Penantian Kinara

Penantian Kinara
Menjemput Nara ke sekolah


__ADS_3

Terus melangkah melupakan mu..


Triiingg...


Suara pekikan alaram yang berada di atas nakas membuat Ali terjingkat kaget. Ia bangun dengan terkejut. Seperti orang linglung. Belum konek. Dan juga masih loading.


Setelah terkumpul semua nyawa yang berserakan, Ali mengambil ponselnya dan mematikan alaram nya. Setelah itu, ia mengambil handuk dan menuju kamar mandi di dalam kamarnya.


Selesai dengan aktivitas mandi, Ali sholat terlebih dahulu. Sebelum ia berangkat ke sekolah untuk menyusul Nara yang pulang sore hari ini.


''Baiklah, Abang datang sayang!'' gumam nya pada diri sendiri.


Tubuh sudah segar dan wangi. Senyum pun tidak memudar dari bibir tipis miliknya. Ia berjalan ke garasi samping rumah dan mulai mengeluarkan motor SupraXx miliknya yang ia beli dulu saat ingin tinggal bersama Lana.


Tak lupa ia bawa baju hujan khusus dirinya dan Nara. Dirasa sudah semua, Ali bergegas keluar dari komplek perumahan tentara setelah ia mengunci rumah serta pagarnya.


Sekilas ia menoleh pada rumah Lana. Rumah itu sepi. Pasti saat ini mereka sedang jalan-jalan pikir Ali. Padahal tidak. Lana sedang sibuk mencetak dan mengadon penerusnya hingga membuat Maura tepar tak berdaya.


Cukup lima belas menit menggunakan motor, Ali sudah tiba di depan pintu gerbang Nara. Saat ini jam sudah menunjukkan angka Empat lebih dua puluh lima menit. Sementara hari semakin gelap.


Ali mendongak ke atas. Rintik hujan sudah mulai turun. Dengan segera ia masuk ke parkiran motor sekolah Nara dan juga Algi. Aku duduk di motor nya, sambil memainkan ponselnya.


Ali sedang membuka aplikasi biru yang bertuliskan Noveltoon. Ia tersenyum sendiri saat membaca kisah dari seorang penulis yang begitu mirip dengan kehidupan seseorang. Kehidupan seseorang yang sering Nara ceritakan saat ia ingin tidur malam.


''Kenapa nama ini begitu familiar ya? AnTa02. Siapa ini? Kenapa aku merasa mengenal penulis ini. Ikutan ah!'' katanya


Ali senyum-senyum sendiri saat membaca novel online yang ternyata punya Kakak iparnya sendiri. Ali tidak tau itu. Tapi Nara tau. Selama Annisa berada di Bandung, Nara selalu mengikuti perkembangan novel online Annisa. Kakaknya.


Selama menulis di aplikasi itu bukan hanya bisa membuat Annisa berubah drastis. Tapi ia juga sering mengirimkan uang lebih untuk Nara sebagai uang jajan.


Ketika ditanya, berapa penghasilan kakak saat menulis di aplikasi itu? Annisa menjawab dengan tertawa.


''Beneran kamu mau tau??''


''He'em,'' sahut Nara.


Annisa tertawa lagi. ''Pertama dulu hanya ratusan ribu. Dua bulan setelah nya dua jutaan, empat bulan setelah nya naik lagi menjadi sepuluh jeti! Dan sekarang? Ratusan jeti dek!''


''Apa?! Kok bisa?! Nggak mungkin ah! Mana adek percaya!'' kilah Nara.


Annisa tertawa lagi. Pada saat itu ia sedang hamil delapan bulan. Dan ya, hanya Nara yang tau. Hebat nya Nara, ia bahkan begitu kompak menutupi itu semua dari keluarganya. Ya.. walaupun ia punya tujuan baik sih.


''Oke, akan kakak tunjukkan buktinya!'' balas Annisa.


Baru sebentar menunggu, ponsel Nara sudah berdenting. Pertanda ada pesan masuk. Nara membuka nya, dan yang terjadi adalah Nara memekik histeris di dalam kamar nya hingga membuat Mami Alisa terkejut bukan main. Dikira terjadi sesuatu dengan putri bungsunya itu.


Jika Ali tau tentang hal itu, Ali pasti akan ikutan tertawa saja. Ia masih sibuk dengan ponselnya saat Nara dari kejauhan menatap nya dengan senyum terukir indah di bibir tipisnya.


Sementara Ali di kejutkan dengan seorang gadis dibawahnya sedang berdiri menjulang dihadapan nya hingga membuat Ali terlonjak kaget.


''Permisi Bang!''


''Astaghfirullah!!'' seru Ali begitu terkejut. Ia menatap horor pada gadis itu.


Sementara sang gadis tersenyum manis padanya. Ali menaikkan sebelah alisnya. Gadis itu terkekeh. ''Maaf Bang. Saya mau ngobrol aja. Mengganggu ya?'' tanya nya.


Ali tak menyahut. Wajahnya seketika menjadi datar. Gadis itu tersenyum lagi. ''Abang lagi nunggu siapa disini? Adik, Abang sekolah disini juga kah??'' tanya nya lagi semakin membuat Ali tidak nyaman.


Bukan apa sih. Gadis di hadapannya ini begitu gesit dan sangat ingin berbicara padanya. Malas sekali sebenarnya ingin menyahuti nya. Tidak disahuti, gadis itu semakin nekad ingin berbicara padanya.

__ADS_1


Ali menghela nafasnya. Wajahnya dingin. ''Saya sedang menunggu istri saya!'' ketus Ali.


Membuat gadis itu terkejut, tapi setelah nya ia tersenyum lagi. Benar-benar! Ali begitu muak melihat nya. Ia menoleh ke depan, dimana sang istri kecil berjalan ke arahnya dengan wajah di tekuk. Kusut Mansut. Ali terkekeh.


Bibir Nara sudah maju kayak bebek. Lagi dan lagi Ali Terkekeh-kekeh. Semua itu tidak lepas dari perhatian gadis yang sedang berdiri di hadapannya.


Ia tertegun melihat Ali terkekeh seperti itu.


Tampan! Batinnya.


Sementara Ali semakin tertawa melihat Nara begitu kesal padanya. Nara berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya dilantai. Ali tertawa. Sedangkan Nara, berlalu melewati nya.


Ali yang sadar jika sang istri sedang merajuk, dengan segera menghidupkan motor nya dan berlalu meninggalkan gadis yang mematung Karena kepergian nya.


Ia terkejut kala melihat muridnya yang masih kelas dua yang Ali jemput. ''Kinara?? Bukannya tadi ia bilang mau menyusul istrinya ya?'' ucapnya


Ia masih melihat kedekatan Nara dan Ali begitu dekat. Wanita itu terkekeh kala menyadari jika Ali berbohong padanya. ''Kamu menipuku ternyata! Tunggu saja! Aku akan tanyakan ini pada Kinara besok!'' katanya lagi


Ia masih menatap Kinara dan Ali yang sedang tarik menarik. Dengan Nara merengut dan Ali tertawa.


''Ayolah sayang.. kita pulang ya? Abang nggak ngapa-ngapain kok sama itu lemper! Ayo, naik! Keburu deras ini hujannya.'' Ucap Ali pada Nara


Nara masih enggan. Ia menatap Ali dengan mata berkaca-kaca. Ali tertawa lagi. Gemas, ia memeluk tubuh chubby Nara. ''Hahaha.. jangan marah. Abang jujur sayang. Nggak ngapa-ngapain sama itu lemper! Abang lagi sibuk baca novel online di aplikasi noveltoon. Bukan nya adek suka baca cerita disana kan ya?''


Nara mencebik. Ali terkekeh. Ia semakin gemas dengan istri kecilnya ini. ''Ayo, naik dulu. Nanti Abang jelaskan. Ayo, keburu deras ini hujannya. Ini aja udah gerimis. Ayo sayangku, cintaku, hidup dan mati ku??'' goda Ali pada Nara.


Nara melengos, tapi tangan itu nakal. Malah ia mencubit pinggang Ali. Hingga membuat sang empu merintih sekaligus terkekeh geli. Nara tersenyum, walau Ali tidak tau.


Ia segera masuk dalam mantel hujan yang sudah aku pakai. Ia duduk menyamping dan mulai memeluk tubuh pria dewasa yang selalu membuatnya berbunga-bunga ini.


Ali terkekeh lagi saat tangan Nara mulai nakal. Di sepanjang perjalanan, mereka berdua saling berpelukan. Walau tubuh Nara menyamping, tapi Ali tetap merasakan kehangatan yang tercipta dari tubuh kedua nya.


Terus melangkah melupakan mu..


Triiingg...


Suara pekikan alaram yang berada di atas nakas membuat Ali terjingkat kaget. Ia bangun dengan terkejut. Seperti orang linglung. Belum konek. Dan juga masih loading.


Setelah terkumpul semua nyawa yang berserakan, Ali mengambil ponselnya dan mematikan alaram nya. Setelah itu, ia mengambil handuk dan menuju kamar mandi di dalam kamarnya.


Selesai dengan aktivitas mandi, Ali sholat terlebih dahulu. Sebelum ia berangkat ke sekolah untuk menyusul Nara yang pulang sore hari ini.


''Baiklah, Abang datang sayang!'' gumam nya pada diri sendiri.


Tubuh sudah segar dan wangi. Senyum pun tidak memudar dari bibir tipis miliknya. Ia berjalan ke garasi samping rumah dan mulai mengeluarkan motor SupraXx miliknya yang ia beli dulu saat ingin tinggal bersama Lana.


Tak lupa ia bawa baju hujan khusus dirinya dan Nara. Dirasa sudah semua, Ali bergegas keluar dari komplek perumahan tentara setelah ia mengunci rumah serta pagarnya.


Sekilas ia menoleh pada rumah Lana. Rumah itu sepi. Pasti saat ini mereka sedang jalan-jalan pikir Ali. Padahal tidak. Lana sedang sibuk mencetak dan mengadon penerusnya hingga membuat Maura tepar tak berdaya.


Cukup lima belas menit menggunakan motor, Ali sudah tiba di depan pintu gerbang Nara. Saat ini jam sudah menunjukkan angka Empat lebih dua puluh lima menit. Sementara hari semakin gelap.


Ali mendongak ke atas. Rintik hujan sudah mulai turun. Dengan segera ia masuk ke parkiran motor sekolah Nara dan juga Algi. Aku duduk di motor nya, sambil memainkan ponselnya.


Ali sedang membuka aplikasi biru yang bertuliskan Noveltoon. Ia tersenyum sendiri saat membaca kisah dari seorang penulis yang begitu mirip dengan kehidupan seseorang. Kehidupan seseorang yang sering Nara ceritakan saat ia ingin tidur malam.


''Kenapa nama ini begitu familiar ya? AnTa02. Siapa ini? Kenapa aku merasa mengenal penulis ini. Ikutan ah!'' katanya


Ali senyum-senyum sendiri saat membaca novel online yang ternyata punya Kakak iparnya sendiri. Ali tidak tau itu. Tapi Nara tau. Selama Annisa berada di Bandung, Nara selalu mengikuti perkembangan novel online Annisa. Kakaknya.

__ADS_1


Selama menulis di aplikasi itu bukan hanya bisa membuat Annisa berubah drastis. Tapi ia juga sering mengirimkan uang lebih untuk Nara sebagai uang jajan.


Ketika ditanya, berapa penghasilan kakak saat menulis di aplikasi itu? Annisa menjawab dengan tertawa.


''Beneran kamu mau tau??''


''He'em,'' sahut Nara.


Annisa tertawa lagi. ''Pertama dulu hanya ratusan ribu. Dua bulan setelah nya dua jutaan, empat bulan setelah nya naik lagi menjadi sepuluh jeti! Dan sekarang? Ratusan jeti dek!''


''Apa?! Kok bisa?! Nggak mungkin ah! Mana adek percaya!'' kilah Nara.


Annisa tertawa lagi. Pada saat itu ia sedang hamil delapan bulan. Dan ya, hanya Nara yang tau. Hebat nya Nara, ia bahkan begitu kompak menutupi itu semua dari keluarganya. Ya.. walaupun ia punya tujuan baik sih.


''Oke, akan kakak tunjukkan buktinya!'' balas Annisa.


Baru sebentar menunggu, ponsel Nara sudah berdenting. Pertanda ada pesan masuk. Nara membuka nya, dan yang terjadi adalah Nara memekik histeris di dalam kamar nya hingga membuat Mami Alisa terkejut bukan main. Dikira terjadi sesuatu dengan putri bungsunya itu.


Jika Ali tau tentang hal itu, Ali pasti akan ikutan tertawa saja. Ia masih sibuk dengan ponselnya saat Nara dari kejauhan menatap nya dengan senyum terukir indah di bibir tipisnya.


Sementara Ali di kejutkan dengan seorang gadis dibawahnya sedang berdiri menjulang dihadapan nya hingga membuat Ali terlonjak kaget.


''Permisi Bang!''


''Astaghfirullah!!'' seru Ali begitu terkejut. Ia menatap horor pada gadis itu.


Sementara sang gadis tersenyum manis padanya. Ali menaikkan sebelah alisnya. Gadis itu terkekeh. ''Maaf Bang. Saya mau ngobrol aja. Mengganggu ya?'' tanya nya.


Ali tak menyahut. Wajahnya seketika menjadi datar. Gadis itu tersenyum lagi. ''Abang lagi nunggu siapa disini? Adik, Abang sekolah disini juga kah??'' tanya nya lagi semakin membuat Ali tidak nyaman.


Bukan apa sih. Gadis di hadapannya ini begitu gesit dan sangat ingin berbicara padanya. Malas sekali sebenarnya ingin menyahuti nya. Tidak disahuti, gadis itu semakin nekad ingin berbicara padanya.


Ali menghela nafasnya. Wajahnya dingin. ''Saya sedang menunggu istri saya!'' ketus Ali.


Membuat gadis itu terkejut, tapi setelah nya ia tersenyum lagi. Benar-benar! Ali begitu muak melihat nya. Ia menoleh ke depan, dimana sang istri kecil berjalan ke arahnya dengan wajah di tekuk. Kusut Mansut. Ali terkekeh.


Bibir Nara sudah maju kayak bebek. Lagi dan lagi Ali Terkekeh-kekeh. Semua itu tidak lepas dari perhatian gadis yang sedang berdiri di hadapannya.


Ia tertegun melihat Ali terkekeh seperti itu.


Tampan! Batinnya.


Sementara Ali semakin tertawa melihat Nara begitu kesal padanya. Nara berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya dilantai. Ali tertawa. Sedangkan Nara, berlalu melewati nya.


Ali yang sadar jika sang istri sedang merajuk, dengan segera menghidupkan motor nya dan berlalu meninggalkan gadis yang mematung Karena kepergian nya.


Ia terkejut kala melihat muridnya yang masih kelas dua yang Ali jemput. ''Kinara?? Bukannya tadi ia bilang mau menyusul istrinya ya?'' ucapnya


Ia masih melihat kedekatan Nara dan Ali begitu dekat. Wanita itu terkekeh kala menyadari jika Ali berbohong padanya. ''Kamu menipuku ternyata! Tunggu saja! Aku akan tanyakan ini pada Kinara besok!'' katanya lagi


Ia masih menatap Kinara dan Ali yang sedang tarik menarik. Dengan Nara merengut dan Ali tertawa.


''Ayolah sayang.. kita pulang ya? Abang nggak ngapa-ngapain kok sama itu lemper! Ayo, naik! Keburu deras ini hujannya.'' Ucap Ali pada Nara


Nara masih enggan. Ia menatap Ali dengan mata berkaca-kaca. Ali tertawa lagi. Gemas, ia memeluk tubuh chubby Nara. ''Hahaha.. jangan marah. Abang jujur sayang. Nggak ngapa-ngapain sama itu lemper! Abang lagi sibuk baca novel online di aplikasi noveltoon. Bukan nya adek suka baca cerita disana kan ya?''


Nara mencebik. Ali terkekeh. Ia semakin gemas dengan istri kecilnya ini. ''Ayo, naik dulu. Nanti Abang jelaskan. Ayo, keburu deras ini hujannya. Ini aja udah gerimis. Ayo sayangku, cintaku, hidup dan mati ku??'' goda Ali pada Nara.


Nara melengos, tapi tangan itu nakal. Malah ia mencubit pinggang Ali. Hingga membuat sang empu merintih sekaligus terkekeh geli. Nara tersenyum, walau Ali tidak tau.

__ADS_1


Ia segera masuk dalam mantel hujan yang sudah aku pakai. Ia duduk menyamping dan mulai memeluk tubuh pria dewasa yang selalu membuatnya berbunga-bunga ini.


Ali terkekeh lagi saat tangan Nara mulai nakal. Di sepanjang perjalanan, mereka berdua saling berpelukan. Walau tubuh Nara menyamping, tapi Ali tetap merasakan kehangatan yang tercipta dari tubuh kedua nya.


__ADS_2