Penantian Kinara

Penantian Kinara
kemarahan Annisa


__ADS_3

Papi Gilang, Algi dan Kinara saat ini sedang sibuk mencari berkas milik Kinara dan Ali yang sudah ia urus delapan bulan yang lalu.


Sedangkan didapur sana, Mami Alisa yang baru saja siap memasak bersama Annisa segera ke depan untuk mengantar sarapan pagi mereka semua.


Melihat Lana ada disana bersama Maura, ia tersenyum. Ia celingukan mencari sang suami dan kedua anaknya yang lain.


"Sudah lama Nak?" tanya nya pada Mami Alisa pada Lana


Lana mengangguk tetapi dengan wajah datar. Annisa yang meihat Maura begitu meenmpel dengan Lana ingin sedikit memberi pelajaran kepada Kakak iparnya itu dan juga Abang kandung nya itu.


"Hemm.. Yang lagi hamil muda? Nempel terus ya sama suami?" sindir Annisa membuat Maura tersenyum malu-malu.


"Kakak!" tegur Mami Alisa dengan menggelengkan kepalanya.


"Apa Mak? Kakak 'kan ngomong yang benar? Lihat aja tuh tingkahnya kayak apa? Kakak pun pernah hamil loh.. Udah lima malahan anggota Kakak! Tapi tidak semanja itu! Manja yang sengaja dibuat-buat agar Abang tidak bisa datang kesini dan hanya mengeloni dirinya saja dirumah!"

__ADS_1


" Bersyukur kamu, kak. Karena suami kamu masih selamat dan bisa pulang? Kamu lihat Kinara? Siapa? Kepada siapa dia bermanja? Suami kamu? Atau suami ku? Atau sama Papi? Jangan manja Kak! Hamil itu angerah! Bukan penyakit yang bisa kamu buat sesuka hatimu. Kamu sengaja mengikat Bang Lana dengan alasan mengidam dan rindu! Lalu? Bagaimana dengan adikku?"


" Tidakkah kamu lihat jika air mata nya itu masih menetes setiap saat karena memikirkan suami nya yang entah hidup atau pun mati? Aku rasa kamu tidak mau tau akan hal itu. Yang kamu mau, kalau suami kamu selalu disamping kamu! Coba kalau posisi kamu dibalik. Saat ini kamu yang mengalaminya! suami kamu menghilang entah kemana disaat kamu sedang hamil! Apa yang kamu lakukan? Heh?!"


" Aku yakin. Kamu tidak akan sekuat dan setegar Kinara dalam menghadapi masalah ini! Kamu pasti akan menyalahkan suami Kinara karena suami kamu menghilang entah kemana. Padahal di saat kejadian, Ali lah yang melihat segelanya tetapi ia tidak bisa berbuat apapun lantaran terlambat! Itu 'kan yang akan kamu lakuan Kakak ipar?! Aku bisa melihat jelas dari wajah mu itu!"


Ddduuuaaarrr...


Lana dan Maura tersentak mendengarnya. "Kenapa? Terkejut?? Nggak usah pura-pura terkejut kalian! Kalian berdua itu sama! Dan sangat cocok! Klop! Kompak sekali dalam membuat hati adik kecilku terluka setiap kali melihat kemesraan kalian berdua yang tidak tau tempat dan tidak tau diri! Dimana pun selalu menempel seperti lintah penghisap darah!!"


"Sayang!" seru Mami Alisa dan Tama


Annisa terkekeh sumbang. "Kenapa kalian berteriak padaku? Apa aku salah? Aku sedang mengatakan yang sebenarnya! Lihat wajah sembab adikku!" tunjuk Annisa pada Kinara yang kini berdiri di samping Papi Gilang dengan wajah datar nya.


"Kalian lihat? Seperti apa ia menahan rasa sakitnya sendiri? Bahkan air matanya jatuh pun tanpa suara! Lihat adikku!!" seru Annisa dengan suara meninggi.

__ADS_1


Air mata Annisa sudah beruraian sedari ia berbiacara tentang kebalikan posisi Ali tadi. Lana menatap sendu pada Kinara dan Annisa.


"Apa yang bisa kamu lakukan untuknya Bang Lana demi menghibur adik kecilmu? Adakah kamu bermalam dirumahnya membawa serta istrimu? Adakah kamu berbicara padanya menenangkannya dengan cara kamu selalu di dekatnya karena kamulah suami nya pergi?? Huh?!" seru Annisa lagi semakin kuat suara nya.


Keluarga Ali terdiam terpaku di tempat melihat kemarahan Annisa yang begitu menyeramkan. Tama mendekati Annisa dan ingin memeluknya.


"Berhenti Bang Tama!! Jangan halangi aku seperti beberapa bulan yang lalu!" Tama berhenti di tempat.


Ia tidak bisa berbuat apapun saat ini. Karena jika Annisa sudah berkata demikian, sangat sulit untuk membujuknya sebelum yang tersimpan dihati dan di benaknya keluar semua.


Tama mundur. Ia menunduk.


Semua terdiam melihat Annisa yang saat ini sedang menangis tetapi tidak ada suara isakan yang keluar dari mulutnya. Kinara mendekatinya dan memeluk Annisa dengan erat.


Pecahlah tangisan Annisa dan Kinara. "Kalian lihat?! Bagaimana perasaannya? Tidakkah kamu tau, jika adikku ini sangat terluka karena kehilangan suami nya? Apa yang kalian lakukan padanya untuk menyemangati nya, Huh?! Kalian itu lebih memilih tidur dirumah kalian dengan nyaman dan saling berbagi keringat di dalam gelungan selimut yang sama. Lalu, bagaimana dengan adikku? Tidakkah kalian melihat nya yang selalu menangis di dalam tidurnya dan juga di saat ia bersujud? Meminta kepada Allah agar suami nya di kembalikan?! Huh?! Egois kamu Bang Lana! Egois kau Kakak Ipar! Aku tidak menyangka, wanita salihah sepertimu masih bisa melukai wanita lain yang posisi nya sama seperti mu tetapi kamu lebih beruntung darinya!"

__ADS_1


Semua yang mendengar ucapan Annisa tersedu.


__ADS_2