
Malam harinya.
Setelah kegiatan tadi siang hingga sore hari yang begitu menguras tenaga, kini Ali dan lana sudah berada dirumah masing-masing.
Selepas sholat maghrib Lana dan Ali tidak pulang kerumah mereka. Mereka memilih tetap tinggal di mesjid samapi sholat isya.
Setelah sholat isya, barulah mereka berdua pulang.
Seleruh keluarga Ali yang dari Bandung besok pagi akan balik lagi ke Bandung bertepatan dengan malda akan berangkat ke Malaysia nanti.
Dan malam ini, kedua suami itu ingin mendapatkan hak mereka setelah sekian lama. Mereka berdua kompak untuk melakukannya malam ini.
Tak ada penolakan jika sang istri mereka menolak. Hak yang seharusnya tadi malam mereka dapatkan tetapi tidak juga mereka dapatkan karena masalah yang sednag menimpa mereka.
Ada saja masalahnya. Nggak dari Ali yang baru pulang tetapi kini datangnya dari Malda. Kabar buruk untuk semua orang termasuk dua orang suami itu.
__ADS_1
Ali tersenyum saat Kinara mendatanginya dengan piring berisi kue bolu buatannya dan juga dua gelas susu coklat hangat.
Saat ini keduanya sedang duduk dibalkon rumah mereka yang sudah direnovasi. Kamar utama sudah berpindah keatas berdampingan dengan kamar si kembar.
"Duduk sini, ada yang ingin Abang sampaikan."
Kinara mengangguk.
Ia pun duduk disamping kiri Ali dan menatap lurus kedepan sembari mencomot sepotong kue bolu untuk ia makan.
"Ada apa? Apa yang ingin Abang katakan?"
Kinara menole melihat Ali. "Kok yang kayak serius banget sih? Ada apa?"
"Malam ini Abang ingin menghabiskan waktu bersama kamu berdua saja tanpa ada yang mengganggu termasuk ketiga anak kita!"
__ADS_1
Deg!
Kinara menghentikan kunyahannya. "Kenapa malam ini saja? Bukankah malam-malam seterusnya pun kita akan bersama? Kenapa Abang ngomong yang kayak mau pergi lagi?! Apakah ini tujuan Abang? Nggak! Nggak akan pernah terjadi! Cukup sudah selama ini aku berjauhan dari Abang. Dan sekarang? Abang ingin pergi lagi? Abang ingin menghabiskan waktu bersamaku, setelah itu pergi dan tidak kembali lagi, begitu??" ucap Kinara dengan suara naik satu oktaf
Ali terkejut. Ia segera berjongkok dhadapan Kinara. "Bukan begitu maksud Abang sayang. Maksud Abang-,"
"Apa? Ingin bilang hak mu harus ku penuhi setelah itu kamu akan pergi dan menghilang lagi seperti lima tahun yang lalu?? Dulu pun kamu begini. Meminta hak mu. Aku berikan. Tapi setelahnya apa? Kamu meninggalkan ku lagi begitu? Kalau aku hamil lagi bagaimana? Kamu ingin aku mengalami lagi hal yang sama seperti dulu?? Hah?!" pekik Kinara semakin kuat.
Ali gelagapan. Ia tidak tau harus berbuat apa sekarang. Sementara dirumah Lana pun demikian.
Kedua orang itu pun sedang akrena maslaah itu. Maura sampai melempari Lana dengan bantal guling saking kesalnya.
Maura menangis tersedu saat Lana mengatakan jika ia akan pergi mengantar Malda tetapi tidak tau akan pulang kapan.
Maka dari itu, ia ingin hak nya malam ini sebelum mereka pergi nantinya.
__ADS_1
Tetapi apa yang Lana dapat? Yang ada hanya kemarahan sang sitri yang begitu galak bak singa betina.
"Jangan harap aku bisa memberiakn jatah sama Abang! Jika tujuan Abang ingin menyentuhku untuk tidak kembali lagi! Lebih baik Abang keluar dari kamar ini!" tegas kedua wanita yang kini sama-sama marah pada suami mereka.