Penantian Kinara

Penantian Kinara
Lengkap sudah


__ADS_3

Kinara terus mengedan untuk mengeluarkan anak keduanya. Sekuat tenaga ia mengeluarkannya hingga erangan terakhirnya anak ke limanya lahir ke dunia.


"Eggghh.. Egghhh.. Huffft.. Hufft.. Eeegggghhh..."


"Oek.. Oek. Oek.."


"Masya Allah cantiknya.. Kulitnya merah sekali pertanda jika besar nanti pasti putih dan sangat cantik seperti mami nya." ucap bidan yang membantu Kinara.


Ali tersenyum haru. Ia berulang kali mengucapkan terimakasih dan mengecup seluruh wajah Kinara yang basah dengan keringat.


Ia hanya bisa tersenyum lirih saat melihat wajah sang suami yang kini basah air mata.


"Seperti biasa ya Nak, Ibu harus menjahit dulu jalan lahir ini sama seperti enam tahun yang lalu."


Ali menoleh pada bidan yang saat ini sedang sibuk di jalan lahir Kinara. Ali meringis saat melihat jarum itu diangkat tinggi-tinggi beserta dengan benangnya.


Tubuhnya bergetar. Ia kembali membungkuk dan berbisisk di telinga Kinara. "Sayang, nggak sakit apa palung surgamu dirajut kayak baju begitu? Abang serem loh liatinnya? Kalau bisa, usah dijahit napa?" bisiknya yang membuat Kinara yang terpejam kembali membuka matanya dan terkekeh.

__ADS_1


"Nggak pa-pa Abang. Udah biasa kayak gitu. Dulu anak kita yang tiga pun kayak gitu kok." Jawabnya tersenyum lemah melihat Ali


"Tapi ya.. Serem sayang. Masa iya ditunjukin gitu sih benang dan jarumnya? Udah ini kamu nggak usah melahirkan lagi! Titik! Cukup Lima anak! Abang nggak ngijinin kamu lagi punya anak!" celutuknya yang membuat Kinara tertawa


Bu Bidan tersenyum melihat itu. Dulu, ketika melahirkan si kembar tiga Kinara hanya bisa berwajah datar dan dingin tapi sendu.


Sangat terlihat jelas waktu itu jika ia begitu sedih namun berusaha tegar. Kinara terus tertawa kala bisikan Ali yang begitu mengganggu telinganya.


Belum lagi ucapan Ali itu yang begitu membuatnya geli dan selalu ingin tertawa. Bu Bidan terkekeh-kekeh saat melihat Kinara yang sengaja memukul pundak Ali hingga berualng kali.


"Hah?" Kinara tertawa, "Mana ada begitu!"


"Ada! Itu buktinya. Punya kamu dijahit rapat kayak begitu mana mungkin bisa masuk lagi? Secara kan udah di tutup semua?" bisiknya lagi yang membuat Kinara benar-benar tertawa


Berulang kali ia memukul pundak Ali. Sedang yang dipikuli malah terkikik geli. Entah kenapa, Ali sangat suka mengganggu Kinara seperti itu.


Tiada hari tanpa keusilan yang selalu ia lakukan kepada Kinara. Kinara pun tidak marah, ia malah senang karena Ali mau bercanda seperti itu bersama nya.

__ADS_1


Kedua bayinya sudah selesai dibersihkan dan diberikan kepada Ali bertepatan dengan Kinara yang juga sudah dibersihkan.


Ali terharu melihat wajah kedua anaknya yang sangat mirip dengan Kinara. Yang satunya tampan dan yang satunya sangat cantik.


Persis seperti Kinara dulu saat masih bayi. Ali tau itu. Karena ia pernah melihat foto Kinara dirumah kedua mertuanya.


Ali segera mengadzani kedua bayi kembarnya satu persatu. Setelah selesai, mereka pun keluar dari ruangan itu dan menuju ruang rawat inap yang sudah disiapkan oleh Kak Ira.


Melihat pintu ruangan bersalin terbuka di ikuti Ali dan bangkar Kinara semua keluarga mendekatinya.


Kinara tidak mendengar lagi apa yang semua keluarga itu lakukan pada kedua anaknya. Ia sangat mengantuk karena sedari jam satu malam perutnya terus sakit hingga ia tidak bisa memejamkan kedua matanya.


Setelah kedua bayinya keluar, barulah Kinara bisa terlelap.


Ali tersenyum saat Papi Gilang ingin menimang snag cucu tetapi berebutan dengan Lana. Kedua orang itu samnpai bertengkar karena tidak bisa menggendong anak Kinara yang kini di gendong oleh Maura dan Kak ira.


Kini, Lengkap sudah kebahagiaan keduanya dengan hadirnya malaikat lagi. Semoga mereka akan terus berbahagia nantinya.

__ADS_1


__ADS_2