
Lana berjalan gontai menuju ke tempat Kinara dan Annisa yang saat ini sedan makan siang dengan daging aqiqahan dari dapur Kinara.
"Sini duduk. Maura mana? Nggak kamu ajak kesini?" tanya mami Alisa membuat Kinara yang sedang makan pun menoleh pada nya.
Lana menatap sendu pada Kinara. "Benar yang kamu katakan dulu dek. Kakak iparmu sama seperti yang terlihat saat ini. Ia sangatlah egois bahkan tidak mau mengerti posisi Abang yang sangat sulit untuk memilih. Jika memilihnya, Abang harus melupakan mu seumur hidup Abang. Dan uang yang Abang berikan padamu secara diam diam menurutnya. Harus Abang kembalikan.. Dan kalau Abang memilihmu, Abang harus melepaskannya dan anak-anak dibawa olehnya semua.. Hiks.. Abang harus apa Mak? Abang harus apa Pi? Abang harus apa Dek? Abang tidak bisa memilih diantara kalian semua.. Kalian semuanya Abang inginkan!" ucapnya begitu pilu.
Mereka semua yang sedang makan pun berehenti mengunyah karena mendengar ucapan Lana.
Papi Gilang mengepalkan tangan nya. "Kamu tenang saja. Papi akan mengurus semuanya. Tapi ingat, apapun yang sudah papi putuskan. Maka kamu tidak bisa membantahnya. Papi sudah mengumpulkan semua bukti tentang kelakuan istrimu itu. Sudah papi peringatkan dulu. Ia tidak akan bisa bersikap adil antara kamu dan juga adikmu Kinara! Ingat bang, kamu merasakanp semua ini karena kamu tidak merestui hubungan dengan nya. Sudah tak apa. Papi yang akan menangani hal ini. Kamu cukup menuruti apa yang akan Papi putuskan!"
__ADS_1
"Mulai hari ini, kamu akan berpisah dengan Maura. Papi akan menghubungi ayahnya untuk masalah ini. Sudah cukup selama berapa bulan ini Papi melihat kamu yang selalu di tindas olehnya. Papi tidak tahan melihat putra Papi harus tersiksa setiap harinya karena wanita seperti itu! Jangan pikirkan tentang cinta. Cinta itu akan hilang seiring berjalannya waktu. Tunggu sebentar, mertua kamu menghubungi Papi. Papi yakin, kalau istri kamu itu sudah mengadukan hal ini kepada ayahnya. Cih! Selalu ingin menindas putraku! Tunggu saja kebenaran apa yang akan terungkap nantinya! Dan kamu, Bang! Bawa semua anak-anakmu kesini. Jika dia mengamuk, biarkan saja. Papi yang akan berhadapan dengannya!" tegas Papi Gilang tak terbantahkan.
Kinara menatap sendu pada Abang sulungnya itu. Ia bangkit dan berjalan perlahan menuju Lana yang kini tersedu karena keputusan sang Papi yang merupakan keputusannya sejak dimana hari ia pulang membawa kabar duka untuk Kinara.
Kinara memeluk Lana dari samping. Lana terkejut tetapi saat tau jika itu adiknya, ia mengeratkan pelukannya.
"Abang nggak usah khawatir. Adek yang akan mengurus semua anak Abang. Bawa mereka kesini begitu juga dengan pengasuhnya. Abang pun harus tinggal disini untuk sementara. Biarkan rumah itu sepi untuk sementara. Bukankah Kakak ipar ASI nya kali ini tidak keluar?" Lana menatap Kinara yang tersenyum lembut padanya.
"Dari mana kamu tau, Dek?" tanya Lana pada Kinara yang kini terkekeh kecil melihat raut wajah bingung Lana.
__ADS_1
Mami Alisa dan Papi Gilang terkejut. "Maksudnya Maura tidak memberikan ASI kepada anak kamu, Bang? Tetapi botol susu itu bentuknya seperti ASI loh.." ucap Papi Gilang yang membuat Kinara terkekeh.
Mbak Sus tersenyum saja. "Memang iya Pi. Susu Maura tidak keluar. Abang membelikan susu formula untuk mereka dan Abang berikan itu kepada Mbak Sus. Tetapi hal yang baru Abang tau pagi ini ialah.. Kalau itu memanglah ASI, Pi. Bukan susu.." lirih Lana dengan dada begitu sesak.
"ASI?? Punya siapa??" tanya Mami Alisa pada Lana.
Kinara terkekeh lagi. "ASI itu punya Nona Kinara, Nyonya. Saya yang memintanya karena tidak tahan harus mendengar si kembar terus menangis karena ingin menyusu. Sedangkan susu Ibu Maura tidak keluar sama sekali. Saya terpaksa mengambil jalan ini. Maaf.. Jika saya lancang. Saya terpaksa Nyonya.." lirih Mbak Sus mersa tidak enak dengan keluarga Kinara yang kini sangat terkejut karena pernyataan baru saja ia ucapkan.
Kita selesaikan masalah Lana dulu ya. Baru nanti menuju lima tahun kemudian.
__ADS_1