
Malda tertawa begitu pun dengan Ali.
"Tenang dulu, Mi. Panglima Satria memang sama seperti Opa Gilang, Papi Lana dan Papi Ali. Beliau juga sama seperi kalian bertiga. Kakak nggak nyangka juga sih. Pertama kali melihatnya, kakak sempat kaget. Tetapi setelah lama mengenalnya, kakak tau ia pemuda yang baik yang rela menaruhkan nyawanya untuk Kakak. Jika bukan karena nya, mungkin saat ini kakak sudah tiada. Tapi berkat Panglima Satria yang merupakan saudara sepupu kakak, kakak bisa kembali ke dunia ini dan menjadi ratu di pulau malaya. Ratu kerajaan Telaga biru. Mami lihatlah keluar!" tunjuk Kinara pada dua mobil yang berdiri dihadapan rumah Kinara seperti pengawal.
Kinara memicingkan matanya. "Kamu itu yang benar saja Panglima! Masa' iya rumah saya menjadi kayak gitu sih? Kenapa harus banyak pengawal sih berjaga-jaga?? Yang kayak rumah saya ini sarang penjahat saja!" ketus Kinara mendadak kesal melihat para pengawal memakai baju serba hitam diluar sana.
"Maaf Nyonya. Saya harus membuat ini. Saya takut akan keselamatan Ratu kami. Tuanku Ratu Maldalya. Semua ini demi keselamaytannya. Sama seperti yang selalu anda lakukan. Berdoa untuk ratu. Begitu juga dengan saya. Bukankah doa dan juga usaha itu harus??"
"Saya tau itu tanpa kamu mengatakannya ! Tetapi tidak dengan banyaka pengawal juga kali. Yang kayak rumah saya ini bandit saja!" ketus Kinara lagi
Malda terkekeh, "Maafkan saa Nyonya. Saya terpaksa melakukan ini. Saya pernah kecolongan saat menjaga Ratu Maldalya. Kami kehilangan jejaknya. Dan saat kami tau, beliau sudah dibuang ke dalam telaga biru yang airnya bisa membekukan seluruh tulang dan jantung dalam waktu lima belas menit!"
__ADS_1
Ddddduuuaaarrr..
"Apa?! Kenapa bisa begitu?? Kakak!" seru Kinara dengan emosi naik hampir ke ubun-ubun.
Ali yang melihat itu segera mendekati Kinara dan mengelus tubuhnay dengan lembut. "Sabar sayang.. Ingat? Kamu saat ini sedang apa? Mau, kalau kedua anak kita nnatinya keluar sebelum waktunya?" ucap Ali yang membuat Malda terkejut.
"Apa? Mami bakalan punya adek lagi?? Berarti mami Maura pun sam dong!"
Ali tersenyum dan mengangguk. "Alhamdulillah kalau begitu. Kakak senang mendengar nya." Ucapnya dengan tersenyum lembut pada Kinara dan Ali.
Panglima Satria terus saja menatap Kinara. Gadis kecil yang mampu meluluhkan hatinya hanya karena sikap lembutnya itu.
__ADS_1
Malda menoleh padanya dan tersenyum, dibalas anggukan oleh Malda. "Mami. Kakak boleh nggak nginap disini sementara waktu?" tanya Malda hati-hati
Kenapa kamu bertanya seperti itu Nak? Ini juga rumah mu. Sebaiknya Mami menghubungi Papi kamu dulu. Agar pria tua itu tidak terus terpuruk karena kepergian mu. Kamu tau nak? Setelah kepergian mu lima bulan yang lalu. Papi kamu sempat mengalami drop hingga ia masuk rumah sakit dan berobat hingga sebulan lamanya,"
Deg!
"Apa? Kok bisa gitu Mi?" tanya Malda pada Kinara dengan raut wajah yang begitu terkejut.
"Ya bisalah, nak. Papi kamu shock karena kepergian mu yang salah paham sama kami pada waktu. Kami tidak bertengakr karena mu. Tetapi ucapan kedua papi kamu ini yang membuat kami marah. Mereka mengatakan jika mereka berdua akan pergi tetapi belum tentu bisa kembali. Ya marah dong Mami? Nggak salah kan?"
Malda dan panglima Satria terdiam. Panglima Satria terus saja menatap dalam pada Kinara dan Ali.
__ADS_1
"Andai kalian tau apa yang terjadi pada adikku ini, pastilah kalian lebih memilih mati daripada harus melihatnya seperti itu.." batin Panglima Satria dengan menatap daatar pada malda yang kini tersenyum lembut pada Kinara dan Ali yang menangis karena penjelasan malda baru saja.