
Dirasa cukup untuk bersenda gurau, kini semuanya sedang makan karena waktu sudah menunjukkan angka dua belas tepat tengah hari. Waktunya untuk makan siang.
Para istri dengan sigap membuka rantang berisi nasi dan lauk pauknya. Beraneka macam-macam makanan yang tersedia. Ada rendang jengkol goreng ikan asin kesukaan Lana.
Ada urap dan Mi hun kesukaan Ali dan Nara. Semur ayam, balado telur, daging masak putih dan kerupuk udang. Untuk makanan penutupnya, Nara membawa puding buatannya yang sama seperti buatan Mak Alisa. Sangat enak menurut Ali.
Maura membawa bakwan jagung kesukaan Lana. Sedangkan Mak Alisa membawa lemang dan tape buatan tangan nya sendiri. ''Wuiihh.. ada lemang euuyy! Minta Mak! Abang mau!'' celutuk Lana saat melihat lemang dan tape ada disana. Mak Alisa memberikan nya.
Papi Gilang terkekeh, ''Kan betul yang Papi bilang Mami. Putra sulung kamu itu kesukaan nya cuma dua macam itu. Kalau lauknya rendang jengkol ikan asin, dan kuenya ya lemang sama tape! Khas keturunan Aceh asli! Sukanya lemang dan tape!'' celutuk Papi Gilang membuat semuanya tertawa tak terkecuali Mbak Sus.
''Timpan labu ada nggak Mak??'' tanya Nara bersamaan dengan Algi.
Semuanya saling pandang dan tertawa. ''Ada. Nih kakak buat khusus untukmu!'' sahut Maura pada Nara dan Ali.
Rasa malu yang tadi ia rasakan kini lenyap sudah. Nara dan Ali pun sudah melupakan nya. ''Hihihi.. aseekkk.. timpan labu euuyy! Makasih akak! Mmmuuuaacchh!'' ucap Nara pada Maura. Ia mengecup jauh Kakak iparnya itu. Maura terkekeh.
__ADS_1
Lana dan Ali tertawa. Semuanya ikut tertawa melihat tingkah Nara yang begitu lucu. Walau Nara sudah menikah, tapi tingkahnya masihlah labil. Masih bisa berubah-ubah. Sama seperti Annisa.
Mereka dewasa nya bertempat. Dan sekarang, waktunya menjadi diri sendiri. Ali tidak marah. Ia malah lebih menyukai Nara yang apa adanya. Yang berani mengungkapkan segala perasaan nya kepada Ali.
Begitu juga dengan Lana dan Maura. Mereka berdua pasangan dewasa tapi akan menjadi anak kecil saat mereka berdua saling merajuk.
Itu pun hanya terjadi di dalam rumah saja. Jika keluar, mereka pasti berubah menjadi tegas. Sosok yang disiplin. Yang disegani oleh setiap orang. Apalagi Lana dan Maura.
Jika Lana karena statusnya sedangkan Maura karena ia seorang guru di sekolahnya.
Mereka makan bersama. Setelah kenyang, Waktu dhuhur pun sudah masuk. Semuanya ikut sholat secara bergantian. Mereka tetap sholat di pondok itu. Tempat dimana mereka baru saja makan.
Dan sekarang, mereka sedang melaksanakan sholat dhuhur setelah mereka tadi makan. Sholat dhuhur yang di imami oleh Ali. Nara begitu bangga terhadap sang suami tuanya itu. Ia tak menyangka bisa menikah muda dengan pria dewasa.
Semua perjalanan hidup begitu indah untuk mereka lalui. Tanpa mereka ketahui sesuatu yang buruk akan menimpa kehidupan rumah tangga keduanya kelak.
__ADS_1
Hari ini bisa tertawa bersama. Akan kah keesokan harinya masih bisa seperti ini?? Entahlah. Hanya Tuhan lah yang tau apa dan bagaimana hari berikutnya. Yang terpenting sekarang, ya hari ini.
Hari dimana mereka semua berbahagia. Untuk masalah yang akan timbul ke depan nya, mereka pikirkan itu nanti.
Lana sangat jarang bisa berkumpul dengan keluarga besarnya seperti ini. Itu pun formasinya tidak lengkap. Masih ada yang kurang. Kurang Kak Ira dan bang Raga. Adek Annisa dan bang Tama.
Mereka berempat sedang di sibukkan dengan segudang pekerjaan. Tapi mereka berjanji. Sebelum Lana dan Ali balik bertugas, mereka berempat akan hadir untuk menemani Lana dan Ali bersantai ria di pondok cinta gubuk derita itu.
Sedangkan putra kecil Ali dan Nara begitu betah di rumah Ira. Karena disana ia memiliki tugas untuk menjaga anak Bude nya itu.
💕💕💕💕
Like dan komen nya dong...
Insyaallah.. bajakan rutin ye?
__ADS_1
Pantengin terus!
Sebentar lagi masuk ranah bahaya! 😱