
Keesokan harinya.
Pagi ini mereka sudah bersiap untuk pergi kerumah Mami Alisa dan Papi Gilang.
"Sudah siap?"
"Sudah, ayo kita berangkat!" jawab Kinara dengan segera memasuki mobilnya dan di ikuti oleh ke empat anaknya.
Begitu pun dengan Lana. Mereka pun baru akan keluar juga. Mobil Ali dan Kinara yang berjalan lebih dulu dan disusul Lana dan Maura.
Acara tasyakkuran itu akan diadakan pukul sepuluh pagi ini. Dan saat ini mereka semua masih dalam perjalanan karena masih pagi. Pukul delapan pagi.
Sepanjang perjalanan mereka semua bercanda bersama. Tak jarang Gading yang selalu menjadi bahan ledekan dari semuanya.
Gading hanya bisa pasrah.
Tetapi tidak di dalam mobil milik Lana. Saat ini mereka lebih fokus pada Malda yang akan berangkat ke Malaysia besok pagi.
Semuanya merasa tidak enak. Ingin bercanda, tetapi tidak bisa. Tadi malam saja, semuanya tidur bersama Malda.
__ADS_1
Karena mereka tau jika kakak sulung mereka itu akan segera pergi keesokan harinya.
Kinara tau, karena tadi malam Malda sengaja menghubungi nomornya dan memperdengarkan suara tangisan Lana, Maura dan ke empat adiknya.
Mereka seakan berat untuk melepaskan Malda kembali ke tempat kelahirannya karena tampuk kepemimpinan sang ayah sedang menunggunya saat ini mereka tiba dirumah Mami Alisa pada saat tamu sudah hadir satu-satu. Kinara turun langsung mendekati mobil Lana yang membawa Malda di dalam nya.
Malda yang melihat itu pun tersenyum. Ia segera turun setelah menunggu semua keluarganya.
"Ayo masuk. Acara ini pun sengaja dibuat bukan hanya untuk mendoakan kita saja. Tetapi juga kepergian mu esok hari. Kamu harus kuat, hem? Ingat selalu pesan Mami."
"Iya Mami. Kakak akan selalu ingat pesan mami. Terimakasih untuk semuanya.." lirih Malda seperti suara desauan angin
Tiba di dalam, semua tamu tersenyum melihat Kinara dan Malda yang masuk terus saja menyalami mereka satu persatu. Disusul Maura, Lana dan Ali.
Baru terakhir anak-anak Lana dan Kinara. Mami Alisa memeluk mereka satu persatu. "Duduk dulu. Sebentar lagi acaranya di mulai. Pesanan Mami udah semua kan Nak?" tanya nya pada Kinara.
"Sudah mi. Nanti jam dua belas baru datang." Jawab Kinara
"Ya sudah, tunggu sebentar lagi. Ali dan Malda duduk di tengah-tengah karena mereka yang akan mendoakan kalian berdua."
__ADS_1
"Baik," sahut mereka berdua.
Ali dan Malda langsung saja duduk di tengah-tengah ruangan. Mereka akan menunggu kedatangan semua anggota pengajian yang sengaja Mami Alisa undang untuk mendoakan seluruh keluarga terutama Ali yang baru kembali.
Dan Malda yang akan berangkat besok pagi.
Pukul sepuluh pagi acara itu segera di mulai. Di pimpin oleh seorang ustad acara itu pun berlangsung dengan khidmat.
Apalagi saat Malda meminta izin kepada sang papi. Seorang lelaki yang mengurusnya sedari kecil menangis tersedu sambil memeluknya erat dan juga dengungan sholawat terus terdengar di seluruh rumah Mami Alisa.
Kinara dan yang lainnya pun ikut menangis saat Malda meminta izin dan pamit pada mereka semua.
Semua yang melihatnya pun ikut menangis. Mereka pun ikut merasakan sedih karena kepergian Malda ini.
Lana dan Kinara. Entah mengapa merasakan hal buruk akan terjadi kepada Malda. Entah benar atau tidak, yang jelas mereka berdua begitu gelisah sejak tadi malam hingga siang ini.
Seperti akan terjadi sesuatu. Tetapi entah apa.
Lana dan Kinara saling memegang tangan untuk menguatkan satu sama lainnya. Sengaja untuk menyalurkan rasa gelisah yang kini sedang melanda diri mereka berdua.
__ADS_1