
"Terimakasih sayang.. Kamu sudah menyadarkan kami dan juga kakak ipar kita. Maaf.. Jika Kakak sempat memarahi Abang karena Kakak mengira kalian egois.." ucap Annisa setelah pelukan itu terlepas.
Air mata masih bercucuran di pipi semua orang. Tak terkecuali Ummi Siti dan Abi Husen. Mereka pun baru tau.
Ternyata perdebatan enam bulan yang lalu begitu pelik. Hingga membuat seluruh keluarga sangat geram dengan sikap Lana dan Maura.
Tetapi hari ini. Berkat keteguhan hati Kinara yang rela mengalah asal keluarga mereka berkumpul dan bersatu lagi, akhirnya masalah itu selesai.
Maura yang sudah tidak ingin berada disana segera pulang kerumahnya di tuntun oleh Mbak sus Tia. Yang masih bekerja pada Lana hingga saat ini.
"Maaf Bu Maura. Saya terpaksa berbicara hal ini kepada Anda. Jika anda ingin memecat saya, silahkan! Sudah berulang kali saya mengingatkan Anda bu Maura. Jangan terlalu berpikiran negatif terhadap ipar sendiri. Belum tentu Kinara akan seperti itu. Kinara gadis yang sangat baik dan penuh perhatian selama saya ikut bersama Anda, Bu Maura!"
"Anda telah salah menilainya. Seharusnya Anda sebagai seorang istri mendukung suami Anda untuk suami Anda melihat dan mengurusi adiknya yang sedang berduka. Biarkan Pak Lana melakukan tugasnya sebagai seorang Abang untuk adiknya. Karena bagaimana pun mereka sekandung ibu."
"Jangan takut jika Kinara akan merebut perhatian suami anda, Bu Maura! Dari yang saya lihat beliau tidaklah seperti itu. Bahkan beliau bisa membagi kasih sayangnya. Yang mana istri dan yang mana saudara, Bapak bisa memilahnya. Beliau memiliki kasih sayang yang tulus untuk kalian semua. Termasuk saya yang hanya seorang pembantu dirumah ini."
"Seharusnya Anda bisa adil Bu Maura. Bukan malah membuat suami Anda semakin merasa bersalah terhadap adiknya. Taukah Anda Bu Maura. Selama ini bapak selalu pulang malam karena mencari Kinara!"
__ADS_1
Deg!
Deg!
Maura menoleh pada Mbak sus yang kini sedang menatapnya dengan wajah datar.
"Bapak sengaja tidak mengatakannya kepada siapa pun tentang hal itu. Selama berapa bulan terakhir beliau tidak pernah mendapat tugas dari atasan melainkan untuk melindungi Kinara dan selalu mengawasinya. Tidakkah Anda berpikir sedikit saja bu Maura?"
"Bagaimana kalau seandainya terjadi sesuatu dengan Kinara di jalan sana sedang kalian tidak memperhatikan nya sama sekali dan ia pun meninggal. Misalkan. Apakah bapak dan ibu bisa mengembalikan waktu yang sudah lewat dimana kalian selalu mementingkan diri sendiri dibandingkan Kinara yang saat itu sedang hamil tanpa seorang suami? Akankah anda tidak menyesal suatu saat jika keputusan anda yang telah mengikat suami Anda dengan alasan mengidam demi rasa iri dan benci di hati anda hingga berakibat fatal bagi Kinara??"
Deg!
Deg!
Lima orang di depan pintu sana mematung mendengar ucapan Mbak Sus Tia. Salah satu orang kepercayaan Lana yang selama ini mengawasi dan menjaga Maura dan Kinara sekaligus. Hal yang sama sekali tidak diketahui oleh Maura dan Kinara.
Maura tertegun dengan serentetan ucapan Mbak sus Tia.
__ADS_1
"Anda salah bu Maura. Pemikiran anda yang terlalu dangkal membuat anda mengambil keputusan yang salah dengan cara memberi jarak pada suami anda untuk menjauhi Kinara. Padahal Anda sangat tau. Jika suami anda sangat menyayangi Kinara lebih dari nyawanya sendiri! Sama seperti anda dan ke lima anak anda! Ia rela tidak pulang demi mencari keberadaan adiknya yang entah dimana!"
"Ia sampai tidak tidur malam demi mengawasi rumah Kinara takut terjadi apa-apa dengan adik bungsunya itu. Karena ia tau, suami Kinara sudah menitipkan amanah padanya untuk menjaga Kinara sampai ia kembali. Tidakkah anda berpikir tentang itu Ibu Maura??!"
Tes.
Tes.
Buliran bening dari pipi semua orang termasuk Mbak sus mengalir di pipi semuanya. Sakit sekali saat mendengar srentetan ucapan mbak sus yang memang benar adanya.
"Seharusnya anda sebagai seorang istri mendukung suami Anda karena beliau masih memegang amanah dari iparnya. Tetapi tidak. Karena anda. Pak Lana sampai harus sembunyi-sembunyi untuk mengawasi dan melindungi Kinara dari jarak jauh!"
"Beliau sengaja pergi pagi pulang malam hanya untuk melihat Kinara diluar sana! Beliau sengaja berbohong kepada anda dengan mengatakan pekerjaan! Karena jika sampai beliau jujur, maka Anda akan mengikat kakinya lagi sama seperti yang sudah-sudah! Sungguh, anda tidak bisa di contoh untuk menjadi seorang istri yang baik Ibu Maura! Maaf.. Saya lebih memilih di pecat daripada saya bekerja dengan orang seperti anda. Seorang wanita tetapi tega menyakiti wanita hamil lainnya hingga saat ia melahirkan pun ia memilih mengalah demi anda dan anak-anak anda!"
"Jika itu anda, saya yakin. Anda tidak akan bisa melakukannya. Karena saya sangat mengenal dengan sifat Anda Nyonya Maura Putri Kartika! Anda tidak memiliki kasih sayang yang tulus terhadap saudara sendiri. Anda hanya ingin hidup sendiri. Tetapi Anda memaksa Pak Lana untuk ikut dengan perbuatan anda. Sampai-sampai ia sulit memilih mana yang harus di dulukan. Hingga terciptalah sebuah kebohongan. Kebohongan yang disebabakan oleh anda, nyonya Maura!"
"Maaf nyonya. Saya berhenti menjadi pengasuh anak Anda. Saya mengundurkan diri sekarang juga. Saya tidak mau menjaga dan mengurusi seorang wanita yang egois yang tidak memiliki kasih sayang seluas samudera seperti pak Lana. Maaf Pak Lana. Saya harus kembali ke markas! Tugas saya sudah cukup sampai disini!" tegasnya dengan segera berlalu ke kamarnya dan meninggalkan semua orang yang kini tertegun dengan ucapan Mbak sus Tia
__ADS_1