
''Hadeeuuuhh.. suara kamu Nak! Pengang telinga Papi! Ck!'' ucap Ali pada Gading
Gading nyengir kuda. ''Hehehe.. maaf atuh Pi! Habisnya Abang senang banget kalau Mami Nara mau sama Abang. Padahal Abang pikir tadi, kalau Mamak menolak Abang. Secara kan Abang hanya seorang anak buangan??'' lirihnya begitu sendu.
Wajah yang tadinya sumringah kini berubah mendadak sendu seketika. Ali memeluk tubuh ringkih Gading. ''Nggak ada yang nganggap kamu anak buangan. Papi bersyukur bisa bertemu denganmu. Papi bahagia nak. Baru aja nikah, tapi udah punya anak. Ya kan sayang??'' tanya Ali pada Nara yang masih terhubung melalui sambungan ponselnya.
Nara mengangguk dan tersenyum, ''Jangan beranggapan kalau kamu itu anak buangan? Kamu itu anak Papi sama Mami. Bukan buangan. Yang dibilang buangan itu, kamu dibuang dan tidak dianggap. Sedang sekarang?? Kamu dianggap sayang.. kamu putra kami. Jangan berpikir begitu. Sembuh dulu disana. Rajin minum obat dan jangan lupa berdoa. Terus kamu harus nurut sama Papi, hem?'' kata Nara pada Gading.
Lagi dan lagi mata gading berkaca-kaca. ''Hiks Mami... Abang mau Mami...'' Isak Gading dalam pelukan Ali. Lana mendekati Ali dan mengambil alih Gading.
''Bicaralah dengannya. Abang tau kalau kamu sangat ingin berbicara berdua dengannya. Adek pun sangat ingin berbicara denganmu. Abang akan bawa Gading kesana untuk bisa berbicara dengan kedua adik kembarnya. Ayo nak, biarkan Papi mu melepas rindu dengan Mami mu.''
Gading mengangguk, ''Mana adek kembarnya Mi?? Abang mau lihat?'' katanya pada sambungan ponsel milik Lana yang menunjukkan wajah Maura sedang tersenyum padanya disana.
''Tentu. Ini dia jagoan Papi dan si cantik Abang!''
__ADS_1
''Wooahh.. adek kembarnya mirip euuy!!'' celutuk Gading membuat Lana terkekeh.
Ali pun ikut tersenyum, ia menoleh pada Lana dan Gading yang sedang berjalan jauh meninggalkan mereka. Nara masih saja menatap wajah tampan Ali. Yang semakin hari semakin tampan menurutnya.
''Abang...''
''Ya Sayang...'' sahut Ali ssmbil mengalihkan perhatian nya pada Nara.
Saat ini Nara sudah berada di taman belakang rumah sakit. Mami Alisa memberikan waktu untuk pengantin baru itu melepaskan rindu walau hanya melalui sambungan ponsel saja.
''Sudah aman??'' tanya Ali
Nara tertawa namun, tetap sendu. ''Adek kangen sama Abang..'' lirihnya dengan air mata beruraian.
Ali terkekeh, ''Abang pun sama. Kangen banget sama bidadari surga Abang ini. Jangan menangis.. air matamu merupakan luka untuk Abang sayang.. jangan menangis disaat Abang jauh.. karena kamu tidak punya bahu untuk bersandar. Kamu harus menjadi wanita kuat! Mandiri dan bisa berbuat apapun sendiri. Jangan bergantung pada orang lain.. Abang sayang banget sama kamu sayangku. Mmmuuuaacchh..'' kata Ali pada Nara
__ADS_1
Nara tertawa walau air mata terus bercucuran tiada henti. ''Hiks.. kangen pingin meluk Abang! Hiks .. pingin cium bau tubuh Abang! Hiks.. kangen semua yang ada sama Abang! Huaaa...'' Nara tersedu seorang diri di belakang rumah sakit tempat Maura dirawat.
Rencananya nanti sore mereka akan pulang. Dan kebetulan sekali pagi ini Lana menghubungi mereka begitu juga dengan Ali.
''Huaaa.. hiks.. hiks.. kangen Abang! Pulang Napa?! Nggak kuat adek nahan rindu!! Hiks.. Abaaaangg...'' rengek Nara semakin membuat Ali tertawa.
Inilah yang Ali sukai dari Nara. Nara gadis apa adanya. Tidak neko-neko. Ia menunjukkan apapun yang ia inginkan.
''Hahaha... sabar sayang.. nggak lama lagi kok. Abang pulang? Kamu harus bersiap nanti saat Abang pulang. Karena ketika Abang pulang nanti, kamu sudah siap menjadi istri Abang seutuhnya. Kamu sudah siap lahir dan batin sayang untuk menjadi istri Abang??''
Nara menunduk malu. Ali terkekeh. ''Sayang dengarkan Abang!'' pinta Ali pada Nara
Nara menatap wajah tampan Ali dari sebalik ponsel pintar nya. ''Apapun yang terjadi ke depannya, kita tetap harus bersatu dulu agar kita berdua kuat untuk menghadapi sesuatu yang akan terjadi di depan kita. Abang nggak pernah tau seperti apa jalan hidup pernikahan kita. Yang jelas, Abang sangat mencintai mu. Tak ada yang lain. Kamu satu-satunya. Satu untuk selamanya.''
''Abang harap, waktu sebulan lebih itu cukup untuk kita memadu kasih. Abang pria dewasa sayang. Butuh amunisi dari kamu sebelum Abang kembali untuk bertugas. Bisa? Abang hanya meminta ini saja sama kamu. Nggak ada yang lain. Yang Abang butuhkan itu kamu! Sayangku, hidupku, Ratuku!''
__ADS_1
Nara semakin terharu. Bukannya malah tersenyum ia malah makin tersedu. Ali tertawa melihatnya. Lana yang sedang berdiri di kejauhan sana pun ikut tertawa. Pasti Ali sudah berhasil membuat sang adik kecilnya malu-malu padanya.
''Ck! Dasar Ali. Tapi emang iya sih. Itu kan kebutuhan khusus bagi kami para Pria? Hemmm.. semoga kamu kuat Ali. Abang yakin, adek pasti bisa meluluhkan Pisang Ambon mu itu!'' celutuknya membuat Maura di seberang sana terkikik geli.