Penantian Kinara

Penantian Kinara
Kembali bertugas tetapi untuk yang terakhir


__ADS_3

Keesokan malamnya.


Sedari pagi Ali dan Kinara tidka bisa lepas satu sama lain. Mulai dari rumah hingga sampai ke bandara.


Hari ini hari keberangkatan mereka berdua kembali ke Papua. Ali dan Kinara masih saja tidak ingin melepaskan satu sama lainnya.


Sementara pesawat akan berangkat sebentar lagi. Mami Alisa dan Papi Gilang menatap sendu pada putri bungsunya itu.


Begitu pun dengan Algi. Ia tidak tau harus berbuat apa saat ini untuk membujuk sang adik untuk mau melepaskan Ali yang harus kembali ke Papua hari ini.


"Sudah siap Ali? Kalau sudah kita harus berangkat sekarang karena pesawat kita akan berangkat jam dua belas tengah malam ini. Ayo! Cukup lama kalian Abang lihat seperti ini. Ayo! Adek, lepaskan suami kamu. Kami pergi untuk bertugas bukan bermain-main disana." Ucap Lana pada Nara yang tidak mau melepaskan Ali sama sekali.


Nara mencebik. "Hem, Abang iya puas sama Kakak! Lah adek? Ck." Nara berdecak sebal.


Lana melengos. "Sudah lah Nak. Biarkan suami kamu pergi untuk bertugas. Cuma sebentar lagi kok. Hanya satu tahun enam bulan lagi. Iya kan Bang?" tanya Papi Gilang pada Lana.


Lana menagngguk setuju. Ali hanya bisa menghela nafasnya. Entah kenapa, perasaan nya semakin tidak karuan saat ingin kembali ke Papua.


Ada rasa berat untuk meninggalkan Nara seorang diri. Walau sudah di temani Gading, tetap saja rasa gundah gulana itu menerpa dadanya saat ini. Belum lagi, Nara tidak ingin melepaskan Ali sedikitpun semenjak tau jika ia akan kembali ke Papua.


"Ya Allah.. Ada apa dengan perasaan ku saat ini? Ada apa sebenarnya? Kenapa perasaan ini begitu gelisah? Seakan Aku tidak akan pernah kembali lagi kesini? Astaghfirullah ya Allah... Kuatkan istriku apapun yang akan terjadi pada diriku nanti nya. Hamba hanya bisa meminta perlindungan untuk istri dan anak hamba. Lindungi mereka dimana pun mereka berada.." bisik Ali dalam hati.


"Ya sudah, kalau begitu kami pamit. Selalu jaga kesehatan dan jangan lupa berdoa untuk keselamtan kami. Terutama Ali!"


Deg!

__ADS_1


Semuanya terkejut dengan ucapan Lana. Entah apa maksud dari perkataan LAna itu. Yang jelas begitu membuat jantung ke semua orang yang sedang mengantar Ali dan Lana ke bandara merasa berdebar tak karuan saat ini.


Ali menghela nafas sesak. Ia memaksakan senyum pada sang istri dan putra angkatnya. "Jaga diri Baik-baik. Abang akan pulang jika waktunya sudah tiba. Selagi abang tidak bersama mu, Abang harap kamu tidak bersedih. Lanjutkan sekolahmu hingga kamu menjadi seorang pebisnis muda sama seperti Papi dulu. Abang selalu mendukung apapun yang menjadi keinginan mu. Doa Abang selalu menyertaimu sayangku! Cup. Jaga Gading. Jadikan ia motivasi di dalam hidupmu disaat Abang tidak bersama mu. Abang akan selau mengingat semua perkataan mu malam kemarin. Bahwa kamu akan menunggu Abang pulang bukan?" katanya pada Nara yang saat ini semakin tersedu karena perkataan nya itu.


"Sayang..." panggil Ali pada Nara yang masih betah berada di dalam pelukan hangat dan ternyaman nya setelah Papi Gilang.


Nara mengangguk patuh. Walau masih sesegukan tapi ia berusaha untuk tersenyum demi melepaskan suaminya untuk kembali bertugas.


"Jaga diri baik-baik. Kami pergi. Assalamu'alaikum..." lirih Ali pada Nara


Tatapan mata itu begitu sendu. Lana tau itu. Ia hanya bisa pasrah akan jalannya takdir. Mengenang mimpi Ali itu membuat Lana merasa was was dengan keadaan adik iparnya itu. Semua itu bersangkutan dengan adik kecilnya.


Kinara.


"Abang pamit. Jaga anak kita dengan baik. Rawat mereka semampu mu. Jika sudah tidak sanggup, minta tolong sama Papi untuk mencari kan baby sitter yang baik yang bisa membantu mu dalam mengurus anak-anak kita. Dan juga.. Tolong jaga adek Nara. Ada sesuatu yang entah seperti apa. Abang tidak bisa menjelaskannya padamu. Yang jelas, semua ini pasti akan terjadi. Pesan Abang, selalu di dekat Nara dan jangan pernah lepas dari memantau keadaannya."


Maura mengangguk patuh. "Ya, Abang pun harus jaga diri baik-baik selama bertugas disana. Doaku selalu menyertai Abang, dimana pun dan kapan pun. Selalu awasi keadaan Ali. Adek percaya Abang bisa!" sahut Maura dengan tersenyum manis menatap Lana.


"Tentu. Abang pergi. Assalamu'alaikum..."


"Waalaikum salam.. Hati-hati.."


"Abang! Jangan pergi! Adek mau Abang! Jangan pergi Bang! Bahaya untuk Abang sedang menunggu di Papua saat ini. Adek mohon.. Kembali..." lirih Nara sambil menangis tersedu di pelukan Maura.


Ali berbalik, ''Apapun yang terjadi sama Abang. Ingatlah janji mu sayang.. maka Abang pun akan bertahan nantinya datibahaya yang sudah menunggu Abang. Hidup ataupun mati, Abang akan kembali padamu. Agar pembagian mu dalam menunggu Abang usai. Jaga diri dan jaga Gading. Abang harus segera pergi...'' lirih Ali kemudian berjalan cepat mengikuti langkah yang kini sudah masuk ke dalam pesawat milik tentara. Yang akan mengantarnya menuju Papua.

__ADS_1


Nara luruh ke lantai saat mendengar ucapan terakhir Ali. Maura memeluknya dengan erat. Mami Alisa pun mendekatinya dan memeluk Kinara dan Maura secara bersamaan.


Ali pergi meninggalkan hidup dan cinta nya disana bersama putra angkat nya. Gading menatap datar pada pesawat yang sudah lepas landas itu.


Dimana ada sang Papi yang sudah terbang untuk kembali bertugas. Mata kecil itu menatap tegas pada pesawat yang sudah mengudara.


''Abang berjanji Pi. Abang janji akan menjaga Mami sampai Papi kembali. Abang akan mengingat ini sampai kapanpun!''' bisiknya dalam hati.


Masih teringat olehnya subuh tadi, Sang Papi masuk ke kamarnya dan berbicara padanya. ''Nak?''


''Iya Pi?''


''Papi harus pergi bertugas kembali ke Papua. Papi tidak tau bisa kembali atau tidak. Tetapi Papi akan berusaha untuk kembali dan berkumpul bersama kalian disini. Papi minta sama kamu. Selama Papi pergi, jaga Mami. Jangan sedikitpun kamu pergi darinya terkecuali kamu sedang sekolah. Papi percaya sama kamu, kamu bisa menjaga Mami. Selalu lindungi Kami kamu. Buat hatinya bahagia agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan karena kepergian Papi.''


''Tskdir kematian seseorang tidak ada yang tau nak. Papi hanya bisa meminta ini padamu. Jaga Mami Kinara sama seperti Papi menjaga mu. Jadikan Kami Kinara prioritas mu. Pakai serahkan tanggung jawab ini padamu. Papi tau, kamu masih kecil. Tetapi Papi yakin, kamu bisa menjaganya dan memenuhi permintaan Papi. Bisa kan nak? Selalu ingat pesan Papi ini. Papi ingin Mami kamu bahagia walau tanpa kehadiran Papi di sisinya..'' lirih Ali dengan mata berkaca-kaca.


''Tentu, Abang berjanji. Abang akan menjaga Mami seperti Papi dulu menjaga Abang. Abang akan berusaha semampu Abang untuk membuat Mami bahagia. Abang berjanji.'' Jawab Gading dengan mantap.


Ali tersenyum, setetes bulir bening mengalir di sudut matanya. Ia memeluk erat tubuh putra angkat nya.


Gading masih mengingat janjinya kepada sang Papi tadi pagi. ''Abang akan mengingat janji ini Papi. Papi tenang aja. Abang akan berusaha semampu Abang. Abang berjanji sama Papi. Kami akan menunggu Papi sampai kapanpun!'' Bisik Gading dindlam hatinya dengan mata terus menatap pada lampu pesawat yang berkedip-kedip di atas sana.


💕


Sambilan nunggu, mampir kesini yuk!

__ADS_1



Noh, cus kepoin!


__ADS_2