
Di tengah keharuan makan malam bersama keluarga, ada seorang gadis menatap sendu pada semua keluarganya.
"Nak? Ngapain kamu disini? Masuk yuk? Kamu belum makan kan?"
Ia tersenyum dan menggeleng, "Kakak nggak lapar Mami. Mami aja ya yang makan??"
Kinara menghela nafasnya. Ia segera memeluk erat tubuh Malda. Gadis cantik keturunan Datok Amirullah syam itu pun tersedu di pelukan Kinara.
"Hiks Mami. Kakak harus pergi dua hari lagi. Kakak nggak sanggup Mi. Kakak nggak sanggup ngomong sama Papi. Lebih baik kakak kabur aja ya, Mi?"
Kinara semakin erat memeluk tubuh Malda. "Nggak sayang. Biar Mami yang ngomong sama mereka semua ya? Ayo kita masuk dulu. Nggak enak sama yang lain. Kamu tenang saja. Mami yang akan mengatakan pada papi kamu kalau kamu harus kembali ke Malaysia untuk mengambil tampuk kepemimpinan almarhum ayahmu, ayo. Kita masuk dulu."
Malda menggeleng. "Kakak nggak sanggup lihat wajah sedih Papi Lana, Mi. Biar kakak pergi sendiri saja ya? Kakak sayang sama mereka semua. Biarkan kakak pergi tanpa tau kemana kakak pergi.."
Deg!
__ADS_1
Deg!
Seseorang di belakang mereka saat ini menutup mulutnya agar tidak berteriak dan memanggil sang Papi.
Kaki itu mundur dan semakin mundur. Hingga ia berlari kencang menuju pada Sang Papi dan mengatakan semua yang ia dengar sedari tadi.
Lana dan seluruh keluarga begitu shock mendengarnya. "Sekarang, dimana kakak kamu?"
"Kakak disini, Pi.." sahut Malda dengan senyum teduh tetapi berbalut sendu.
Lana bangkit dan langsung saja memeluk putri angkatnya itu. Tangisnya pecah. Begitu pun dengan Kinara.
Maura tidak bisa bergerak karena Zia sedang tersedu di pelukannya saat ini.
Ya, Zia. Dialah yang mendengar jika sang kakak akan kembali ke tanah kelahiran nya. Zia lah yang mengadukah hal itu kepada Lana. Niat hati ingin memanggil mereka berdua untuk makan, malah mendapat kabar butuk seperti itu.
__ADS_1
Semuanya begitu terkejut dengan kabar yang Zia katakan tadi.
"Maaf Pi.. Hiks.. tapi inilah yang harus terjadi sama Kakak. Perjanjian Kakak sudah usai Pi. Disaat Papi Ali dan Mami Maura kembali maka dua hari setelahnya Kakak harus pergi dari kalian semua.. aaaaaa... aaaaa..." raung Malda di dalam pelukan Lana.
Ia sudah tidak sanggup menopang tubuhnya lagi. Tubuhnya luruh bersamaan dengan Lana yang juga ikut luruh ke lantai.
Kinara memeluk erat dua orang itu. Ia pun ikut merasakan sedih. Disaat sang suami kembali, malah kabar kepergian Malda yang membuat seluruh keluarga shock bukan main.
Sejatinya mereka tau. Jika inilah takdir Malda yang sebenarnya. Jauh sebelum Malda, Lana bawa pulang ke Medan untuk ia besarkan. Lana sudah lebih dulu di ingatkan oleh pengasuh Malda yang kini sudah meninggal dunia.
Bahwa suatu saat nanti jika Malda tetap harus kembali ke tempat asalnya karena disanalah dirinya yang seharusnya berada.
Berat bagi Lana untuk melepaskan putri sulungnya itu. Ia tidak bisa melepaskannya begitu saja.
Karena sedari ia baru lahir, Lana dan Ali lah yang mengambilnya saat ia akan di bunuh oleh Paman ayah Malda.
__ADS_1
Walau Malda bukan anak kandungnya, tetapi ia tetap menganggap Malda putri kandung nya sendiri.
Lana menyayanginya sepenuh hati. Inilah yang sangat memberatkan Malda. Papi nya. Papi Lana. Tetapi apa yang harus ia perbuat jika inilah takdir kehidupannya.