
Setelah Ali mengatakan apa yang seharusnya ia katakan, kini ia sedang memeluk erat tubuh Kinara yang terlelap. Besok pagi-pagi sekali mereka akan berangkat ke Bandung dengan pesawat pukul delapan pagi.
Kinara belum terkelola ia hanya mencoba menenangkan hati nya yang saat ini sangat ingin menjerit dan mencekik seseorang saking kesalnya.
Tubuh Kinara bergetar. Ali tau. Karena itu ia semakin erat memeluk tubuh chubby yang saat ini sedang memeluk Gading dengan erat.
''Tidurlah sayang.. jangan di ingat lagi. Besok kita harus berangkat ke Bandung pagi-pagi sekali. Abang sudah memesan tiket untuk keberangkatan kita,''
Kinara membuka matanya. Mendengar kata Bandung, ia mengangguk cepat. Bibir itu tersenyum lebar. Ali tau waksu dengan mata terpejam.
Ali sangat mengenal siapa Kinara istrinya. Walau mereka baru saja menikah, tetapi setiap perilaku Kinara yang seperti ini Ali sangat paham.
Hanya saja selama seminggu ini Ali melihat perubahan pada diri Kinara. Ia melihat perubahan fisik Kinara yang sedikit berisi. Bahkan buah melon miliknya kini sudah lumayan besar.
Ali sampai tertawa melihat buah melon kesukaan nya itu membesar setelah dua Minggu dijamah olehnya.
Keesokan paginya.
''Sudah siap?''
''Sudah, ayo sayang. Kita akan ke tempat kakek dan nenek. Abang masih ingat kan?'' ucapnya menjawab ucapan Ali dan juga bertanya pada Gading putra angkatnya.
Mereka berjalan keluar kamar setelah selesai sholat tahajud pukul empat pagi. Di bawah sudah menunggu Papi Gilang dan Tama yang akan mengantarkan mereka menuju bandara.
Lana memilih pulang setelah tadi makan makanan Alisa dan Papi Gilang memberi nasehat kepada mereka berdua. Lana dan Maura pasrah.
__ADS_1
Mereka sadar. Semua itu karena kesalahan nya. Yang telah mengabaikan Kinara dan lebih mementingkan dirinya sendiri.
Gading tersenyum saat Kinara mengatakan jika mereka akan ke Bandung tempat dimana Kedua orang tua Ali berada. Kinara sudah pernah kesana sekali ketika menyusul Gading ke Jakarta dulu.
''Tentu. Abang masih ingat kok,'' sahut Gading.
Ketiga orang itu menuju pintu depan rumah Annisa yang sudah terbuka. Dimana Papi dan Mami Alisa sudah menunggu mereka disana.
Begitu juga dengan Annisa dan Tama. Kinara tersenyum saat melihat Annisa cemberut pada Tama karena tidak di bolehkan untuk ikut dengan mereka ke bandara.
Mereka berlima masuk ke mobil untuk menuju ke bandara Kuala namu Medan. Sepanjang perjalanan Kinara terus tertawa karena kelakuan putra angkatnya itu.
Hingga Tama dan Papi Gilang pun ikut tertawa. Dua jam lebih tiga puluh menit mereka tiba di bandara Kuala namu. Tadi mereka sempat mampir sebentar untuk sholat subuh berjamaah di mesjid yang mereka lewati.
Papi Gilang membawa mereka ke suatu tempat dimana Mami Alisa dulu pernah duduk terakhir kalinya dengan nya saat ia akan berangkat ke Amerika.
Ali dan Kinara tersenyum saat Papi Gilang menceritakan kisah mereka dulu. Tama pun ikut tersenyum. Ia memang tidak tau banyak pertemuan Papi Gilang dan Mak Alisa itu seperti apa.
Tetapi Lana selalu menceritakan nya pada nya. Entah apa yang terjadi pada Lana hingga ia bersikap seperti itu pada Kinara.
Benar kata Ali. Rindu sih rindu. Tetapi janganlah tidak keluar dari kamar hingga membuat Kinara kecewa dengan ulah mereka berdua.
Tama melamunkan kejadian dimana untuk pertama kalinya setelah lima tahun ia berpisah dengan Annisa pun begitu. Ia tidak melepaskan Annisa sedikitpun.
Tama mengurung Annisa di kamar dalam artian hukuman baginya. Hingga Tama lupa bahwa ada anak kembarnya yang saat itu di jaga oleh Mitha yang kini juga sudah memiliki satu orang putra dan sekarang menyusul satu lagi.
__ADS_1
''Nak.. maafkan Abang mu. Mungkin ia sedang khilaf hingga berbuat seperti itu. Papi sudah menegur dan menasehati nya. Papi pun dulu seperti itu dengan Mami mu. Kami para lelaki terkadang memang lupa segalanya jika menyangkut istri kami. Tetapi Mami kamu selalu mengingatkan Papi agar tidak mengabaikan Ira, Lana, Annisa dan Rayyan yang waktu itu masih membutuhkan kami berdua. Papi sadar, kami pun salah dalam hal ini. Maafkan Papi, nak.. Papi sudah menasehati Abang mu.'' Lirih Papi Gilang tersenyum sendu pada Kinara.
Ali menggenggam tangan Kinara yang kini terkepal erat. Ya Ali tau, Kinara belum bisa melupakan hal itu. Rasa kesal itu masih bercokol di hatinya. Seperti kata Ali. Mudah baginya memaafkan tetapi sulit untuk melupakan!
Kinara tersenyum pada Papi Gilang, satu tangan itu terangkat untuk memegangi tangan hangat sang Papi yang dulu sering merengkuhnya ketika ia bayi.
Bahkan Kinara sering bersama sang Papi dibandingkan dengan Mami nya. ''Adek tidak apa-apa Pi. Adek sudah memaafkan Abang kok. Tetapi adek belum bisa untuk berbicara kepada mereka berdua saat ini. Semakin melihat mereka, hati ini semakin sakit! Rasanya ingin sekali mencakar wajah mereka berdua!'' ketus Kinara tiba-tiba
Tama terkekeh begitu pun dengan Ali. ''Cobalah berbicara dengan nya. Tadi pagi Papi mendapat kabar kalau Abang kamu saat ini sedang demam. Ia terus saja memanggil nama kamu sedari pulang dari rumah kakak kamu. Papi mohon nak .. jika bukan untuknya, lakukan ini untuk Papi. Papi sangat menyayangi nya. Jika bukan karena nya, mungkin sampai saat ini pun kalian berdua tidak ada ke dunia ini. Papi mohon maaf atas kesalahannya. Papi mohon sama kamu, tolong.. bicaralah dengan nya walau sebentar saja.''
Kinara melihat wajah Papi Gilang mendadak sendu. Kinara menghela nafasnya. ''Adek akan ngomong sama Abang. Tetapi nggak sekarang. Adek ingin menenangkan diri terlebih dahulu. Katakan padanya, adek sangat menyayanginya. Tetapi kasih sayang nya kini sudah tidak menjadi milik adek lagi. Adek kecil nya yang dulu sering ia bawa karena ia sudah menemukan kadih sayang dan cinta yang baru di hidupnya. Adek sayang sama Abang. Sedari dulu hingga sekarang masih tetap sama.''
''Yang membedakan nya hanyalah status kita berdua. Tetapi karena perbedaan status ini, bang Lana berubah. Adek sudah punya suami yang otomatis lebih cenderung kepada bang Ali. Tetapi nyatanya tidak. Cinta dan kasih seorang adik kepada abangnya berbeda dengan cinta dan kasih kepada pasangannya. Bang Ali memang suami adek. Tetapi bang Lana Abang, Adek. Seharusnya Abang bisa mengerti dan meletakkan dimana kasih sayang itu pada tempatnya tanpa takut akan terbagi dengan kasih sayangnya terhadap istrinya!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr ..
''Adek... Kinara.. maafkan Abang...'' Kinara menatap Papi Gilang.
''Abang menghubungi Papi karena sangat ingin mendengar suara kamu. Maafkan Papi nak..'' lirih Papi Gilang dengan menunduk.
Lagi dan lagi Kinara menahan sesak di dadanya. ''Adek udah memaafkan Abang kok. Bagaimana pun bang Lana itu Abang adek. Sebenci apapun adek sama Abang, tetapi cinta dan kasih adek mengalahkan kebencian ini untuk Abang! Istirahat lah. Setelah pulang dari Bandung nanti, adek akan menemui Abang! Adek pergi. Assalamualaikum.. ayo Bang! Sudah setengah delapan, saatnya kita harus melapor dulu,'' imbuh Kinara pada Ali yang kini tertegun mendengar ucapan istrinya itu untuk Lana yang saat ini sedang menangis tersedu terus menerus memanggil namanya.
💕
Kalau banyak typo nanti othor revisi. Like, komen dan kembang nya untuk othor ye?
__ADS_1