Penantian Kinara

Penantian Kinara
Kerumah Papi dan Mami


__ADS_3

Gading tersenyum saat melihat Uwak Lana dan Malda yang kini menatap mereka berdua dengan sendu.


"Masuk Wak, Kak Malda. Kami sedang menunggu kalian!" katanya pada kedua orang yang saat ini sedang berdiri mematung melihat mereka berdua berpelukan sambil menangis.


Kinara terkejut. Dengan cepat, ia mengusap kedua matanay yang basah dengan tisu yang ada di meja.


Tidak ingin Lana tau apa yang menjadi ke khawatirannya saat ini. Kinara menoleh dan tersenyum, tetapi tdak bisa menghilangkan jejak tetesan buliran bening yang mengalir di pipinya itu.


"Sudah selesai abang ke resto?" tanya Kinara pada Lana yang kini sudah semakin tampan di usianya yang sudah cukup matang.


"Sudah. Ayo kita kerumah Papi. Apa yang sedang dilakukan oleh pria tua keras kepala itu!" ketus Lana sangat kesal mengingat Papi nya itu.


Kinara tersenyum, "jangan marah Bang. Mungkin ada kejutan untuk Kita berdua hari ini dirumah Papi? Mana tau pula hari ini Bang Ali pulang?" ucap Kinara sangat berharap dan di aminkan oleh semua anak-anak yang saat ini sedang berkumpul di dalam ruang tamu rumah Kinara.


"Amiiiiinn.. Ya Allah, semoga Papi adek yang bernama Ali Jaber al Bashri pulang hari ini. Dan akan menemui kami dirumah Oma dan Opa!" celutuk si cantik Alkira


"Amiiiiinnn.. Semoga doa adek, kakak yang cantik ini dikabulkan sama Allah ya?" Malda mengaminkan doa alkira yang kini sudah bergelayut manja di pelukan hanagt Gading.

__ADS_1


Selalu seperti itu. Kemana pun ia pergi, pastilah Gading yang ia cari. Padahal ada Uwak Lana, Uwak Tama dan juga Om nya. Bahkan opa dan kakeknya pun ada.


Tetapi si bungsu tetap memilih Gading. Karena pelukan ternyamannya dari bayi hingga saat ini adalah Gading. Bukan yang lain.


Kinara terkekeh kecil. Saat melihat Alkira sudah nemplok di gendongan Gading. Dan Gading pun tidak keberatan dengan itu.


"Baiklah, ayo Kita pergi. Jangan sampai pria tua itu mengamuk nanti sama Abang! Ayo!" ajak Lana pada semua yang ada disana.


"Ya," sahut Kinara sambil terkekeh dengan segera keluar dari rumah yang baru saja selesai direnovasi tiga bulan yang lalu itu.


Tiga bulan yang lalu, rumah itu sengaja Kinara renovasi menjadi dua lantai. Mengingat anak-anaknya akan bertambah besar.


Masing-masing mereka membawa mobil. Kinara dengan mobil Pajero Sportnya yang berwarna putih. Sedang Lana masih dengan mobil yang sama.


Hubungan Maura dan kelima anaknya pun sudah membaik. Maura sudah banyak berubah. Selama lima tahun ini abi Madan benar-benr merubah sifat Maura menjadi seperti yang ia inginkan.


Yang lembut dan baik hati. Sayang kepada kelima anak-anaknya. Hubungan Lana dan Maura pun sudah mulai membaik.

__ADS_1


Walau mereka berpisah, tetapi Lana tidak melupakan tugasnya sebagai seorang suami. Nafkah lahir tidak pernah putus pun dengan perhatiannya kepada Maura.


Satu yang tidak bisa ia berikan kepada istrinya. Yaitu nafkah batin. Kinara sudah sering menegur Lana. Tetap saja. Pemuda tampan mirip dengan almarhum ayah Emil dan juga Mami Alisa itu tidak ingin mendengarnya.


Baginya janji tetaplah janji. Ia akan memberikan nafkah batinnya saat Ali juga akan memberikan nafkah batin untuk Kinara.


Itulah jawabannya. Jawaban yang tidak bisa dibantah lagi oleh Kinara. Dan hingga saat ini, Kinara tidak pernah bertanya lagi.


Hubungannya pun dengan Muara sudah membaik. Tidak seperti dulu lagi. Faizah pun sudah menikah dengan seorang ustad anak pemilik pesantren di tempatnya mengajar setiap harinya.


Sudah tidak ada keributan lagi antara Kinara dan Faizah karena Ali. Semuanya sudah berdamai.


Dan saat ini dua mobil sedang berjalan beriringan dengan mobil Kinara di depan dan Lana di belakang.


Mereka akan datang kerumah Papi Gilang karena ada hal serius yang ingin mereka bahas.


Entah apa dan kenapa, Kinara pun tidak tau. Perasaannya tidak menentu saat ini. Tetapi ia tetap berusaha tenang.

__ADS_1


Jantungnya pun serasa tidak bisa di kontrol kala di pikirannya saat ini terus mengingat Ali. Suaminya.


__ADS_2