Penantian Kinara

Penantian Kinara
Jadi sorotan


__ADS_3

Ali terus saja tertawa tetapi air mata itu mengalir. Nenek Ayu tertegun melihat itu. Sementara Ali, Fathir dan juga Mbak sus Tia semakin erat memeluk erat tubuh Ali.


"Hiks.. Abang masih hidup! Hiks.. Abang masih hidup! Terimakasih ya Allah. Engkau mengabulkan doa ku! Benar kan sayang. Lihatlah sekarang. Bang Ali masih hidupkan? Haaaaa..aaaa Bang aliiii.. Haaaa..." raung Fathir masih dalam pelukan erat Ali.


Saat ini keduanya sedang terduduk dilantai mesjid Madinah di mana para jamaah umroh pun sedang duduk disana.


"Hiks.. Abang masih hidup dek. Abang masih hidup. Ya allah..nggak nyangka Abang bisa ketemu kamu disini. Kamu sudah menikah dengan Tia? Sejak kapan?" tanya Ali pada Tia yang kini sudah mengurai pelukannya sedangkan Fathir masih memeluk erat tubuhnya.


Ia masih tersedu. Tidak ingin melepaskan Ali sedikitpun. "Kami baru aja menikah Bang. Pak Lana memberikan hadiah ini kepada kami. Karena kesibukan Bang Fathir kami terpaksa menundanya. Dan inilah saatnya. Seolah Allah memang sengaja mengirim kami untuk datang kesini. Dan lihatlah sekarang. Kami bertemu dengan seseorang yang telah dinyatakan meninggal saat bertugas empat tahun yang lalu.." lirih Tia semakin tersedu.

__ADS_1


Jangan tanya seperti apa Fathir saat ini. Ia bahkan tidak melepaskan Ali sedikitpun karena takut Ali akan pergi lagi. Ia semakin erat saja memeluk tubuh itu.


"Lepaskan dulu dek. Banyak yang harus Abang tanya sama kamu tentang semuanya!"


Fathir menggeleng. "Enggak. Aku nggak akan lepasin Abang! Abang pasti akan pergi lagi setelah ini! Nggak mau!" keukeuh Ali


Ia menggeleng dan semakin erat memeluk tubuh Ali. Beberapa orang Indonesia menghampirinya karena melihat Fathir seperti itu.


"Nggak ada Pak. Ini adik saya. Ia sedang bahagia karena mengetahui jika aku masih hidup padahal saya sudah dinyatakan tewas empat tahun yang lalu. Kami baru saja bertemu. Setelah empat tahun berlalu. Saking senangnya adik saya ini, ia sampai tidak ingin melepaskan saya sama sekali." Ali tertawa saat mengatakan hal itu.

__ADS_1


Fathir semakin tersedu. Ali mengusap lembut punggungnya. "Hoo.. Kami pikir ada apa tadi. ya sudah. Sebaiknya kita kembali. Sebentar lagi waktunya sholat ashar."


"Ya Pak. Bapak duluan saja. Saya bersama Nenek dan adik saya akan menyusul," balas Ali dan diangguki oleh bapak-bapak itu.


Ali tertawa saat melihat wajah sembab Fathir. "Hiks.. Jangan ketawain! Abang harus tanggung jawab! Malam ini kita harus berbicara! Kami harus balik dulu. Nanti malam kita bertemu lagi disini. Awas aja kalau Abang pergi lagi dan tidak mengizinkan aku ikut. Abang akan kulaporkan sama Bang Lana. Dan akan ku bilang kalau Abang saat ini sudah menikah lagi. Biar Bang Lana ngamuk sama Abang. Hiks. Ayo sayang! Nanti malam kita kesini lagi. Awas kamu Bang! Kamu berhutang penjelasan kepadaku!" ketusnya dengan segera bangkit dan meninggalkan Ali dan Nenek Ayu yang kini melongo memandangi kepergiannya.


Setelah itu keduanya saling pandang dan tertawa saat menyadari ucapan Fathir yang mengatakan jika ia sudah menikah lagi.


Keduanya tertawa bersama hingga menjadi sorotan orang-orang disana. Sedangkan Fathir yang sudah berjalan lebih dulu pun ikut terkekeh walau air mata terus mengalir di pipinya.

__ADS_1


Mbak sus Tia dengan segera merangkul pinggang sang suami dan ingin membawa ia masuk ke tempat mereka sebelum nanti malam akan banyak hal yang akan mereka berempat bicarakan.


__ADS_2