
"Alhamdulillah.. Masalah itu sudah terselesaikan saat ini. Dan Mak pun menyesal karena telah memarahi Abang mu dulu. Mak sangat panik waktu itu sampai-sampai memarahinya habis habisan. Hingga Lana terpaksa membuat janji itu." Lirih Mami Alisa merasa bersalah kepada lana.
"Udah ah. Jangan sedih gitu. Mak jelek kalau marah. Apa kata Papi kalau Mak lagi cemberut?"
Mami Alisa terkekeh, "Mak jauh lebih muda kalau sedang cemberut! Ada-ada saja Papi kamu itu! Mana ada orang cemeberut terlihat awet muda?" Mami Alisa tertawa.
Lana dan Ali pun ikut tertawa. "Nah itu dia Mak awet muda!" celutuk Ali masih dengan tertawanya.
"Hooh, bener kata Papi. Kalau Mak itu awet muda bila cemberut dengan kata lain sesudh cemberut mak tertawa! Hahahaha..." Lana tertawa di ikuti oleh Ali.
__ADS_1
Kinara dan Maura pun ikut tertawa. "Terimakasih Dek, karena kamu mau memaafkan dan menjemput Kakak. Kakak tau, Kakak banyak salah sama kamu. Maafkan kesalahan Kakak yang sekarang atau pun yang akan datang, Dek. Kakak nggak tau dengan diri ini. Bisa jadi sekarang baik padamu, mana tau nanti kakak akan berubah lagi padamu?"
Kinara tersenyum, "Sudah Kak. Semua itu sudah menjadi masa lalu. Berdamai dengan masa lalu itu indah. Tidak perlu mengingatnya. Tetapi cukup jadikan pelajaran saja agar ke depannya kita tidak mengulangi hal yang sama. Adek pun minta maaf sama Kakak. Karena Adek, bang Lana jadi mengungsikan Kakak. Karena sebuah janji sampai kita harus seperti itu. Tetapi tak apa. Untuk saat ini kita sudah hidup dimasa depan. Jadi.. Lupakan masa lalu. Mari kita hidup berdampingan sebagai adik dan Kakak." Kinara tersenyum lembut pada Maura.
"Tentu, Dek. Mari kita hidup bersama tanpa adanya kagi pertikaian." Kinara mengangguk, "Sudah ada rencana untuk acara aqiqahan si kembar??" tanya Maura pada Kinara
"Udah Kak. Seperti biasa udah adek katakan sama asisten adek di dapur Kinara. Lusa, mereka akan kesini. Sudah disiapkan semua. Acara aqiqahan itu tetap di pesantren." Jelas Kinara membuat Maura mengangguk setuju.
"Itu lebih bagus. Kita tidak sibuk lagi. Tinggal terima bersih saja. Adikku itu sungguh cerdas dalam ilmu berdagang. Lihatlah sekarang usahaku. Berkat ide Kinara semuanya semakin maju dan omset penjualan pun semakin meningkat setiap harinya."
__ADS_1
"Benar sekali. Hem.. Aku pun tak menyangka jika Kinara bisa semandiri itu sampai-sampai usaha pun ia bangun sendiri. Ya.. Walau ada campur tangan Bang Tama dan Kak Annisa sih." Ali tertawa
"Betul! Adikku yang satu itu sungguh luar biasa hebatnya. Lihatlah saat ini kehidupannya begitu harmonis karena doa dari semua orang yang selalu ia bantu."
"Benar sekali. Kakak ipar memang banyak membantu orang hingga ia pun mereasakan buah dari pertolongannya itu. Ya sudh, Abang disisni sebentar ya? Mau bawa si gadis ini dulu sam Mami nya. Sepertinya Ia haus,"
"Pergilah. Abang pun harus pulang dan menjemput mereka berlima. Ck. Dasar panglima Satria. Tetaop saja mengikuti kemana Malda pergi!" ketus Lana dengan segera berlalu meninggalkan Ali yang terkekeh-kekeh karena Panglima Satria sang penjaga Malda.
"abang udah pulang?" tanya Maura pada Ali.
__ADS_1
"Udah kak baru aja. Ngomel-ngomel mah dia. Gegara abang sepupu Malda itu." Ali terkekeh lagi saat menyerahkan anak bungsunya pada kinara untuk disusui.
Maura terkekeh, "abang mu memang seperti itu. Sangat jutek kalau sama Panglima Satria." Ketiganya tetawa mengenang Lana yang tidak menyukai panglima Satria yang selalu mengekori malda kemana pun ia pergi.