
Sementara dirumah Lana, kini pemuda tampan yang sudah sangat matang itu baru saja keluar dari kamarnya setelah satu jam berlalu berpeluh dan berkeringat bersama sang pujaan hati setelah enam tahun berlalu.
Ia keluar setelah membersihkan seluruh tubuhnya. Maura saat ini pun baru saja selesai mandi dan bersiap ingin melihat Malda yang mereka tinggal tadi masih bersiap-siap.
Lana langsung saja menuju ke kamar Zia dan si kembar Fanya dan Fania. Tiba disana, Lana membuka pintu itu dan tersenyum melihat ketiga anaknay sudah terlelap.
Matanya menuju pada kasur milik Malda yang terlihat rapi. Lana mengernyit bingung. "Malda kemana? Kok Nggak ada?" gumam Lana sambil mendekati ranjang Zia dan membangunkan putri keduanya itu.
"Sayang. Kakak? Bangun Nak. Papi mau ngomong sebentar. Bangun dulu, Nak." Katanya pada Zia yang kini mengerjabkan matanya karena mendengar suara cemas sang papi.
Zia menelan ludahnya. Mata itu pura-pura ia kucek agar tidak terlihat baru saja selesai menangis karena kepergian Malda satu jam yang lalu.
"Ada apa Pi? Hoaaammm.. Ngantuk banget Kakak, Pi!" katanay pura-pura menguap lagi masih dengan mata terpejam.
Ia pura-pura terkantuk-kantuk padahal tidak sama sekali. Ia sengaja menutup matanya agar tidak kelihatan bengkak oleh sang Papi.
Lana yang sedang dilanda cemas dan panik pun menjadi terkekeh karena melihat putri kandungnya terkantuk-kantuk seperti itu.
__ADS_1
"Kakak kamu mana? Kok nggak ada dikamar? Di kamar Abang kamu udah Papi lihat. Tetapi tidak ada. Kamu tau kemana Kakak mu?"
"Heerrrggghhrr nyam nyam srrruupp.. Hah? Kakak katanya tadi mau ke kamar mandi. Itu yang kakak dengar selebihnya nggak tau uuu.. Hemm.. Ngantuknyaaaa.. Hoaaaammm..." jawab Zia sengaja mengalihkan perhatian Lana.
Lana terkekeh lagi. Ia mendekati Zia yang sudah tidur kembali dan mengecup keningnya sekilas.
"Ya sudah. Tidurlah. Papi akan balik lagi ke kamar. Tetapi sebelum itu Papi harus cari dulu kemana kakak kamu. Nggak biasanya dia kayak begini. Mana sebentar lagi kita akan ke bandara? Ini malah orangnya nggak ada disini." gerutu Lana sambil keluar dari kamar Zia dan mencari Malda diseluruh ruangan.
Sementara zia langsung menangis tersedu lagi di dalam selimutnya. Ia sesegukan dhsana. "Hu.. Hu.. Hu.. Ma hiks af Pi.. Hiks hu.. Hu.. Ma hiks af..." isaknay di dalam selimut.
Ia segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke Malda bahwa sang papi sekarang sedang mencarinya.
Lana dan Maura terus mencari keberadaan Malda. Tetap saja Malda tidak ada hingga keduanya di serang panik.
Takut jika Malda pergi tanpa mengabarkan nya kepada mereka semua. Karena Lana sangat mengenal seperti apa putri sulungnya itu.
"Nggak! Ini Nggak mungkin! Putriku nggak mungkin pergi meninggalkan ku seperti ini! Ia pasti masih disini. Cari lagi dek. Temukan putri sulung kita! Abang takut, Malda kabur!" serunmya pada maura yang kini pun bertambah semakin panik.
__ADS_1
Ia kembali masuk ke kamar Zia.
Braakk..
Deg!
Jantung Zia berdegup tidak karuan. Iaterus berusaha tenag walau air mata itu terus mengalir di pipinya.
Ia tersedu di dalam gulungan selimutnya. Maura langsung saja membuka lemari dan..
Deg!
Deg!
"Nggak! Ini Nggak Mungkin! Malda nggak mungkin pergi! Nggak! A-abang..."
Bruukk..
__ADS_1
"Mamiiii!!!"
Dddduuuaarrr...