
Kinara dan Ali keliling taman kota Medan sambil tertawa bersama menggunakan motor. Mami Alisa mengikuti mereka dari belakang.
Mereka yang ada di dalam mobil itu tersenyum melihat Kinara kini kembali ceria lagi. Tidak seperti hari-hari sebelumnya. Selalu sedih dan melamun.
Hari ini ia melihat Kinara kembali ceria seperti dulu. Semua itu karena Ali. Sang suami tercinta. ''Betul kata orang, kalau cinta sudah melekat menyatu di dalam diri kita, pastilah semua itu pasti akan indah jika bersama nya..''
''Betul sekali. Seperti kita dulunya?'' timpal Papi Gilang yang saat ini sedang menyetir mobil Pajero sport miliknya. Mobil kesukaan Lana dulu. Algi tetap sama berwajah dingin dan datar.
Entah ada apa dengan pemuda itu. Yang jelas tiap kali bersama Papi dan Mami Alisa, inilah Algi. Selalu dingin dan datar tidak sehangat dulu lagi.
Walaupun kedua orang tuanya sudah menerima kehadiran Tiara. Akan tetapi tetap saja. Pemuda lajang yang belum genap sembilan belas tahun itu tetap kecewa dengan keluarganya.
''Ya sudah, sebaiknya kita pulang. Nak?? Apakah kamu tidak ingin singgah di suatu tempat??''
Algi diam. Tiara menyikut lengan nya. ''Nggak ada. Lebih baik pulang. Bukankah kalian sudah melihat jika Kinara baik-baik saja?? Apa lagi yang kalian khawatir kan? Giliran Kinara kalian selalu seperti ini! Giliran dengan ku?? Kalian bajakan tidak pernah bertanya apapun yang aku butuhkan! Apa kamu sudah makan? Sudah mandi? Gimana keadaan mu? Apalkha hari-hari mu menyenangkan??! Tidak! Kalian bahkan hanya bertanya! Kamu butuh apa?! Itulah yang selalu kalian tanyakan kepada ku!''
Deg!
Deg!
''Algi...'' lirih Mami Alisa dengan bibir bergetar.
''Selalu tentang Kinara dan Ali! Kapan tentang ku dan Tiara?! Seolah kami ini tidak ada gunanya Dimata kalian berdua! Aku benar-benar kecewa dengan kalian! Kalau bisa aku memilih, aku lebih memilih hidup seperti dulu daripada harus di abaikan seperti ini. Aku ingin turun di depan! Kalian pulanglah! Mulai sekarang, jangan sekali urusi diriku! Diriku ini sudah besar! Urus saja putra kalian yang lain! Aku turun! Ayo Sayang! Kita pulang kerumah kita!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
''Algiandra!!'' tegur Papi Gilang pada Algi.
Algi tidak peduli. Ia lebih memilih membuka pintu mobil yang sedang berjalan karena sang Papi tidak mau mendengarkan ucapan nya.
__ADS_1
''Berhenti Algiandra!''
''Mau di buka atau tidak, aku akan tetap pergi dan turun dari mobil ini!'' tegas Algi pada Papi Gilang.
Klik!
Pintu mobil itu terkunci.
Bruuuaaakkkk...
''Astaghfirullahal'adhimm.. kamu kenapa Bang?? Apakah kami ini melakukan kesalahan kepadamu? Hingga kamu kesal kepada kedua orang tua mu?? Apakah kamu tidak senang dengan kami lagi Algi??''
Deg!
Deg!
Algi memejamkan matanya kala Papi Gilang mengatakan hal itu kepada nya. Tiara mengelus lembut lengan Algi. Algi yang sedang di landa kekesalan pun akhirnya memilih diam.
Mami Alisa memilih diam. Jika ia ngomong pasti akan memperkeruh suasana di dalam mobil itu.
Dirasa cukup Mami Alisa mencoba bertanya dan berbicara baik-baik pada Algi. ''Maafkan kami orang tau ini yang membuatmu lagi terluka dan kesal seperti itu.. Mami hanya bertanya bukan menggurui mu. Apakah kami ini sudah tidak berharga lagi di hidupmu hingga kamu begitu kesal dan tidak ingin melihat dan mendengar ucapan kami lagi??''
Algi diam. Tiara mengelus lembut lengan Algi. ''Bang.. nggak boleh gitu sama Papi dan Mami. Mereka itu kedua orang tuamu. Jika memang ada yang mengganjal dihatimu, katakanlah. Agar mereka tau apa yang menjadi kekesalan hatimu. Jangan marah tanpa sebab seperti itu. Kedua orang tuamu bukan cenayang bang Algi!'' tutur Tiara begitu lembut pada Algi.
Algi tetap memilih diam. Ia tidak ingin menyahuti Tiara. ''Absng tidak kesal dengan kedua orang tua kita. Hanya kesal pada nasib pernikahan kita saja yang tidak baik ini. Jika Nara bisa melakukan resepsi setelah ini, lalu bagaimana dengan kita? Kenapa Abang selalu harus mengalah dengan yang lain? Sedari dulu hingga sekarang Abang selalu menjadi yang terakhir!''
''Bang... nggak gitu nak...'' lirih Papi Gilang begitu sesak di dadanya.
''Terserah Papi dan Mami. Inilah kenyataan hidup yang harus aku terima. Dulu ada bang Lana, dan sekarang? Bang Ali??''
__ADS_1
''Astaghfirullah ya Allah nak.. kenapa kamu jadi berubah seperti ini? Jika kami salah tolong maafkan tua Bangka ini. Tolong katakan dimana kami tidak pernah melihat mu dan lebih melihat Abang mu??''
Algi terkekeh namun, air mata menetes di pipi tirus nya. ''Siapa Abang untuk kalian berdua? Bukankah selama ini yang selalu kalian banggakan cuma Abang?? Siapa Abang untuk Papi?? Sementara keturunan Papi yang lain ada bang Rayyan yang selalu bisa membanggakan Papi. Tidak seperti anak kecil yang tidak di inginkan ini.. hiks .. terkadang aku berfikir, kenapa orang luar lebih istimewa dibandingkan dengan ku yang anak kandung?? Hiks .. aku kecewa dengan kalian benar-benar kecewa? Ayo kita turun Tiara!''
Klik!
Papi Gilang tertegun dengan ucapan sang putra. ''Berhenti Nak! Papi Tidak pernah menganggap mu seperti itu! Kenapa kamu berfikir seperti itu??''
''Karena Papi lebih membanggakan kedua Abang ku ketimbang diriku yang hanya orang lain dan putra yang terlahir dari rahim yang lain...''
''Astaghfirullah sayang.. nggak gitu Nak! Kamu putra kami! Kamu darah daging kami berdua! Kami membuatmu dengan cinta-,''
''Akan tetapi cinta itu tidak pernah ada untukku yang tidak bisa membanggakan kalian berdua...''
''Siapa yang bilang?? Ya Allah nak...''
''Aku sendiri yang bilang. Aku sadar diri menjadi putra kalian yang lain.. hiks..'' Isak Algi.
Tiara tersedu memeluk Algi. Papi Gilang menepikan mobilnya dan masuk melalui pintu belakang dimana ada Tiara disana.
Tiara keluar dan duduk di sisi kemudi. Ia menjalankan mobil itu. Beruntung nya Tiara, Algi sudah mengajarinya. ''Jangan ngomong gitu nak.. hiks.. Papi sayang sama Abang. Mami dan Papi sayang sekali sama kamu? Kalau selama ini kamu merasa jika Papi terlalu menyayangi mu, maafkan Papi yang tidak adil dalam memberikan kasih sayang untukmu.. maafkan Papi nak.. Papi Sayang... sekali sama Abang! Jangan ngomong gitu! Papi sakit mendengar nya! Sayang!'' panggil Papi Gilang pada Mami Alisa.
Mami Alisa menatap kosong pada jalanan di depan sana. ''Mami juga sayang sama Abang. Tapi entah kenapa apa kamu berpikir seperti itu terhadap Mami? Apa salah Mami sama kamu Nak??'' tanya Mami Alisa dengan air mata berlinang an.
''Mami nggak salah sama Abang. Abang yang tidak bisa membuat kalian bangga karena prestasi dan IQ Abang yang rendah tidak sebanding dengan Kinara...''
''Astaghfirullahal'adhimm...''
Algi merasa rendah diri dengan Kinara. Belum lagi Papi Gilang dan Mami Alisa selalu membanggakan Ali dan Lana kepada semua orang. Membuat Algi merasa rendah diri akan pencapaian nya.
__ADS_1
''