
Dirasa cukup saling mencurahkan isi hati masing-masing mereka berdua masuk ke kamar untuk beristirahat. Waktu pun sudah menunjukkan pukul 8.45 malam.
''Ayo kita istirahat. Adek besok sekolah kan ya?'' tanya Ali pada Nara sambil terus berjalan menuju kamar mereka.
Nara tersenyum, ''Iya Bang. Kira-kira Abang mau nggak ke rumah ibu Amanda untuk menghadiri jamuan makan malam itu??''
Ali menghela nafas nya. ''Kita lihat saja besok. Hadeeeuuhh.. kelamaan sih Abang jebol tanggul?? Udah nggak tahan sayang!'' keluhnya manja pada Nara. Membuat gadis kecil yang masih berusia tujuh belas tahun itu tertawa ngakak.
''Kasihan... ck. ck. hahaha...'' Aku pun ikut tertawa melihat Nara tertawa.
''Awas kamu ya! Sekali Abang membuka tanggul nya, tiap malam kamu akan Abang kurung!''
''Weleh? Seram amat Bang?! Haha..'' Mereka berdua tertawa bersama. Tanpa tau ada kejadian apa besok pagi di kediaman komandan Kevin.
Malam harinya.
''Ayo, kita kerumah Abang. Adek mau tau, apakah bang Lana sama kak Maura masih ribut atau tidak?''
''Oke,'' sahut Ali.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju pintu samping penghubung rumah Lana. Tiba disana, ternyata suami istri sudah berdamai.
Ali dan Nara pun begitu senang karena kedua kakaknya itu sudah berhasil rujuk kembali.
''Ayo, sudah siap kan??'' tanya Lana pada Nara dan Ali yang baru saja tiba.
''Ya, ayo!'' ajak Ali.
Mereka berenam berjalan kaki menuju rumah komandan Kevin untuk menghadiri undangan ibu Amanda kemarin malam.
__ADS_1
Dan disini lah mereka berenam sedang berada dirumah komandan Kevin. Mereka di undang untuk mengucapkan terimakasih pada Maura karena telah berhasil membawa perampok itu keluar dari persembunyiannya dan akhirnya mereka tertangkap.
''Maaf Maulana, karena permintaan saya istri kamu menuruti untuk mau memancing perampok itu. Kami tidak punya pilihan lain. Saya tau Maura bisa melakukan nya, maka dari itu saya meminta pada nya untuk memancing mereka masuk ke dalam komplek kita agar kami bisa mengadilinya. Senjata yang Maura pakai itu legal. Bukan ilegal. Itu senapan milik salah satu polisi yang bertanggung jawab ingin membantu kami kemarin. Maaf, gara-gara permintaan saya kalian berdua sampai ribut. Maafkan saya Lana, Maura..'' kata Ibu Amanda. Istri komandan Kevin.
Lana dan Maura saling pandang, dari mana kiranya ibu Amanda tau kalau Maura punya keahlian di bidang itu. Lana menoleh pada Ali. Ali mengangguk. Lana pun mengangguk kecil.
Sementara Komandan Kevin diam seribu bahasa. Kini ia tau, jika Maura tidak bersalah seperti yang ia tuduhkan kemarin dihadapan semua orang. Lana menatap dingin dan datar pada Ibu Amanda. Begitu pun dengan Maura.
''Tak Apa Bu.. itu sudah menjadi tugas saya untuk menolong sesama. Hanya saja .. saya kecewa dengan seseorang. Karena dirinya, suami saya terpaksa harus mendapat SP satu yang berujung, dirinya sudah di cap gagal yang akan diangkat menjadi seorang jendral!''
Deg!
Deg!
Lana menoleh pada Maura. Tatapan nya datar. Begitu juga dengan komandan Kevin. Entah seperti apa perasaan nya saat ini. Yang jelas, ada rasa tidak nyaman menelusup ke hatinya.
Bukan hanya Maura dan Lana, ada Ali, dan Nara, Mbak sus dan Malda dan juga ibu-ibu yang lain juga saat ini sedang dirumah itu. Tetapi tetangga sekitar yang ikut menyaksikan kebolehan Nara pun turut di undang untuk makan malam bersama di rumah komandan Kevin.
Mereka berkumpul bersama disana. Semuanya merasa bersalah kepada Maura. Ibu Amanda yang bertindak sebagai tuan rumah pun sudah mewakili permintaan maaf mereka semua.
Dan disinilah mereka berada. Ibu Amanda sengaja menggelar Ambal untuk duduk di bawah. Agar muat semuanya untuk duduk bersama dan makan malam bersama.
Maura dan Lana terbengong melihat sajian makan an dari istri komandan nya ini. Mereka berdua saling pandang. Begitu juga dengan Ali dan Nara. Kedua saudara ipar itu Saling lirik dan lempar tatapan saling memberi kode.
Maura dan Nara mengangguk. Ibu Amanda begitu sigap melayani para tamunya. Tiba di bagian Lana dan Ali, beliau menyerahkan makanan itu kepada Maura dan Nara.
''Terimakasih Ibu Amanda tapi mohon maaf, bisa saya meminta dua mangkuk cuci tangan? Suami dan adik ipar saya tidak terbiasa makan dengan sendok terkecuali ditempat-tempat tertentu. Jika dirumah seperti ini apalagi duduk lesehan dilantai, keluarga kami selalu makan menggunakan tangan.''
Ibu Amanda tersenyum, ''Tentu. Santi! ambilkan mangkuk cuci tangan untuk kedua tamu istimewa kita ini!''
__ADS_1
Santi mengangguk patuh. Setelah nya ia mengambil mangkuk cuci tangan itu dan diserahkan kepada Ibu Amanda dan diserahkan kepada Lana dan Ali.
Kedua pemuda itu segera makan setelah mangkuk cuci tangan itu tersedia di hadapan mereka.
Lana mengambil daging ayam panggang yang terletak dihadapan nya sepaha saja. Kemudian ia bagikan pada Maura, Ali, dan Nara. Terakhir pada Mbak Sus.
Komandan Kevin terkejut melihat nya. Ia pikir, Lana akan mengambil semua makanan itu untuk ia makan bersama istrinya. Tapi tidak, ia bahkan membagi seluruh makanan itu dihadapan semua orang.
''Abang mau mie ini? Atau urap saja?'' tanya Nara pada Ali.
Ali tersenyum, ''Urap aja. Sepiring berdua!'' katanya sambil tersenyum menatap Nara.
Nara mengangguk. Lagi, komandan Kevin tertegun. Begitu juga dengan tamu yang lain. Makanan yang tersedia disana tidaklah sedikit. Sangat banyak. Salah satunya, steak daging sapi import yang sengaja di pesan oleh ibu Amanda dari resto langganan nya.
Belum lagi makanan pencuci mulutnya begitu banyak. Membuat yang ingin makan menjadi bingung. Tapi yang membuat nya keheranan adalah.. Lana dan Ali, para istri mereka kompak memilih makanan rumahan yang sengaja dimasak Santi tadi.
Katanya makanan itu merakyat. Belum tentu yang lain menyukai makanan mewah seperti yang terhidang saat ini di hadapan mereka. Ibu Amanda begitu takjub dengan kedua pasangan itu.
Bukan ia tak tau siapa Lana, Ali, Maura dan Nara. Ke empat orang itu merupakan salah satu seseorang yang terkenal di kota Medan ini.
Mak Alisa. Wanita paruh baya itu merupakan mentor di bidang usaha dan bisnis yang ibu Amanda geluti saat ini. Makanya ia sangat tau siapa mereka. Hanya saja, keempat orang itu bahkan sama persis seperti Mak Alisa yang sangat bersahaja.
''Aku beruntung bisa mengenal Anda Nyonya. Dan sekarang keluarga anda ada dirumah saya. Dan saya jadi paham, apa arti kekeluargaan yang sesungguhnya setelah melihat kedua anak anda dirumah saya,'' gumamnya dalam hati.
Bibir itu tersenyum begitu manis saat melihat Lana menyuapi Maura dan Ali menyuapi Nara. Sangat romantis!
Ali dan Nara saling tersenyum dalam diam, mulut mereka mengunyah makanan. Ibu Amanda terkekeh melihat nya.
💕💕💕💕
__ADS_1