
Setelah seluruh keluarga pulang, kini tinggal lah Kinara dan Annisa saja dirumah itu. Gading ingin ikut bersama Papi Tama nya karena ingin menjemput si kembar.
Sedang lana pulang sebentar kerumah nya untuk amndi terlebih dahulu karen sudah memauki sholat maghrib.
Kini tinggal lah saudara se ibu yang sangat mirip itu. Mereka baru saja selesai melaksanakn sholayt maghrib setelah merekaamsak banyak untuk menyambut keluarga Kinara yang dari Bandung.
"Kak.."
"Dek.." ucap mereka bersamaan.
Annisa menghela nafasnya. "Apa yang kamu rasakan sekarang, boleh kamu ungkapakan sam Kakak. Tidak ada orang yang akan mendengar nya. Abang udah pulang kerumahnya. Dan pintu juga udah Kakak kunci tadi." Ucap Annisa pada Kinaar yang kini sednag terkekeh tapi sangat sendu.
__ADS_1
Annisa tau itu. "Nggak Kak. Adek nggak ingin ngomong apapun. Karena pemikiran Kakak dan adek sama. Bang Ali belum meninggal. Ia masih lah hidup. Adek yakin itu. Walau mereka mengatakan kalau Abang udah Nggak ada. Adek nggak percaya begitu saja. Hanya saja.. Adek bingung kak."
"Bingung? Bingung kenapa?" tanya Annisa masih dengan menatap lekat wajah sang adik yang masih terlihat sembab itu.
"Nggak tau aja Kak. Adek merasakan Bang Ali itu sampai ke hati. Tetapi Bang Lana bilang, kalau Bnag Ali sudh tiada. Belum lagi setiap malamnya, adek selalu mendengar kalau Abang selalu memanggil adek dengan lirih. Serasa nyata Kak."
Annisa tertegun mendengarnya, "Iyakah?" Kinara mengangguk
"Iya Kak. Saking terasa nya adek sampai bisa melihat Bang Ali saat ini sedang terkapar di sebuah gubuk reyot dan juga tangan dan hidungnya itu di infus dan selang oksigen kak. Makanya adek selalu yakin, kenapa adek bilang kalau Bang Ali itu masih hidup. Tetapi seluruh keluarga kita tidak ada yang percaya Kak." Jelas Kinara hingga membuat Annisa menghela nafasnya.
"Percayalah jika suami kamu itu akan sehat dan sembuh seperti sedia kala berkat doa mu. Kamu harus lebih banyak mendekatkan diri kepada Allh. Minta padanya tentang kesembuhan suami kamu. Hanya doa yang bisa mengubah takdir, Dek!"
__ADS_1
Kinara mengangguk dan tersenyum pada Annisa. "Dan ya. Untuk kandungan mu. Jaga dengan baik buah cinta kalian berdua. Mungkin, inilah jalan mu dan Ali. Ia pergi tetapi sebelum itu, ia menitipkan benih nya padamu untuk kamu urus sampai dia kembali lagi nantinya. Jangan bergantung kepada orang lain, dek! Belum tentu mereka akan bisa menolong mu nanti."
"Kalau bisa, kamu harus mulai mandiri dari sekarang. Apapun keinginanmu jangan meminta nya kepada orang lain. Tetapi carilah sendiri. Jangan takut! Allah bersama mu. Kamu ingat kan Kakak dulu seperti apa saat hamil si kembar?"
"Ya, Kakak bisa melakukan semuanya sendiri. Adek pun udah berpikir tentang ini. Adek tidak akan meminta bantuan siapapun dalam hal keinginan janin ku. Adek akan berusaha sendiri mencarinya sampai bayi ini lahir nantinya. Adek tidak ingin bergantung kepada siapa pun. Karena adek tau, sakit sekali ketika kita berharap. Tetapi yang diharapkan malah tidak ingat dengan kita. Adek tau itu kak. Kakak tenang saja. Bang Ali pun sempat berpesan akan hal ini. Mungkin Bang Ali tau, jika adek orang nya sangat tidak bisa menanggung semua itu," ujar Kinara membuat Annisa bernafas lega.
"Yang penting kamu ingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Yang mana kamu selalu diabaikan. Bukan berarti Kakak menghasut mu. Tetapi kakak terlanjur kecewa dengan sikapnya."
"Iya sih. Lagipun kak Maura juga sedang hamil sama kayak adek,"
"Hemm.. Udah. Pokonya kamu jangan mengatakan apapun kepada saudara kamu tentang keinginanmu. Kalau kamu butuh sesuatu, bilang aja sama Kakak. Sekiranya itu bisa Kakak penihi, maka akan Kakak penuhi."
__ADS_1
"Iya kak. Adek bisa kok Kak. Kakak tenag aja. Adek nggak akan ngerepotin Kakak. Adek paham, Kakak pun sangat riweh dengan si kembar!"
Annisa tertawa.