Penantian Kinara

Penantian Kinara
Memasak makan malam


__ADS_3

''Ayo kita masuk. Ayo, kita bawa semua sayur ini dan dibersihkan. Udah hampir Maghrib,'' ucap Ummi Siti pada semua nya.


Semuanya mengangguk patuh. Kinara membawa masuk buah pepaya mengaku dua buah, Sekian membawa satu dan sayur bayam.


Yulia membawa sayur kangkung. Sedangkan ummi Siti, Ani Husen dan Ali mereka mencuci tangan di kran air yang ada di belakang rumah mereka.


Tiba di dapur ia langsung saja mengupas buah pepaya itu itu dibantu oleh Yulia. Delia mencuci bayam dan kangkung yang sudah ia petik tadi.


Karena Abi Husen ingin makan cah kangkung ala Delia yang sangat enak itu. Sama seperti masakan Kinara. Sebenarnya cah kangkung itu merupakan resep dari Kinara.


Tetapi yang mereka tau, kalau masakan itu Delia lah yang memiliki resep itu. Abi Husen tidak tau itu. Begitu pun ummi Siti.


Pernah suatu ketika abu Husen sakit dan begitu menginginkan masakan Kinara. Yaitu telur balado dan juga cah kangkung buatannya.


Delia ingin memasak kan sayur itu. Tetapi tidak bisa. Ia kurang tau apa resepnya. Ia berinisiatif untuk menghubungi Kinara. Dan ya, dengan senang hati Kinara mengajarkan adik iparnya yang lebih tua darinya itu.


Mereka bertiga sibuk memasak hingga waktu adzan Maghrib berkumandang. ''Hentkksn dulu sayang. Ayo, kita sholat dulu. Nanti disambung lagi. Kamu juga Dek!'' ucap Ali pada Nara dan kedua adiknya.


''Oke! Selesai! Ayo, kita sholat dulu. Setelah ini kita sambung lagi!''


''Ya,'' sahut Delia dan Yulia.


Mereka bertiga menuju ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan sholat berjamaah di musholla rumah mereka yang sudah lumayan luas berbeda dari yang dulu yang hanya muat untuk dua orang. Kini bisa menampung lebih dari dua puluh orang.


Nara masuk ke kamar nya dimana Gading sedang memakai baju sendiri tanpa bantuan Ali. Ia tersenyum, saat ingin menyentuh kepala Gading. Putra angkatnya itu bergeser.


''Jangan sentuh Abang, Mami! Abang udah wudhu!''


Deg!


Kinara terkejut. ''Abang?'' panggil Nara pada Gading.


Gading tersenyum hingga menunjukkan gigi putihnya. ''Hehehe.. jangan marah atuh, Mi. Papi yang bilang. Kalau udah wudhu tidak boleh bersentuhan walau dengan Mami!'' jelas Gading membuat Nara hampir menangis.


Mata itu berkaca-kaca. Gading menatap Kinara dengan dalam. Ia tau sang Mami sedang sedih saat ini. Ia menunduk.


Ali yang baru siap wudhu pun keheranan, Nara berlalu pergi melewati Ali begitu saja. Ali mendekati Gading dan bertanya, ''Mamai kenapa nak?''


''Hah? Enggak.. Mami nggak Pa-pa kok. Palingan gerah amai mandi. Tadi Abang goda dikit, ya.. gitu deh!'' sahut Gading sembati nyengir kuda

__ADS_1


Ali terkekeh, ia mulai melaksanakan sholat Maghrib di ikuti gading menyusul dengan Kinara yang sudah berwudhu.


Lima belas menit kemudian, Kinara keluar dengan tergesa. Ia langsung menuju dapur. Disana sudah menunggu Delia. ''Ini diapakan lagi Teh?'' tanya Delia pada Kinara yang saat ini sedang menumis bumbu menggunakan dua kompor.


''Cuci dulu lalu tiriskan. Udah itu bawa kesini. Biar di tumis sana bumbu yang sudah di haluskan tadi.''


''Oke!'' sahut Delia.


Tangan dua wanita itu bergerak cepat. Nara sudah tidak sabar ingin makan tumis pepaya yang ditumis dengan merica, bawang merah dan bawang putih yang sudah dihaluskan. Dan ditambah teri sedikit untuk menambah citarasa pada tumisan nya itu.


Bau harum dari tumisan Nara itu hingga keruang tamu. Dimana saat ini sedang kedatangan tamu Abi Husen. Ada Ali dan Gading, dan juga Amir disana.


Mencium bau harum itu Aku tersenyum, seseorang itu bingung. ''Kenapa kamu senyum?'' tanyanya.


Amir terkekeh. ''Itu Teteh Nara yang sedang memasak A'. Teh Nara sangat jago masak. Itu di dapur lagi masak sama Teh Delia?''


''Iyakah? Jadi penasaran nih sama Teh Nara ini! Seperti apa sih orangnya?'' goda seseorang itu pada Ali.


Ali memutar bola mata malas. ''Kenapa kamu sangat ingin tau dengan istriku Bang Arfan?'' ketus Ali tidak suka.


Arfan tertawa. ''Ksmu itu selalu seperti itu. Kenapa sedari dulu kamu tidak mau memanggilku dengan Aa' sih?''


''Malas!'' ketus Ali.


Nara yang sudah selesai dnehn masakannya pun mulai mengambil piring dan juga mangkuk untuk sayur yang sudah ia masak.


''Bawa ke depan Dek! Ini juga!'' titah Kinara pada Yulia.


''Siap! Hemm .. endk banget baunya? Hemm.. pasti sangat enak!'' celutuknya membuat Bara dan Delia tertawa.


Setelah makanan semua terhidang di tikar yang sudah di bentang oleh Amir tadi, Yulia dengan memanggil seluruh keluarga untuk makan malam. Di ikuti oleh Arfan di belakang nya.


Mereka berempat masuk ke ruang makan dengan sedikit bercanda. siapa lagi pelakunya kalau bukan Arfan. Abang sepupu Ali yang dulu pernah menyukai Maura. Istri Bang Lana sebelum mereka menikah.


Tiba di ruang makan Arfan mematung melihat Kinara.


Deg!


Deg!

__ADS_1


Jantung itu tiba-tiba saja hampir melompat keluar Kaka melihat gadis kecil yang dulu pernah menolongnya.


Yang lain pada duduk tetapi tidak dengan Arfan. ''Kinar?''


Deg!


Deg!


Kinara yang sedang mengambilkan piring untuk mengisi nasi dan lauk yang akan ia berikan pada Abi, kini tangan itu berhenti seketika.


Kinara merasa familiar dengan suara itu. Suara sesey yang dulu pernah ia tolong satu tahun yang lalu saat ia menyusul Gading ke Jakarta selesai dari berobatnya.


Kinara menoleh, dan.. ''Bang Arfan? Disini? Bukannya Abang di Jakarta ya?''


Deg!


Kantung Ali seperti di tikam sbilu secara tiba-tiba. Wajah itu terkejut karena sang istri menganalisis saudara sepupunya itu. Saudara sepupu yang pernah menyukai dan memaksa Maura dulu.


Ali menatap datar pada Kinara. Sedang yang ditatap masih menatap bingung pernah.uda yang merupakan saudara sepupu Ali itu.


''Sudah, kita makan dulu. Nanti aja bahas masalah itu. Duduk Fan!''


''I-iya Bi..'' sahut Arfan karena terkejut mendengar suara Abi Husen yang mendadak tegas padanya. Lebih terkesan dingin sih menurut Arfan.


Ia duduk berhadapan dengan Kinara dan Ali. Disampingnya ada Amir dan Yulia. Di ujung sana ada Abi dan ummi. Sedangkan Delia duduk di sebelah Kinara.


Ia sangat suka duduk bersama Kinara kalau mereka ngumpul bersama saat makan. Kinara kembali mengambil sayur setelah melihat Arfan duduk.


Sedari ia duduk, Arfan terus menatap Kinara. Tangan Ali mengepal erat. Abi Husen tau itu. ''Tundukjsn pandanganmu dari pandangan yang seharusnya bujsn milikmu! Ingat! Kinara adalah istri adik sepupuku yang merupakan bukan mahram mu!''


Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...


Arfan dan Kinara tersentak kaget mendengar ucapan Abi Husen yang tiba-tiba saja mengejutkan dua orang yang senang melamun itu.


Jika Nara memikirkan siapa rgan di keluarga Ali. Sedangkan Arfan berfikir jika Kinara adalah istri Ali? Sepupunya?? Dan ya, sua itu terjawab.


Sendok yang ada ditangan Kinara tiba-tiba saja terjatuh di mangkuk keramik berwarna putih dan kuning keemasan membuat ruangan itu berisik dengan suara dentingan sendok di tangan Kinara itu.


Kinara mental Ali. ''Sepupu Abang??'' tanya Kinara pada Ali.

__ADS_1


Ali diam. Amir menjawab, ''Iya Teh. Aa' Arfan ini Abang sepupu kita dari Abi Hasan saudara kembar Abi. Beliau baru saja pulang dari mesjid dan mampir disini bersama adek tadi. Dan Aa' pun tau dari adek kalau A' Ali baru aja pulang dari bertugas dan membawa istrinya serta kesini. Maaf.. adek salah..'' lirih Amir sambil menunduk.


Ali menatap datar pada Amir. itu yang tau bersalah menunduk.


__ADS_2