
Nara dan Ali naik angkot setelah setengah jam menunggu. Untung saja angkot itu mau diajak kompromi. Ali membayar mahal agar angkot itu mau mengantar mereka langsung ke kediaman Annisa yang berjarak tiga jam dari tempat mereka saat ini.
Seluruh keluarga sabar menunggu Nara dan Ali pergi terlebih dahulu menuju tempat tujuannya. Setelah melihat keduanya pergi, barulah seluruh keluarga itu pulang kerumah masing-masing.
Jika Lana dan Maura pulang kerumahnya terlebih dahulu karena harus membicarakan sesuatu dengan rekan tentaranya. Sementara Papi Gilang dan Mami Alisa langsung saja ke kediaman Kak Ira dan Bang Ragata.
Kedua paruh baya itu merasa bersalah dengan Kinara. Ya, selama mereka menikahkan Kinara, tidak sedikitpun dari ke tiga anaknya yang ingin melihat Kinara yang selalu tinggal sendirian di rumah nya.
Sedang kan di perjalanan Kinara tetap diam seribu bahasa. Ia tidak ingin berbicara di dalam angkot yang ada penumpang nya itu.
Ting!
Ponsel Ali bergetar pertanda pesan masuk. Ali mengernyitkan dahi nya saat melihat pesan itu ternyata dari Sang Abi.
''Abi?? hem.. baik.. lusa kami akan ke Bandung!'' gumam hati Ali dengan sedikit tersenyum yang membuat Kinara menoleh padanya.
Kinara ingin bertanya, tetapi tidak ingin terdengar oleh penumpang lain. Ia tetap memilih diam sampai mereka tiba nanti di kediaman Annisa.
Tiga jam kemudian angkot yang membawa mereka tiba di kediaman Annisa, kini telah tiba tepat di depan pintu pagar rumah Annisa yang berlatar hitam. Nara turun tergesa ketika melihat Tama dan Annisa sedang menunggunya.
Mata Kinara berkaca-kaca. Ia berlari kencang menuju Annisa. Ali dan Tama panik. Kinara hampir saja tersungkur jika tidak di pegangin oleh Ali.
__ADS_1
Grep!
''Astaghfirullah! Hati-hati sayang!'' tegur Ali pada Kinara yang saat ini memeluk tubuh Kinara dari belakang.
Kinara semakin tersedu. ''Hiks.. Kakak! Adek mau Kakak!'' serunya sambil menangis menuju Annisa.
Annisa pun ikut panik. Begitu pun dengan Tama. Ia berlari menuju Nara yang saat ini tersedu di dalam pelukan Ali.
''Adek kenapa?? Adek kenapa Ali??'' tanya Annisa pada Ali dengan wajah khawatir.
Ali menghela nafasnya. ''Kita masuk aja dulu. Nanti aku ceritakan Kak, Bang!'' sahutnya membuat dua orang itu mengangguk setuju.
''Onti Nara!!!''
''Mamiii!!'' pekik Gading begitu senang kala melihat jika Gading ada disana.
Ali terkejut, ''Loh? Abang disini??'' tanya Ali dengan wajah terkejut. Gading tertawa.
''Hahaha.. kaget ya Pi? Kalau Abang disini??''
Ali mengangguk. Gading tertawa lagi. Tama tersenyum, ''Selama seminggu ini putra kamu berada ditumah Abang. Katanya, ingin di jemput kalian dari sini. Iya kan nak?'' tanya Tama pada Gading dengan merangkul erat putra angkat Ali dan Nara itu.
__ADS_1
''Hooh, betul! Karena Abang tau.. kalau Mami pasti akan kesini bertemu dengan Mami Annisa. Bukankah Mami Nara begitu dekat dengan Mami Annisa??''
Deg!
Deg!
Nara terkejut. Ia yang saat ini masih tersedu di pelukan Annisa menoleh pada putra sambungnya itu. Lagi, mata itu berkaca-kaca. Gading tersenyum, ia mendekati Nara dan berdiri dihadapan Nara yang masih menangis.
Tangan kecil nan halus itu mengusap air mata Nara yang terus mengalir tanpa henti ketika melihat dirinya.
''Hiks.. hiks.. Gading...''
Gading tersenyum, ''Iya Mi. Ini Abang! Mami kenapa nangis? Adakah yang membuat Mami terluka??''
Deg!
Ali dan Tama terkejut. Annisa mengulum senyum. Ia merangkul bahu Nara yang terus bergetar. ''Kamu lihat sayang? putra kamu ini sangat tau kalau kamu sedang terluka saat ini. Boleh kakak tau? Kenapa kamu sampai nekad kemari dan menangis seperti ini?? Bukankah saat ini kamu sedang di tempat bersejarah Mak dan Papi??''
Kinara menunduk. Ali menghela nafasnya. Gading mengusap lagi air mata Kinara yang semakin beruraian kala melihat air mata sang Mami yang tidak mau berhenti.
''Mami kenapa? Apakah Abang ada buat salah sama Mami?? Kenapa Mami menangis seperti ini?'' tanya Gading sembari terus menatap wajah ayu Kinara yang selama ini selalu tersenyum manis padanya tetapi kini mendadak basah dengan air mata.
__ADS_1