Penantian Kinara

Penantian Kinara
Cerita Kinara


__ADS_3

Gading menatap Kinara dengan mata bulat bening nya yang bersinar. Ali mengelus lembut kepala Gading.


''Sini duduk sama Papi. Abang apa kabar nak? Kangen banget Papi sama kamu. Cup.'' Ali mengecup dahi Gading dengan lembut.


Gading tersenyum, ia membalas kecupan Ali dengan menyalami tangan Ali dengan takzim. Begitu pun dengan Kinara. Pasangan pengantin itu terkejut.


Annisa terkekeh, ''Kakak yang mengajari Gading seperti itu. Putra kalian sangat pintar! kakak suka jika Gading sering tinggal disini, iya kan nak?'' tanya Annisa pada Gading putra angkat Ali dan Kinara.


Gading mengangguk dan tersenyum begitu manis. Seperti tanpa beban sedikitpun di wajah kecil itu.


Ali memeluk gemas tubuh Gading yang semakin berisi sejak pertemuan nya terakhir kali di Papua beberapa bulan yang lalu.


Kedua anak Annisa duduk dipangkuan Tama. Mereka sangat betah dipangkuan sang Papi. Danis dan Tania duduk sambil memeluk tubuh hangat sang Papi. Kinara tersenyum walau sendu.


Annisa tau itu. ''Sekarang katakan! Kenapa tadi adek nangis dan hampir jatuh kayak gitu? Cerita sama Kakak, hem?'' bujuk Annisa pada Nara.


Nara menoleh pada Ali yang kini sedang menatapnya.


Apa boleh?


Terserah padamu sayang.. asalkan ucapanmu tidak di lebih-kurang kan paham?


Kinara mengangguk. Annisa dan Tama tersenyum.


Sama kayak kita sayang!


Tama menggerakkan alisnya dengan bibir tersenyum, sedang Annisa memutar bola mata malas. Tama terkekeh.


''Ngomong Dek? Kakak nggak tau masalahnya paa kalau kamu diam kayak gini?'' pinta Annisa lagi pada Nara agar segera berbicara padanya.

__ADS_1


Nara menghela nafasnya. ''Sebenarnya...'' Nara mental Annisa dan Tama lagi.


''Katakan!'' tegas Annisa.


Jika sudah seperti ini tiada kesempatan untuk tidak bicara. Nara sangat tau seperti apa Annisa. Ia tidak main-main dengan ucapan nya.


Wajah ayu mirip dengan nya itu begitu serius saat ini. Tangan Nara menjadi dingin. Gading memegang tangan halus yang selama ini selalu mengelus dan mengutusnya setelah ia dibawa pulang dari Jakarta beberapa bulan yang lalu.


Nara tersenyum pada Gading. Ia pun demikian. ''Sebenarnya adek kesal aja sama Abang Lana.'' Nara mulai bercerita.


Annisa menaikkan alisnya, ''Kesal kenapa??''


''Selama pulang dari bertugas belum pernah sekalipun Abang bertemu dengan Adek!'' Kinara memegang erat tangan Gading. Sesak dadanya.


''Terus?'' tanya Annisa lagi semakin penasaran karena melihat wajah copyan nya ituendadak kesal dan dingin.


Deg!


Deg!


Dua orang di depan pintu mematung mendengar ucapan Nara yang begitu dingin dan menusuk hingga ke relung hati.


''Adek...'' lirihnya dengan mata berkaca-kaca.


Seakan lemas lututnya saat mendengar bidadari kecilnya, kesayangan nya berbicara seperti itu untuknya dan sang istri.


Nara menangis. Ia terisak. Gading mengusap lembut air mata yang bercucuran di pipi halusnya.


''Salah ya Kak? Kalau adek merindukan Abang adek sendiri? Salah ya kalau adek ingin bersama nya seperti dulu? Salah adek dimana kak? Hingga Abang tidak ingin bertemu dengan Adek walau hanya bertatap muka saja?''

__ADS_1


Deg!


Lagi, hati itu mencelos.


''Hiks.. setiap harinya Adek selalu mendoakan kesehatan dan keselamatan untuk Abang dan bang Ali. Tetapi apa? Hiks .. ketika hati ini begitu merindukannya, ia malah tidak ingin melihat adek walau lima menit saja. Memang benar adek kangen sama suami Adek. Tetapi Abang?? Hiks .. bang Lana itu saudara adek, Kak! Salah ya jika adik lain Papi begitu menyayangi nya hingga rasanya sulit untuk membencinya?? Hiks.. salah ya kak kalau adek begitu merindukan nya? Apakah setelah menikah adek tidak boleh bertemu dan menyayanginya lagi?? Karena dia sudah memiliki hati yang lain?? Apa salah adek, kak kalau adek menginginkan saudara seibu tetapi beda ayah juga ingin disayangi?? Hiks.. Adek salah ya kak?? Hiks..hiks..'' Kinara tersedu. Ia semakin erat memeluk tubuh Gading yang saat ini sedang memeluknya.


Sedangkan seseorang di depan pintu sana terpaku di tempat mendengar ucapan sang putri kecilnya.


''Sayang..'' Lirihnya dan hanya terdengar oleh sang istri saja.


Kinara tersedu di pelukan Annisa. Matanya menatap dingin pada dua orang yang sedang berdiri terpaku di tempat karena ucapan Nara baru saja.


Tama menoleh kemana mata Annisa menatapnya. Ia terkejut kala melihat Lana, Maura, Mami Alisa, dan Papi Gilang menatap sendu pada Kinara. Ada juga Kak Ira dan Ragata disana.


''Mari masuk Dek, Mak? Papi? Ira? Ragata?? Mari masuk! Maaf.. jika kami tidak tau kedatangan kalian tadi..'' ucap Tama sedikit merasa bersalah karena tidak mengetahui kedatangan ke enam orang yang sedang terpaku di tempat karena ucapan Kinara batu saja yang begitu membuat mereka merasa bersalah.


💕💕💕💕


Yuhuuu.. assalamualaikum.. selamat pagi every badeeh.. hehehe.. othor comot dikit nih ucapan selamat pagi menjelang siang othor Defri! Hai Othor! Jangan marah ye? 😁😁😁


Okey, sambil nunggu cerita adek Nara update, mampir dulu yuk di karya nya Author favorit othor nih. Mama Reni ye?



Noh, cus kepoin! Seru banget loh ceritanya!


Like, komen, kembang, vote dan rate untuk cerita othor ini ye? Insyaallah 3 bab sehari mulai hari ini.


So.. jangan sampai ketinggalan ye?

__ADS_1


__ADS_2