Penantian Kinara

Penantian Kinara
Berangkat ke Bandung


__ADS_3

Ali masih saja memeluk Kinara yang terus tertawa tetapi menangis. Gading pun ikut menangis.


''Sssttt.. udah sayang. Hentikan tawa sekaligus tangisnya itu. Lihatlah putra kita. Kamu membuatnya menangis juga loh..'' ucap Ali sembari mengurai pelukannya dari tubuh kedua orang yang ia sayangi.


Kinara terkekeh, ia mengusap air mata itu masih dengan kekehan kecil di bibirnya. Ali terus saja menatap dalam pada Kinara. Istri kecilnya. Yang sangat ia cintai.


''Udah, Mami udah nggak nangis lagi. Abang pun nggak boleh nangis ya? Ayo kita sholat dulu. Mami udah kelamaan nih sholatnya!'' Kinara tertawa lagi melihat wajah Gading merengut sebal pada Kinara.


Ali terkekeh kecil. ''Ayo, kalian berdua sholat dulu. Keburu habis Maghrib nya!''


Kinara mengangguk dan bangkit segera berlalu menuju musholla di dalam rumah Annisa. Begitupun ketiga orang yang sedang di dapur itu. Mereka berdua terharu karena Gading bisa menjadi penyemangat untuk Kinara yang saat ini sedang kecewa kepada mereka semua kecuali Annisa dan Tama.


Selepas Maghrib, semua orang duduk lesehan di lantai. Di hadapan mereka sudah terhidang makanan enak masakan kak Ira, Annisa dan Maura.


Ketiga wanita di dalam keluarga besar Bhaskara semuanya bisa memasak. Termasuk Kinara. Mereka sangat pintar memasak. Para suami tidak pernah lapar jika hidup bersama para wanita jago masak itu.


''Adek nggak masak Bang. Abang mau makan apa? Biara dek masakan?''


Deg!


Deg!


Semua orang memandang Kinara yang saat ini sedang menuangkan lauk ke dalam piring suami masing-masing. Mereka seakan lupa kalau ada Kinara yang sedang kecewa dengan mereka semua.


Ali tersenyum, ''Kita makan yang ini aja. Tak apa. Oh,ya Pi, Mi. Besok aku dan Kinara akan berangkat ke Bandung. Abi udah bilang tadi. Katanya kamu jmharis kesana Karen salah satu dari adikku ada yang melamar,''


Mami Alisa tersenyum, ''Pergilah. Masih ada waktu satu bulan lagi kan ya untuk kalian jalan-jalan??''


Ali terkekeh, Kinara hanya diam saja. Ia tidak sedikitpun menyentuh makanam yang dimasak oleh para Kakaknya. Annisa yang paham, segera mengambil mangkuk khusus yang sudah ia lainkn untuk Kinara makan.

__ADS_1


Karena ia tau, kalau Kinara sedang marah jangankan untuk makan menyentuh pun ia tidak ingin. Hatinya terlanjur kecewa tadi.


Annisa bangkit ke dapur dan mengambil mangkuk berisi sayur itu untuk Kinara. ''Ini kakak masak untukmu tadi. Kakak tau.. kamu pasti tidak selera dengan semua itu bukan??''


Annisa menyodorkan sepiring sayur lengkap dengan ikan dan juga telur balado untuk Kinara. Kinara tidak mengambilnya. Matanya menatap mangkuk sayur itu tetapi hati dan pikirannya meraba-raba entah kemana.


Papi Gilang menghela nafasnya. Lana dan Mura yang sudah makan pun menatap sendu padanya.


''Sayang..'' Ali menyentuh lembut tangan Kinara yang dingin.


Kinara tersentak. ''I-iya Bang. Kita makan. Abang mau makan yang mana? Yang ini? Gading mau yang mana?'' tanya Kinara pada Ali dan Gading.


''Abang mau makan sama Mami dan Papi bertiga di balkon atas. Boleh kan Mi?''


Deg!


Kinara berhenti menyiduk sayur. Ia menatap Gading yang kini menatapnya dengan tatapan mata sendunya. Ali mengangguk, ''Ya, ayo!''


Tiba di balkon saja, Gading mendudukkan Kinara lesehan dilantai yang sudah tersedia Ambal disana. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Anisa dan Tama serta kedua anaknya.


Gading menghadap Kinara dan mengusap Pipi Kinara yang sudah mengeluarkan air bening lagi. Gading memeluk erat tubuh Kinara.


Kinara tersedu. Sementara di bawah sana semua orang terdiam tanpa kata. Ali sibuk mengambil makanan dan ia letakkan ke dalam dua piring tetapi versi jumbo.


Melihat itu Annisa melotot. Tama terkekeh. ''Porsi makan adek bertambah ya Li setelah kamu pulang??'' goda Tama pada Ali.


Ali terkekeh, ''Nhgak tau juga sih Bang. Seminggu ini adek suka sekali banyak makan. Jika dikit ia merajuk tetapi tidak menangis. Papi.. Mami... Abang dan Kakak ipar. Maafkan istriku yang saat ini sedang kecewa. Ia hanya sedang kecewa tidak lebih kok. Jangan dimasukkan ke hati ya?'' Ali menatap Maura dan Lana.


Tatapan itu bertemu. Tatapan mata kecewa dari Ali untuk Lana. Maura menunduk. ''Maaf.. Karena kehadiran ku di dalam hidup bang Lana membuat Nara menjadi matahari sepeti itu. Aku tidak berniat sekalipun untuk merebut bang Lana darinya. Tapi-,''

__ADS_1


''Sudahlah Kakak ipar! Semua ini hanya salah paham saja. Seharusnya aku yang salah disini. Seharusnya aku yang lebih mengerti keadaan kalian berdua! Seharusnya aku yang mencegah Kinara agar tidak datang kerumah kalian. Aku pikir, tidak apa jika saudara sendiri datang kerumah abangnya. Ternyata aku salah.. bahkan sangat salah mengganggu orang yang sedang berbagi kasih setelah sekian lama. Seharusnya aku paham. Maafkan kesalahan ku dan istriku bang Lana. Mulai hari ini aku akan mengingat kan Kinara agar tidak sering datang kerumah mu. Aku ke atas dulu. Kinara pasti lapar saat ini!'' ucap Ali dengan suara dingin tetapi begitu menusuk ke dalam hati.


Ia bangkit menuju balkon atas dengan menaiki tangga. Sedangkan Lana merasakan sesak yang tiada Tara ketika tatapan Ali yang begitu menghunus jantungnya.


Tidak ada yang berbicara setelah kepergian Ali. Papi Gilang menoleh semua orang. Semuanya berwajah sendu. Apalagi Annisa. Sedari Lana tiba, tidak sedikitpun ia bertegur sapa dengan Lana. Ia sangat sepeti Kinara saat ini. Sedang kecewa.


''Ayo kita makan. Jangan lagi membahas hal ini-,''


''Tidak perlu di ingatkan Papi! Yang kecewa disini bukan hanya Kinara! Tetapi Kalla juga! Untuk kamu Bang Maulana Akbar! Cukup sampai disini kamu selalu melukai hati adikku! Itukah tujuan mu menolak adek dengan Ali? Agar kamu terlepas dari tanggung jawabmu?? Ingat Bang Lana! Walaupun kamu sudahenikah dan memiliki istri yang sangat kamu cintai hingga kamu rela memberikan nyawa kamu untuknya, tetapi kamu tetap bertanggung jawab kepada Mak dan juga saudara perempuan mu yang lainnya!''


''Bukan berarti jika kamu sudah menikahkan nya kamu bebas tidak melihat dan mendengar nya lagi. Kamu harus ingat Bang Lana! Kinara itu adik kandung kita walau berbeda Ayah! Ayah kita Menag sudah tiada! Tetapi Papi kita?? tidakkah kamu ingat siap dulu yang sangat ingin kamu temui hingga kamu rela kecelakaan karena mengetahui Papi menikah dengan orang lain tetapi bukan dengan Mak kita??''


''Sayang...''


''Kakak...'' tegur Tama dan Papi Gilang bersamaan.


''Tak apa Bang. Papi. Sebelum Abang menyalahkan Kinara, kakak ingatkan dulu hal ini pada seseorang yang telah luap akan darimana dirinya berada dan berasal! Jika bukan karena Papi, mungkin saat ini hidup kita tidak akan seenak ini. Tidakkah kamu menyayangi Kinara sedikit saja sebagai balas budimu kepada Papi, Bang Lana?? Sungguh, aku kecewa padamu Bang Lana! Sangat kecewa! Lebih baik tidak memiliki saudara lelaki daripada punya tetapi menyakiti hati saudara yang lainnya seperti ini!''


Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...


💕💕💕💕


Noh.. takkan putus air di cincang bang Lana! eh? hihihi..


Oke deh, sambilan nunggu cerita ini update, mampir dulu yuk ke karya temen othor yang satu ini.



Noh, cus kepoin!

__ADS_1


Like dan komen ye?


__ADS_2