
Selesai mandi Nara langsung sholat. Ia duduk tepekur sejenak di sajadahnya sambil berdoa untuk sang suami yang tidak di ketahui keberadaan nya hingga saat ini.
Bohong jika Nara tidak terluka mendapati kabar duka di barengi dengan kabar gembira. Ia mengusap lembut perut datarnya. Ia terisak.
''Mungkin, mereka berpikir jika aku gila karena telah menganggap kepergian Abang sebagai kesenangan untuk diriku. Mereka tidak tau aja seperti apa hatiku saat ini. Bohong jika aku tidak sedih. Tapi teringat perkataan kami dulu membuat semangat di dalam diriku ini tumbuh. Walau aku masih muda dan sudah mengandung, tak apa. Aku ikhlas. Karena ini adalah jalan hidup ku. Aku percaya, semua ini memang sudah menjadi goresan takdir untuk ku lalui. Pesan Abang dulu masih teringat olehku. Dan benar adanya terjadi saat ini.''
''Tak apa jika mereka menyangkal keberadaan Abang. Tapi aku akan tetap menunggu Abang. Mulai hari ini dan seterusnya, Penantian Kinara akan terjadi seperti kataku dulu pada Abang. Jika kita tidak pernah bertemu lagi hingga akhir hayat, berarti aku akan bertemu denganmu di surga Nya Allah untuk selama-lamanya.. aku yakin, suatu saat suamiku pasti akan kembali lagi ke rumah kami. Aku akan tegar dan bersabar menghadapi cemooh orang. Aku tidak peduli dengan mereka. Bagiku, kehidupanku merupakan kehidupan suamiku. Begitu pun sebaliknya. Hati kami saling terhubung dan seperti saat ini. Aku merasakan jika bang Ali masih hidup. Hembusan nafasnya masih terdengar hingga ke hatiku. Dimana pun kamu berada.. ingatlah selalu dengan Kinara mu yang selalu menunggu kepulangan mu.''
''Kamu harus melihat anak kita lahir nanti. Dan jika pun tidak, Tak apa. Aku tetap akan menanti kepulangan mu, Bang Ali Jaber Al Basri!''
Deg!
Deg!
''Naraaa...'' terdengar seperti suara Ali di dalam hatinya. Nara tersenyum. ''Adek tau Abang. Kamu masih hidup. Berjuanglah untuk bisa kembali kepadaku! Aku akan selalu menantimu suamiku Ali Jaber Al Basri!'' ucapnya sambil memejamkan matanya saat merasakan helaan nafas Ali menyentuh relung hatinya.
__ADS_1
Bibirnya menyunggingkan senyum manis. Dirasa cukup, Nara bergegas bangkit dan bersiap untuk pulang kerumahnya. Nara tersenyum saat melihat ransel baju Ali. Dengan segera ia menggenakan nya dan keluar dari kamar itu.
Tap.
Tap.
Tap.
Semua yang disana menoleh pada Nara yang begitu anggun saat ini. Lana dan Papi Gilang melototkan matanya saat melihat Nara yang begitu cantik memakai baju Kemeja Ali yang kebesaran di tubuhnya.
''Dek... ini kamu?'' tanya Maura pada Nara. Ia berkeliling memutari tubuh Nara untuk memastikan.
Nara Terkekeh kecil. ''Iya Kak. Ini adek. Kinara Zivanna. Ada yang salah kah??'' tanya Nara masih dengan terkekeh kecil.
''Waaauuwww.. your so amazing Dek! Your so beutiful!! Masya Allah...'' seru Maura begitu takjub pada kecantikan Nara yang tiba-tiba saja menguar dari tubuhnya.
__ADS_1
''Kenapa??'' tanya Mak Alisa.
Nara tersenyum dan ia mendekati paruh baya itu. Kemudian mengecup keningnya begitu lama. Mak Alisa terisak. Nara tersenyum, ia mengusap bulir bening yang mengalir di pipi Sang Ratu di hati Papi nya itu.
''Tidak ada jawaban dari pertanyaan Mami itu. Cuman... adek ingin berubah dan mencari suasana baru. Biarlah yang sudah terjadi tetap terjadi. Toh, dengan kita meratapinya kehidupan ini tetap berjalan pada porosnya bukan?? Biarlah semua yang terjadi selama beberapa bulan terakhir ini menjadi kenangan untuk adek. Semua ini demi membuka lembaran baru untuk masa depan. Masa depan yang lebih baik lagi. Adek percaya, jika kami di takdir kan untuk bersama, maka kami akan tetap di pertemukan dan di persatukan. Walau di dunia bagi kalian itu tidak mungkin terjadi, tapi di akhirat pasti mungkin. Adek akan di pertemukan denganya kelak di Surga Nya Allah SWT. Amiiinnn...''
Semua yang mendengar penjelasan Nara tertegun hingga tubuh itu mematung seketika. Semua mata itu menatap haru pada Nara.
Papi Gilang mendekati putri bungsunya itu dan memeluknya dengan erat. Di susul Mak Alisa, Lana, Ira dan terakhir Algi. Ragata menitikkan air matanya saat melihat ketegaran yang terjadi pada diri Nara saat ini.
Kehidupan yang baru saja ia mulai untuk mendapatkan pahala banyak malah terputus karena Ali pergi untuk selama-lamanya. Kini, Ali Jaber Al Basri hanya tinggal kenangan di mata mereka semua. Namun tidak untuk Nara.
Hati dan pikiran nya tetap sinkron. Bahkan hatinya begitu yakin, kalau Ali masih hidup dan saat ini sedang tersesat di tempat antah berantah yang Nara sendiri pun tidak tau.
Keluarga ini kembali bahagia setelah tadi sempat berduka dengan kepergian Ali yang begitu mendadak.
__ADS_1