
Setelah memeriksakan diri di rumah sakit kak Ira, Kinara langsung menuju ke kampus. Seperti biasa, ia akan mengikuti kegiatan kampus hingga sore harinya.
Sore harinya saat pulang dari kampus, Kinara mampir ke supermarket untuk membeli susu hamil. Vitamin dari Bang Raga baru satu ia minum.
Tubuhnya terasa lelah sekali tetapi tetap ia paksa untuk tiba dirumah dengan selamat. Pertigaan jalan antara rumahnya dan juga jalan menuju ke tanah yang sudah ia beli, Kinara menghentikan motornya.
Ia melihat nan jauh disana berapa unit truk pekerja bangunan tepat berada di depan tanah miliknya yang di beli Papi Gilang.
Kinara menghela nafasnya. "Berarti pembangunan swalayan ini sudah di mulai oleh Papi. Hem.. Aku harus mengurus masalah ini. Akan ku berikan semuanya kepada Papi tanpa terkecuali. Aku yakin, Allah sudah menyiapkan rezeki lain untuk anak-anak ku. Aku yakin itu." gumamnya dengan segera melajukan motornya menuju rumah nya yang kini sangat riuh karena Kak Ira dan si kembar sudah lebih dulu tiba.
Tiba di depan rumahnya ia disambut dengan rasa khawatir oleh seluruh keluarga, Kinara tersenyum saja.
__ADS_1
Ia masuk ke dalam rumah dengan tubuh yang begitu lelah. Kinara pamit istirahat duluan kepada seluruh keluarga nya dan diangguki oleh mereka semua.
Sementara di sebelah rumahnya di lantai dua sana, Lana menatap nanar pada adiknya. Begitu juga dengan Muara.
Ia tetap bergelayut manja di tangan Lana. Yang terkadang membuat Lana merasa kesal dengan sikap manja Maura.
Masih teringat olehnya tadi, saat pemeriksaan Maura dirumah sakit kak Ira. Ia begitu senang karena Maura hamil kembar lagi.
Tetapi semua kebahagiaan itu redup seketika ketika kak Ira menceramahi Maura yang manja nya sengaja di buat-buat.
"Sesekali lihat lah adik kamu yang tidak punya suami itu. Bisa tidak, kalau kamu jangan terlalu manja Maura? Kakak sangat mengenal kamu. Kakak tau apa yang ada di hati dan pikiran kamu. Kamu bisa saja memiliki Lana seutuhnya. Tetapi kamu lupa, suatu saat kamu bisa pergi dari hidupnya. Tetapi tidak dengan saudara. Dan kamu juga Lana!''
__ADS_1
"Kakak tidak menyangka kau merupakan saudara yang kejam terhadap saudara mu yang lain! Sungguh, Kakak sungguh kecewa denganmu. Kamu bisa berbahagia disaat adik kamu sedang berduka. Kamu bisa bersenang-senang dengan istri kamu untuk melepaskan rindu hingga kamu mengabikan nya untuk yang kesekian kalinya!"
" Aku tidak menyangka, jika adikku berubah setelah menikah denganmu Maura! Jika ku tau, sifat burukmu sama seperti Ummi kamu. Maka sampai kapanpun aku tidak akan menyetujui adik ku menikah dengan wanita egois seperti kamu! Pergi dan jangan pernah tunjukkan lagi wajah kamu di hadapan kami. Kamu cukup dengan istrimu bukan? Maka penuhilah semua keinginan istri kamu. Karena jika suatu saat kamu mengalami hal yang lebih menyakitkan dari Kinara. Minta tolonglah kepada sudara istri kamu! Pergi dan jangan pernah kembali kerumah sakit ini!"
Ddddduuuuaarrrr..
Tersentak mereka hingga ke ulu jantung Lana dan Maura saat mendengar ucapan Kak ira yang begitu menyakitkan untuk mereka dengar.
"Aku tidak bisa meutuskan hubungan ku dan adikku! Tetapi kamu!" tunjuknya pada Maura yang kini menatapnya dengan datar. "Kamu dengan sengaja memisahkan adik dari abangnya! Ingat kan saja kamu dulu Maulana! Jika bukan karena Papi Kinara, mungkin kamu saat ini sudah mati! Dan kamu Maura! Tidak akan pernah bisa menikah dengan Maulana!"
Deg!
__ADS_1
"Jangan pernah menemui semua adikku! Jika kelakuan kalian tidak berubah! Urus saja istrimu! Jangan sekali-kali kamu menunjukkan wajahmu disaat kami berkumpul bersama selagi kalian berdua belum mengakui kesalahan kalian apa. Sungguh, aku sangat kecewa memiliki adik kandung yang tidak adil terhadap adiknya! Aku tau, istri yang utama! Tetapi kamu lupa satu hal Maulana!"
"Bahwa masih ada Mak yang harus kamu utamakan sebelum istri kesayangan mu ini! Pergi dan jangan tunjukkan wajah kalian dirumah sakit ku ini! Pergi!" Usir kak Ira pada Lana dan Maura membuat keduanya segera bangkit dan keluar dari ruangan bang Raga yang kini terdiam karena melihat kemarahan istrinya.