
Nara masih setia memeluk tubuh chubby Gading. ''Ma.. hiks.. Mi.. Abang mau hiks.. Ma.. hiks.. mi....'' isaknya masih dalam pelukan Nara.
Nara tertawa, ia semakin suka melihat Gading menangis pada pertemuan pertama mereka. ''Udah ih! Ayo.. Mami mau pulang loh..'' godanya pada Gading.
Bocah kecil itu menggeleng kan kepala nya saat mendengar ucapan Nara untuknya. ''Gading!'' panggil dokter Renaldi pada Gading yang sedang memeluk Nara.
''Saya Dokter!'' sahutnya dengan segera mengurai pelukannya dari tubuh Nara. Nara tersenyum saat mendengar suara Gading begitu tegas saat menyahuti dokter Renaldi.
''Kamu harus terus sehat. Jaga dengan baik benda berharga mu jangan sampai terluka lagi. Hem?'' Gading mengangguk patuh.
Dokter Renaldi melihat Nara dan Papi Gilang. ''Tolong jaga Gading dengan baik. Untuk sementara Gading sudah sembuh. Tapi jika sampai hal ini terjadi untuk kedua kalinya, maaf. Bukan saya mendahului takdir. Tapi Gading bisa meninggal karena ini. Berkat doa kalian, Gading masih sehat sampai saat ini. Dan pengobatan nya pun berjalan dengan baik.'' Jelas dokter Renaldi.
__ADS_1
Nara dan Papi Gilang tersenyum, mereka berdua mengangguk bersamaan. ''Tentu, nak. Terimakasih karena sudah merawat Gading selama tujuh bulan ini. Bulan depan Ali akan pulang. Untuk biaya rumah sakit Gading sudah saya lunasi. Sekali lagi terimakasih, dokter Renaldi. Semoga Allah membalas semua kebaikan yang telah kamu berikan kepada cucuku ini.''
Dokter Renaldi tersenyum. ''Sama-sama Tuan Gilang. Saya pun mengucapkan terimakasih banyak kepada anda yang sudah bersedia membantu rumah sakit ini dengan cara menjadi pemilik saham disini. Terimakasih banyak tuan Gilang. Karena anda, pertolongan anda dan istri membuat seluruh dokter dan pegawai dirumah sakit ini bisa makan. Saya tidak menyangka jika jalan Allah begitu mudah. Di saat rumah sakit ini akan di tutup, anda dan putra anda Rayyan sudah membantu kami. Terimakasih banyak tuan Gilang. Terimakasih...'' ucap dokter Renaldi begitu tulus.
Papi Gilang tersenyum, ia mendekati dokter Renaldi dan memeluknya dengan erat. Mami Alisa yang baru saja datang tersenyum melihatnya.
Sedangkan Nara tertegun mendengar serentetan ucapan dari dokter Renaldi baru saja. Ia menatap nanar pada Paoi Gilang. Mata bulat bening berkilauan itu berkaca-kaca.
Ia pun memeluk Nara dengan erat. ''Ayo Nak. Kita pulang kerumah ummi. Kami sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan mu. Ayo. Kedua adikmu sangat ingin bertemu dengan kakak ipar kecilnya ini.'' celutuk ummi Siti membuat Nara terkekeh di sela-sela menangis nya.
''Baiklah, kita pulang sekarang ya? Rayyan pun akan datang berkunjung nanti sore bersama kedua anak kembar nya. Ayo, kami permisi dokter Renaldi. Assalamualaikum...''
__ADS_1
''Waalaikum salam.. hati-hati dijalan tuan Gilang dan keluarga. Jika butuh sesuatu tentang medis, hubungi saya saja. Nomor saya ada pada ponsel Gading.''
''Tentu.'' Sahut Papi Gilang.
Mereka semua berlalu keluar dari rumah sakit dan akan menuju kediaman mertua Nara yang berada di kota Bandung. Butuh dua jam lagi untuk bisa tiba dirumah mereka.
Ini pertama kalinya Nara menginjakkan kakinya di kota Bandung dan itu langsung menuju rumah mertuanya. Rumah kedua orang tua suaminya.
Gading di gendong oleh Papi Gilang agar tidak memberatkan Nara. Mereka berjalan bersama mobil rental yang telah dipesan oleh Abi Husen sedari kemarin. Demi menyambut kedua besan dan menantu sulung nya itu, mereka rela memesan mobil khusus untuk antar jemput kedua besan nya itu.
💕
__ADS_1