang baringkan di ranjangnya.


Raga mendekat dan mulai memeriksa keadaan Nara dan Maura. Raga terlebih dahulu memeriksa Nara. Saat ia memegang urat nadi Nara, Raga tersentak. Ia menatap terkejut pada Nara. Papi Gilang menatapnya dengan panik.


''Ada apa??'' tanya Papi Gilang


Raga terdiam. Ia menoleh pada Lana. Lana mengangguk, tau arti dari tatapan Raga padanya. Raga bergeser ke tepi Maura dan memeriksa urat nadinya sama seperti Nara tadi.


Lagi, Raga tersentak. Tubuhnya mematung Kala menyadari jika dua saudara ipar itu sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


''Ada apa Bang??'' tanya Lana pada Raga.


Raga menoleh, ia menatap sendu pada Lana. ''Istri dan adikmu sedang mengandung saat ini!''


Ddduuaaarrr...


''Apa?!!?''


Brrruukkk...


''Sayang!!!''


''Mamiii!!''


''Mak!!!!''

__ADS_1


__ADS_2