Penantian Kinara

Penantian Kinara
Menggoda istri


__ADS_3

''Sayangku?''


''Hem, apa Bang?'' tanya Nara lagi pada Ali.


Saat ini Nara sudah tidak menangis lagi. Wajahnya sudah ceria. Karena rasa sesak dihatinya sudah keluar semua. Ali terkekeh melihat tingkah imut Nara.


''Sayangku...''


''Apa Abang..''


''Kangen banget sama Kamu... kamu kangen nggak sama Abang??'' goda Ali dengan wajah mesumnya.


Nara melengos. ''Enggak!''


''Beneran nggak kangen sama Abang?? Nggak kangen gitu sama pisang raja Abang??'' goda Ali lagi.


Nara menunduk malu. ''Udah ih! Abang mesum! Omongan nya tiap kali nelpon pastilah ujung-ujungnya kesitu! Ishhh..'' gerutu Nara begitu malu.


Ali tertawa. ''Mesumnya sama kamu aja sayang! Bukan sama yang lain. Lagian pahala loh.. nyenangin suami walau hanya seperti ini??''


Nara menunduk malu. Pipinya merah merona. Ali tertawa. Ia semakin gencar untuk menggoda sang istri.


Lana yang berada di ujung sana pun ikut terkekeh melihat tingkah pasangan beda usia itu. ''Ck. Dasar kang modus! Pastilah lagi iseng modusin adek itu!'' celutuk Lana pada Maura.

__ADS_1


Maura terkekeh. ''Apa ubahnya dengan Abang?? Abang pun gitu kok sama aku. Lumayan ini jauh dan Gading pun ada sama Abang. Kalau nggak Abang pastilah sama seperti Ali. Abang dan Ali itu sebelas dua belas! Sama-sama mesum dan tukang penggoda! Untunglah kamu sekarang jauh dariku, jika tidak. Abang pun akan sama sepertinya! Hem?'' cebik Maura pada Lana.


Lana tertawa-tawa. ''Hahaha... kamu ternyata hafal banget ya sama kelakuan Abang??''


''Tentu dong?? Ingat saja dulu waktu aku kebanjiran sedang Abang lagi on fire. Ck. Bisa-bisa kamu menggoda ku dengan cara yang lain! Dasar kang modus!'' sungut Maura pada Lana.


Lana semakin tertawa. Sementara Gading tidak paham dengan apa yang dibicarakan oleh orang dewasa itu. Ia hanya planga plongo aja melihat tingkah pasangan itu.


''Papi lagi omongin apa sih?? Abang kok nggak nyambung ya?'' Lana dan Maura saling pandang. Mereka berdua tertawa bersama.


Hingga Ali dan Nara disana ikut terkekeh. ''Ck. Bang Lana sama Abang itu sama. Kalian berdua itu sama. Cocok banget! Sebelas dua belas nggak ada bedanya! Lihat aja tuh, pasti mereka lagi bahas hal begituan! Sedang disana ada Gading! Ck!'' Gerutu Nara bersungut-sungut karena kelakuan Lana dan Maura yang begitu absurd.


Ali pun tertawa. ''Memang gitu sayang. Hubungan suami istri nggak hanya sebatas berbicara tentang pekerjaan dan rumah saja. Ada waktunya kadang kita butuh untuk me-refresh otak kami yang sebelah kanan dengan cara menggoda istri kami. Hal ini sudah menjadi tradisi bagi suami yang LDR an dengan istri. Karena rasa rindu tidak enak jika di pendam. Kalau bukan takut dosa, maka kami pun bisa bebas mencari wanita lain di tempat kami betugas. Tapi tidak dengan kami. Kami cukup memilki satu istri. Satu aja nggak ada habisnya? Masa' mau nambah lagi?? Ntar kekenyangan begah pula nanti. Mana istrinya pada riweh semua? Ck. Kami nggak mau itu terjadi.''


Mereka berdua saling pandang dan tertawa bersama. Maura dan Nara mencebik. ''Hemm.. liat tuh. Mulai lagikan ?? Isengnya udah mulai lagi nih!''


''Hahaha...'' Ali dan Lana sama-sama tertawa.


Maura dan Nara tersenyum. Mereka suka jika di goda oleh sang suami seperti itu. Inilah yang menjadi penghibur diri mereka saat jauh dari sang suami.


Hidup terpisah dari sang suami itu nggak enak loh.. Menyakitkan banget. Belum lagi saat kita rindu, sedang orang yang kita rindukan itu tidak bersama kita.


Sumpek dan sesak menyatu di dalam dada. Makanya kadang ketika rasa rindu untuk suami itu hadir, hanya air mata yang bisa mewakili perasaan sang istri saat sangat ingin berdua dengan suami.

__ADS_1


Begitu juga dengan Lana dan Maura. Nara dan Ali. Pasangan ini harus terpisah karena tugas abdi negara yang suami mereka pikul. Beruntung nya, setiap tahun pada bulan dan tanggal yang di tentukan, mereka bisa pulang untuk menemui sang istri.


Mereka diberikan waktu sebelum kembali bertugas. Lima puluh hari cukup untuk mereka berdua kembali dengan keluarga kecil mereka.


''Ya sudah, sudah pukul sebelas. Sudah empat jam Abang disini dan itupun belum cukup untuk bisa melepaskan rindu sama kamu sayang. Abang kangen banget sama kamu. Hemm.. pingin cubit itu pipi tembem kamu!''


Nara tertawa. ''Ya udah, makanya Abang pulang. Adek tunggu Abang. Adek akan bersiap menunggu Abang pulang. Bersiap lahir dan batin!'' ucap Nara sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Ali menggoda sang suami nakalnya.


''Hahaha.. udah pinter menggoda Abang sekarang, hem??''


''Iya dong.. harus! Kalau nggak Abang nanti nggak mau pulang!''


''Haha haha.. nggak gitu juga sayangku! Tapi Abang suka kalau kamu nakal kayak gini sama Abang! Hemmm.. pengen cepat-cepat pulang agar bisa bawa kamu jalan-jalan lagi naik motor kayak waktu itu!''


''Hahaha.. masih ingat saja Abang ternyata!''


''Ayo Ali! Sudah masuk waktu dhuhur.'' Sela Lana pada Ali.


Ali merengut kesal. Nara tertawa. Lana pun ikut Terkekeh. ''Udah ayo.. nanti kita kena sp lagi. Ayo! Bersiap dan bersabar. Cuma itu kuncinya. Udah ya sayang, Abang dan suami kamu mau balik dulu. Tunggu kami delapan bulan lagi. Kami akan pulang. Kami bisa menghubungi kalian hanya sebulan dua kali. Jadi .. jangan marah ya? Abang yakin, adek paham apa yang Abang katakan!'' ucap Lana pada Nara.


Nara mengangguk patuh. ''Tentu. Adek akan setia menunggu kalian pulang. Sampai waktu itu tiba, Abang dan bang Ali sehat-sehat ya? Kalau ada apa-apa kabari Adek, Mami, Kak Maura, ataupun Papi. Kami menunggu kalian disini.''


''Ya, tentu saja. Abang tutup. Assalamualaikum sayangku, cintaku, bidadari surgaku.. mmmuuuaacchh...''

__ADS_1


Nara tertawa. Ia membalas ciuman Ali dengan ciuman yang ia letakkan di telapak tangan kemudian ia tiup. Ali menangkap nya. Lana tertawa begitu juga dengan Ali dan Gading.


__ADS_2