
Sementara di kota Medan nan jauh disana. Seorang istri sedang berjuang untuk melahirkan putra dan putrinya.
Sekuat tenaga ia mengeluarkan bayinya. Buah cintanya dengan sang jendral yang saat ini sedang bertugas.
''Ayo, sedikit lagi. Kamu pasti bisa Maura. Kuat! Yang kuat! Kamu bisa! Kedua anakmu sedang berjuang juga ingin segera keluar ingin menemui Papi dan Maminya!'' ucap Bidan Dana yang membantu persalinan Maura.
''Huuffttt.. huufftt.. eeeegghhh... eeggghhhh.. eeggghhhh... ahhh.. Bang Lanaaaaa...'' seru Maura dengan kuat saat merasakan sesuatu keluar dari jalan lahirnya.
''Oeekk... oeekk.. oeekk..'' Suara bayi pertama Maura sudah keluar.
''Alhamdulillah, Laki-laki! Ayo lagi Maura!'' katanya pada Maura yang sedang berusaha mengendan lagi untuk mengeluarkan bayi kedua nya.
''Huffttt.. huffftt... huffftt.. eeeegghhh.. eghhh.. huffftt.. eeggghhhh.. eeggghhhh .. aaaaaa...'' seru Maura begitu terasa lapang saat merasakan sesuatu keluar lagi dari jalan lahir nya.
''Oeeekk.. oeekk.. oeekkk..'' bayi kedua nya lahir kedunia.
''Masyaallah.. cantiknya.. perempuan Nyonya!'' seru Bidan Dana pada Mak Alisa.
MaMi Alisa dan Nara menangis terharu. Ya, saat mereka menuju kerumah sakit, Mami Alisa mengikuti mobil yang akan bawa untuk menuju kerumah sakit.
Mami Alisa dan Nara lah yang menemani Maura saat melahirkan tanpa ada lama di sisinya.
__ADS_1
''Alhamdulillah ya Allah.. cucuku ..'' lirih Mak Alisa dengan wajah basah air mata. Nara mengangguk dengan wajah basah air mata.
''Anak Abang udah lahir Mi! Abang pasti senang. Besok, adek akan hubungi Abang untuk mengabarkan hal ini. Masyaallah.. tampan dan cantiknya keponakan Onti ..'' imbuh Nara sambil mendekati Kedua bayi Nara yang sedang di bersihkan oleh suster.
Sementara Maura sedang di bersihkan oleh bidan Dana. ''Selamat Maura. Kedua anak mu lahir dengan selamat. Semoga menjadi anak yang Sholeh dan berbakti kepada kedua orangtuanya.''
''Amiin..'' lirih Maura.
Mereka berdua tersenyum bersama. Setelah nya Maura segera dibawa ke kamar rawat inap. Nanti sore sudah bisa pulang.
Tiba diruang inap Maura, Mami Alisa meminta Nara untuk memanggil Papi Gilang untuk mengadzani kedua cucunya itu.
''Panggil kan Papi, nak. Agar kedua cucu Mami ini bisa di adzankan.'' Kata Mami Alisa pada Nara.
Dengan segera Nara keluar dan mencari Papi Gilang. Tapi yang dicari tidak terlihat batang hidung nya. Maura melangkah menuju musholla. Pasti saat ini Papi nya itu sedang berdzikir dan berdoa disana.
Dan ya. Tepat seperti dugaannya. Kalau sang Papi memang sedang khusyuk berdoa sambil tangan terus saja menggulir tasbih. Nara tersenyum, ia mendekati Papi Gilang dan duduk di sebelahnya.
Merasa jika Nara ada disampingnya, Papi Gilang membuka kedua matanya. ''Sudah lahirkah??'' tanya Papi Gilang pada Nara.
Nara terkekeh. ''Alhamdulillah sudah, Pi.. Ayo. Mami memanggil Papi untuk segera mengadzani dua keponakan ku itu.'' Sahut Nara sembari tersenyum manis pada sang Papi. Cinta pertama nya.
__ADS_1
Papi Gilang terkekeh. ''Baiklah. Ayo! Papi pun sangat ingin bertemu cucu ke... ke berapa ya?''
Nara tertawa. Papi Gilang tersenyum. Ia berhasil menggoda Nara. ''Ya dihitung atuh Pi.. cucu pertama Papi ada Ziara dan Argantara. Cucu ketiga dan keempat ada Danis dan Tania. Cucu kelima dan ke enam ada Azril Dan Azra. Dan yang ke tujuh dan ke delapan ada Baby Prince, sama satu lagi.. Princess Larasati Kusuma Pratama! Dan sekarang? Cucu ke berapa?'' tanya Nara pada Papi Gilang.
Papi Gilang tertawa. ''Cucu ke sembilan dan kesepuluh euuyy!'' celutuk Papi Gilang semakin membuat Nara tertawa.
Papi Gilang pun ikut tertawa. ''Cucu angkat ada satu. Maldalya!'' kata Nara lagi.
''Itu lain lagi. Itu diluar jalur! Yang kita bicarakan sekarang ini. Cucu kandung sayang.'' Nara terkikik geli.
''Sama aja atuh Papi! Ih! Kalau Abang tau Papi ngomong gini, pastilah Abang akan ngambek sama Papi! Hahaha...'' ucap Nara lagi semakin tertawa terbahak.
Dari musholla hingga keruangan Maura, kedua anak dan ayah itu terus saja tertawa. Ada saja yang jadi pembicaraan mereka di sepanjang jalan menuju ruang inap Maura sesaat setelah melahirkan kedua bayinya.
Mani Alisa terkekeh saat mendengar suara gelak tawa Nara dan Pai Gilang. Entah apa yang dibicarakan oleh kedua orang itu hingga tertawa terbahak seperti itu.
Kedua orang itu masuk saat bayi Maura baru saja dibersihkan bidan dan akan di susui untuk pertama kalinya oleh Maura.
''Masyaallah cantiknya dan gantengnya cucu Opa! Mirip Abang, sayang! Yes, cebong Lana! Akhirnya jadi orang juga!'' celutuk Papi Gilang sambil terkikik geli dan dihadiahi cubitan tuan krab di pinggang nya.
''WADAWW!! Sakit sayang!'' seru Papi Gilang sambil mengelus pinggangnya yang terasa panas akibat cubitan dari Mak Alisa
__ADS_1
Nara dan Maura tertawa. ''Makanya jangan asal ngomong! Mana ada cebong?! Kalau kamu iya! Anak cebong!'' ketus Mami Alisa
Membuat Papi Gilang melototkan matanya. Semua yang ada disana tertawa terbahak saat melihat wajah Papi Gilang menatap garang pada Mami Alisa.