Penantian Kinara

Penantian Kinara
Surat Untuk Kinara


__ADS_3

Cukup lama keduanya menangis. Kinara yang sudah lumayan berkurang rasa sakit dihatinya, kini mencoba bangkit walau tubuhnya terasa lemas.


Ia ingin membuka kotak beludru peninggalan Ali untuknya sebelum ia jatuh ke dalam laut.


Dengan pelan Kinara membuka kotak beludru berwarna biru dongker itu. Warna kesukaan Ali setelah biru muda dan putiih.


Papi Gilang tidak ingin bertanya. Karena ia tau, Kinara butuh waktu untuk melihat isi di dalam kotak beludru itu.


Kinara terkejut saat melihat isi kotak itu yang memang di tujukan untuknya. Sebuah kalung bertuliskan namanya dan diatas setiap ukiran nama itu terdapat batu-batu kecil miirip berlian.


Kinara menangis lagi. Ia mengambil dua buah surat yang terselip disana. Surat pertama yang Kinara ambil merupakan surat perhiasan itu yang berharga tiga ratus lima puluh juta.


Berlian asli. Lagi, Kinara menangis. Ia semakin erat memeluk surat itu. Kemudian matanya beralih pada satu kertas putih yang agak kusam seperti bekas tanah dan juga ada darah disana.


Kinara meletakkan perhiasan dan surat itu di meja. Papi Gilang pun mengambil perhiasan itu. Lagi, pria paruh baya cinta terakhir Mami Alisa tertegun melihat perhiasan bertahta kan berlian seharga hampir satu buah mobil Pajero itu.


Ia menatap dalam pada Kinara tetapi tidak ingin bertanya karena beliau tau, jika perhiasan itu dari toko nya. Papi Gilang hanya menatap nanar pada Kinara.


Sementara Kinara mengambil kertas itu dengan tangan gemetar dan juga bibir yang terus terisak. Perlahan tapi pasti.


Kinara membuka surat ituda membaca nya.


~ Teruntuk Kekasihku, Istriku, Pujaan hatiku, Kinara 💕~


"Assalamu'alaikum sayangku..


Pastilah kamu saat ini sedang menangis kan ya saat membaca surat Abang ini?"


Kinara semakin terisak. Suara isakan itu semakin keras saja.


"Sssssttt.. Sudah. Jangan menangis. Kamu harus kuat dalam keadaan apapun! Ingat kan apa yang pernah Abang katakan dulu padamu 'kan?"


Kinara tersedu. Papi Gilang memeluknya dari samping.

__ADS_1


"Dengar kan dan pahami setiap tulisan tangan Abang ini. Jangan menangis! Hapus dulu air matamu."


Kinara dengan cepat menghapus air matanya yang terus beruraian.


"Sayangku..


Hidup dan mati itu milik Allah. Kita tidak bisa menolak takdir jika suatu saat takdir itu datang menjemput kita.


Demikian juga dengan Abang. Hari ini dan di detik ini, Abang sedang mendapat musibah saat Abang bertugas.


Abang di dorong dari belakang oleh penyusup itu hingga jatuh ke dalam jurang. Dan beruntung nya Abang bisa bertahan pada salah satu pohon. Tetapi pohon ini begitu banyak durinya.


Ssstttt.. Aduuh.. Perih euuy!!"


Kinara terkekeh dii dalam tangisnya.


"Abang beruntung bisa menulis surat ini untukmu. Siapa pun nanti yang mencari nya pasti akan mendapatkan kotak beludru berwarna biru dan jam tangan Abang.


Kinara semakin tersedu.


"Jangan bersedih sayang..


Abang pasti akan pulang untuk memenuhi janji Abang sama kamu. Untuk itu, selagi Abang belum kembali. Maka bertahanlah.


Jangan bergantung kepada orang lain! Di dalam kotak itu sudah Abang letakkan rekening abang saat Abang bekerja di papua. ATM nya sama kamu kan?"


Kinara mengangguk.


"Gunakan uang itu untuk keperluanmu sehari-hari. Gunakan perhiasan itu untuk modal usaha kamu. Agar kamu bisa mendapatkan uang dan tidak bergantung kepada kedua orang tua kita.


Abang sengaja membelikan perhiasan berlian itu untukmu agar bisa kamu pergunakan. Berikan perhiasan itu pada papi.


Papi tau dengan perhiasan itu. Karena barang itu memang Abang tempah langsung dari toko Papi satu tahun yang lalu. Karena uangnya masih kurang, makanya abang tunda dulu.

__ADS_1


Berikan perhiasan itu pada papi dan minta uangnya. Jangan di jual! Itu mahar dari Abang untukmu setelah cincin. Seharusnya dulu saat menikah Abang berikan pada mu.


Tetapi tidak, karena barang itu baru saja di buat. Dan satu tahun ini sudah selesai. Untuk itu, jaga perhiasan itu dengan baik. Gadaikan sama papi dan buka usaha mu.


Yang nanti nya usaha itu pun akan menjadi usaha kita bersama. Pergunakan uang itu sebaik mungkin.


Urus Gading dan selalu pantau Abi dan Ummi. Sekarang, kamulah yang menjadi pengganti Abang.


Abang pergi untuk kembali sayang. Tunggu Abang! Jangan berpaling ke lain hati. Jika sampai itu terjadi, maka Abang akan mati secara perlahan.."


Kinara menggeleng.


"Percayalah sayang. Abang masih hidup dan akan kembali lagi ke sisimu. Untuk saat ini, kita berpisah dulu.


Abang akan berjuang dan berusaha untuk bangkit agar bisa pulang untuk menemui dirimu dan anak-anak kita!


Sampai saat itu tiba, bertahanlah. Bersabarlah. Perbanyak zikir dan selalu berfikiran positif. Dan jangan lupa untuk mendoakan Abang selalu.


Karena doa mu lah nanti yang akan membawa Abang kembali ke sisi mu.


Ingat! Jangan marah sama Bang Lana. Ia hanya sedang bingung saja waktu itu. Bagi kami para lelaki sangat sulit untuk memilih salah satu.


Kami akan mengedepankan mana yang lebih dulu akan di kedepankan! Maafkan Bang Lana, ya?


Abang pamit. Jaga diri dan anak kita. Tunggu Abang kembali sayangku.


Kinara Zivanna Ali Jaber Al Basri!


Wassalamu'alaikum warahhmatullahi wabarakatuh.."


~ Sun sayang untuk orang terkasih. 💕 ~


Kinara memeluk erat surat yang ada di tangannya itu. Ia semakin tersedu saat melihat bekas tetesan darah tangan Ali yang terluka saat ia menuliskan surat itu di sela-sela rasa sakit dan juga dirinya yang hampir jatuh ke dalam laut yang tak berdasar.

__ADS_1


__ADS_2