
Hari ini Ali dan Lana pergi ke camp untuk menemui jendral Sudirman karena ada masalah yang harus dibahas. Mereka berbicara sejenak sebelum pulang kerumah masing-masing.
Saat sedang berbicara dengan jendral, Lana di kejutkan dengan kemarahan komandan Kevin. Ia mengatakan jika Lana punya istri sok jagoan. Tidak bisa menjaga Marwah seorang suami saat ia bekerja.
Belum lagi Maura yang begitu pintar memegang senjata. Semua itu karena Lana yang mengajarkan nya. Komandan Kevin menuduhnya telah melakukan kesalahan karena telah mengajarkan Maura hal yang tidak baik.
Hingga komplek kediaman mereka saat ini di datangi oleh perampok dan ingin merampok barang milik mereka semua.
Lana merasa panas mendengar nya. Ia dipanggil atasan untuk mendapatkan SP 1 karena melanggar peraturan yang tertera. Lana begitu geram.
Sepanjang perjalanan ia terus diam. Tidak berkata sepatah katapun. ''Udah Bang.. jangan dengarkan apa kata komandan Ali. Kita lihat dulu buktinya benar atau tidak. Abang tidak boleh terpancing dengan perkataan nya. Jangan sampai kakak ipar salah paham nanti sama Abang. Selesaikan ini dengan kepala dingin.'' Ucap Ali menenangkan Lana.
Tapi Lana tidak menyahut. Wajahnya begitu datar saat ini. Ali menghela nafasnya. Ia memilih diam daripada memperkeruh Suasana.
Sepanjang jalan yang ia lalui ditemani dengan keheningan. Lana dengan kekesalan nya pada sang istri. Sedangkan Ali dengan pemikiran yang entah akan seperti apa nanti saat Lana tau yang sebenarnya.
Tiba di komplek perumahan nya, benar saja seperti komandan Kevin. Lana turun dengan berlari saat mendengar suara letusan senapan.
Sementara Maura ia sedang tertawa puas. Ia mendial satu nomor dan langsung saja semua tentara berhamburan keluar dari persembunyian mereka.
Dor!
Tembakan pertama di tujukan pada ban motor perampok yang berbalik itu.
Dor!
Tembakan kedua dari seorang polisi pada ke Lima motor perampok yang mencoba kabur dari kompleks perumahan tentara itu.
__ADS_1
Dor!
''Bu Maura!!'' pekik Mbak Sus
Deg!
Seseorang berdiri mematung dibelakang nya. Maura tidak sadar dengan kelakuan nya itu yang sengaja membidik timah panas itu kepada seorang perampok yang ingin mengarahkan celurit ke leher Malda.
Dor!
Dor!
Dor!
''Arrrgggghhttt..''
''Arrrgggghhttt..''
Dor, Dor!!
''Berani sekali kau ingin menyakiti putriku? heh?! Apa belum cukup dengan sekali timah panas ini menembus kakimu?! Belum cukupkah korban yang sudah kau rampok hartanya selama ini?! Kau salah bermain-main dengan ku! Kau salah mengganggu ku perampok sialaaaaannn!! Berani nya kau bilang aku wanita sialan?! Heh! Kau yang sialan! Kau yang jahat yang telah merampok semua orang!! Bukan aku yang jahat! Sialan!!'' umpat Maura begitu menggebu-gebu.
Kakinya bahkan sampai menendang kaki perampok itu yang ia tembak baru saja. ''Kau ingin membunuh putriku, heh?! Sialaaaaannn!!!!'' umpat Maura untuk yang kesekian kalinya.
Seseorang dibelakang tubuhnya, mulutnya sampai menganga. Sedangkan seseorang disamping nya terkikik geli.
''Hihihi.. Kak Maura hebat Bang! Seharusnya Abang jadi polisi saja. Jangan tentara! Sikap kak Maura yang seperti ini, sifat seorang istri Bhayangkara! hihihi..''
__ADS_1
''Diam Ali!'' sentak Lana.
Deg!
Maura terkejut mendengar suara itu. Tubuhnya tiba-tiba menegang. Sedangkan Lana mendekati Malda dan memeluknya. Sementara Lana meninggalkan Maura begitu saja.
Maura berbalik dan melihat Lana membawa Malda. Mbak Sus pun sama kagetnya. Hari ini gadis cantik keturunan Jawa Aceh itu dikejutkan dua kali oleh majikannya.
Pertama, karena perampok itu dan kedua karena Maura memegang senjata berpeluru bertimah panas.
Mbak sus mendekati Maura yang sedang mematung melihat Malda dibawa oleh sang suami. ''Bu...''
''Eh? I-iya. Ayo kita pulang!'' katanya pada Mbak Sus sambil menyeka air mata yang menetes sekaligus menaiki motor nya dan berlalu dari hadapan kedua orang itu.
''Hadeeuuuhh.. Abang lagi. Suka banget sih buat kesalahan dengan cara mendiamkan! Kalau terjadi sesuatu, aku tidak akan tanggung jawab! Ck! Ayo Mbak Sus, kita pulang! Kamu harus mengabari ku tentang rumah mereka! Aku tau seperti apa Bang Lana. Jika ia sudah marah, maka seperti inilah jadinya. Ia akan melakukan yang sama kepada istrinya jika sedang marah kepada orang lain! Ayo!'' ajak Ali pada Mbak Sus.
Mbak Sus menurut. Mereka berdua berjalan beriringan. Di temani oleh warga komplek itu. Sementara Ke sepuluh orang permapok itu sudah dibawa ke kantor polisi.
Untuk dimintai keterangan dan mengobati luka mereka. Semua ibu-ibu tentara itu tersenyum senang.
''Akhirnya, berkat ibu Maura jalan itu pasti akan ramai kembali. Tapi.. sekilas aku melihat jika komandan Lana begitu marah pada istrinya? Gimana ini? Apakah kita harus mengatakan yang sebenarnya pada nya??'' kata salah satu istri komandan tentara itu.
''Jangan! Situasinya belum membaik! Kita tunda dulu. Kita harus lihat bagaimana keadaan rumah mereka. Baru setelahnya kita datang ke rumah mereka untuk mengucapkan terimakasih dan maaf. Ayo, kita pulang dulu. Santi! Pantau terus perkembangan rumah mereka ya? Jika semakin memburuk, maka segera kabari kami. Hem??''
''Baik, Mbak!'' sahut Santi.
Setelah itu, mereka semua pergi dari sana dan pulang kerumah masing-masing. ''Baiklah kalau begitu, aku pulang ya Bang? Nara pasti sedang menunggu ku saat ini.''
__ADS_1
''Hem,'' sahut Lana tampil menoleh sedikitpun. Ia berjalan duluan meninggalkan Maura yang mematung karena kepergiannya.