Penantian Kinara

Penantian Kinara
Rela mengalah


__ADS_3

Seluruh keluarga Kinara masih berdiaman. Papi Gilang yang paling tua diantara yang lainya, menyuruh seseorang untuk memeriksa keadaan Kinara.


Tetapi hasilnya nihil. Rumah berlantai satu itu begitu sepi saat ini tidak ada orang di dalam rumah itu.


Papi Gilang merasa khawatir tentang putri bungsunya. Melihat Papi Gilang yang sangat tidak tenang, Algi pun mendatangi rumah Itu.


Tetap saja. Kosong seperti tidak ada penghuninya. Sementara Kinara saat ini sedang menghubungi orang-orang nya yang ada di rumah dapur miliknya.


Ia menyuruh dua orang karyawan itu untuk datang kerumah sakit karena ada hal yang harus ia katakan kepada mereka.


Tentang acara Aqiqahan yang akan diadakan nanti tepat tujuh hari kelahiran ketiga anaknya. Dan Kinara ingin hal itu hanya di dapurnya saja yang tau.


Makanan itu akan dibagikan ke empat pondok pesantren yang di dalamnya banyak terdapat anak yatim. Dan juga tetangga nantinya akan Kinara bagikan tak terkecuali Lana.


Karena ia melahirkan normal dan sudah sangat sehat, maka dokter mengizinkan Kinara pulang siang itu juga.


Tetapi Kinara menolak. Ia ingin pulang nanti malam saja. Pukul sembilan malam. Dan yang menjadi jalannya adalah dokter Andini.


Beliau pun bersedia.


Karena tidak ada hal yang harus Kinara urus lagi, kini ia bisa beristirahat dengan tiga orang suster menunggu nya dan ke empat anaknya.


Gading.


Putra angkatnya itu sangatlah patuh. Kinara melarangnya untuk keluar walau selangkah saja dari kamar itu.


Ia tidak ingin seluruh keluarganya tau dan akan merasa kecewa nantinya. Makanya Kinara lebih memilih sembunyi karena ingin memberikan kesempatan untuk Lana agar seluruh keluarga tidak lagi membencinya.

__ADS_1


Kinara rela mengalah tidak diperhatikan oleh seluruh keluarga asalkan bisa melihat wajah ceria Lana.


Ya, Kinara tau semuanya.


Kinara tau, jika Lana sering mengawasi dirinya dari jauh dan tega membohongi Kakak iparnya demi memantau dirinya seorang diri.


Lana juga yang selama ini memenuhi keinginan Kinara tanpa ada yang tau. Dan masih banyak lagi. Maka dari itu, Kinara rela mengalah untuk melihat senyum manis yang terukir di bibir tampannya.


Kinara meneteskan air matanya kala mengingat Lana. Seburuk apapun Lana, ia tetaplah seseorang yang Kinara sayangi.


Kinara tersedu sambil memeluk putra kecilnya yang sangat mirip dengan Ali. Ia mengecup lembut dahi putranya itu.


Seakan tau jika Kinara sedang bersedih, bayi kecil itu pun ikut bersedih dan bayi dua lainnya pun ikut sedih.


Kinara tertawa melihat kekompakan ketiga anaknya. "Sudah... Abang, adek.. nggak boleh nangis. Mami janji. Nggak akan nangis lagi. Kita tidak boleh marah sama Uwak. Karena Uwaklah selama ini yang telah memberika vitamin yang cukup untuk kalian bertiga dan juga untuk Mami. Mami tau semuanya, tetapi sengaja mendiamkan agar Uwak Maura tidak marah dan sedih kepada Uwak Lana kalian. Nanti malam kita pulang kerumah kita ya? Pulang kerumah Papi dan Mami."


Kinara tersenyum dan mengusap kepala putra angkatnya itu.


Tinggal menunggu pukul sembilan malam baru mereka keluar dari rumah sakit. Sementara Lana dan Maura masih harus menginap dirumah sakit karena belum sembuh pasca operasi besarnya.


Malam harinya.


Tepat pukul sembilan malam Kinara keluar dari rumah sakit itu ditemani dokter Andini dan dokter Erina. Dokter kandungan yang saat tadi malam menunggu nya melahirkan.


Kinara sudah memesan taksi online lagi. Dan yang menjadi supirnya pun supir yang sama. "Ketemu lagi kita, Neng!" sapanya pada Kinara yang terkejut melihatnya.


Kinara tersenyum melihat supir taksi. "Iya Pak. Saya nggak menyangka aja sih kita ketemu lagi," jawab Kinara sambil terkekeh kecil.

__ADS_1


Seseorang yang baru keluar dari rumah sakit itu mematung melihat ke arah Kinara yang kini menggendong bayi nya sedang tertawa dan bersama dengan kedua dokter di rumah sakit itu.


"Lihat apa By? Ayo kita pulang! Ummi lelah.." katanya pada sang suami yang kini masih tertegun melihat kepergian Kinara menggunakan taksi online.


"Apa yang dokter Andini bilang itu adalah Kinara? Adek??? Tapi..."


"By!"


"Hah? Iya, iya. Kita pulang. Sebentar Hunny!" sahutnya pada sang istri yang kini sudah masuk lebih dulu ke dalam mobil.


Ya, yang melihat Kinara keluar dari rumah sakit adalah Bang Raga. Saudara ipar nya. Berarti yang Raga dengar tadi malam dari kamar itu memang benarlah suara Kinara yang memanggil nama Ali.


Sempat terpikir olehnya jika itu bukanlah Kinara. Tetapi yang baru saja ia lihat, tidaklah mungkin salah.


Ia sangat mengenal adik ipar kecilnya itu. Adik bungsu kesayangan Lana. Sepanjang perjalanan Raga terus berpikir.


Kenapa? Ada apa? Kenapa Kinara tidak ingin keluarganya tau? Apa karena Lana?


Raga tertegun sejenak saat menyadarai jika Kinara melakukan semua itu demi Lana yang sudah di benci oleh seluruh saudaranya.


Raga meneteskan air matanya. Ia terharu. Karena Kinara lebih ingin mendahulukan Lana daripada dirinya.


Kinara rela mengalah asal Lana bahagia. Dan itu benar adanya. Air mata di pelupuk mata Raga semakin deras mengalir saat melihat bagaimana tadi semua berkumpul di ruangan Lana dan memujinya karena telah berhasil melahirkan bayi kembar lagi.


Yang tanpa disadari Lana, Kinara lah yang berkorban demi melihat senyum nya lagi.


Entah apa yang akan terjadi padanya saat ia mengetahui hal ini tepat tujuh hari kelahiran anaknya.

__ADS_1


__ADS_2