
Raga tersentak. Tubuhnya mematung Kala menyadari jika dua saudara ipar itu sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Dalam artian hal baik lain.
''Ada apa Bang??'' tanya Lana pada Raga. Lana mendekati Raga.
Raga menoleh, ia menatap sendu pada Lana. ''Istri dan adikmu sedang mengandung saat ini!''
Ddduuaaarrr...
''Apa?!!?'' seru Mami Alisa di pintu kamar Nara yang sedang di papah Algi.
Brrruukkk...
''Sayang!!!''
''Mamiii!!''
''Mak!!!!'' panggil Papi Gilang, Algi, Raga dan Ira secara bersamaan.
''Mamii.. Bangun Miii!!'' seru Algi dengan menepuk-nepuk pipi halus Mami Alisa. Papi Gilang mendekat.
''Biar Papi baring kan disana. Raga!''
''Saya Pi!'' sahut Raga.
''Kita harus apa sekarang?? Lana!''
''Iya Pi..'' sahutnya tak berdaya. Wajah itu begitu sembab dan pucat.
Papi Gilang menghela nafasnya. ''Ya Allah... kita mendapat kabar duka sekaligus kabar bahagia di waktu yang bersamaan. Astaghfirullah ya Allah... Apakah memang benar dan sudah di pastikan kalau jasad Ali tidak di temukan? Maksud Papi...''
Lana mengangguk dengan wajah sendu. ''Abang sendiri yang turun tangan Pi untuk mencari Ali hingga ke dasar jurang. Abang hanya menemukan secarik baju Ali yang kuyak beserta sebuah kotak dan jam tangan milik Ali. Ali hanya membawa satu benda di tubuhnya, Pi?''
''Apa itu??'' tanya Papi Gilang penasaran.
__ADS_1
Lana menghela nafasnya lagi. ''Cuma Nara yang boleh buka kotak beludru ini. Abang tunggu Nara bangun saja.. Abang tidak berhak tau, Pi.. hiks.. Ali pernah ngomong sama Abang, ia ingin memberikan sesuatu yang spesial untuk Nara sebulan setelah kami bertugas. Dan ya, Ali membelikan sesuatu secara online. Perhiasan yang Ali beli. Abang nggak tau persis nya apa. Pokoknya Ali pernah ngomong kayak gitu sama Abang.''
''.....Dan... kotak ini Abang temukan disaat Abang sendiri yang turun ke bawah mencari nya. Disana banyak jejak dirinya sebelum terjatuh. Dan Abang tau itu. Bahkan Abang merasa tubuh Ali terluka parah akibat goresan pohon berduri itu. Dan.. dan.. jatuh ke jurang....... hiks .. Aliiii...'' Raung Lana lagi.
Ira dengan sigap memeluk adiknya itu. Ia pun ikut terisak disana. Papi Gilang jatuh terduduk. Sementara Mami Alisa yang sudah sadar di peluk erat oleh Algi.
''Putriku?? Menjadi janda di usia muda??'' lirih Mak Alisa dalam pelukan Algi. Algi ikut menangis mendengar isakan Mami Alisa yang begitu menyayat hati.
Mereka sibuk menangis dan mengenang Ali. Tanpa sadar, mereka sudah mengabaikan Nara yang saat ini sangat butuh penenang di kala hatinya sedang di rundung pilu.
Matanya terbuka, ada air mata mengalir disana. Mata itu menatap kosong pada langit-langit kamarnya.
''Sayang?''
''Hem, Apa Bang??''
''Kalau suatu saat Abang tiada, apakah kamu akan menikah lagi??'' Nara menoleh pada Ali dan menatapnya tajam.
Ali Terkekeh. ''Abang cuma tanya sayang.. bukan sungguhan. Turunin itu mata. Serem Abang lihat nya!''
Ali Terkekeh lagi. ''Bukan mendoakan mu sayangku. Abang sedang bertanya. Apa yang akan kamu lakukan jika suatu saat kamu mendapatkan kabar kalau Abang tewas dalam bertugas??''
Deg!
Deg!
Nara berbalik menatap Ali yang kini sedang memeluk tubuh polosnya. Nara duduk berhadapan dengan Ali. ''Ingat ini Bang! Sekarang ataupun nanti, adek tidak akan pernah menikah lagi dengan siapa pun! Cukup Abang satu! Kalaupun Abang tiada saat bertugas dan adek dalam keadaan mengandung seperti yang Abang katakan dulu, maka adek akan menunggu Abang. Abang pasti masih hidup dan akan kembali ke sisi adek. Adek yakin, kalau Abang hanya sedang tersesat di luar sana dan tidak tau jalan pulang!'' ucap Nara sambil menatap Ali penuh cinta.
Tatapan itu begitu sendu saat Ali mengatakan hal itu padanya. Ali tersenyum, ''Kalau seandainya.. Abang tidak pernah kembali hingga rambutmu memutih dan kamu tiada apakah kamu tetap menunggu Abang??'' kata Ali pada Nara.
Nara menatap dalam dan serius pada Ali. ''Sampai kapanpun adek akan menunggu Abang. Walau rambut ini memutih, gigi ini ompong dan tulang kaki ini menjadi renta maka adek akan tetap menanti kepulangan Abang. Kinara akan menanti Bang Ali sampai Abang kembali lagi. Penantian Kinara tidak akan berakhir begitu saja. Adek yakin, Abang akan kembali lagi ke sisi kami. Adek yakin itu. Penantian Kinara akan selesai saat Abang kembali lagi ke sisi ku. Dan kalau seandainya Abang tidak kembali lagi, maka penantian Kinara akan berujung pertemuan di surga Nya Allah.''
Deg, deg, deg...
__ADS_1
Jantung Ali berdegup kencang saat mendengar ucapan Nara untuknya. Sungguh mulia hati istri kecilnya ini. ''Semoga saja apa yang abang pikirkan ini hanya bualan semata. Kalaupun ini terjadi, Abang akan mencari mu Kinara. Sampai ke ujung dunia pun. Hingga butuh waktu bertahun-tahun untuk mencari keberadaan mu, Abang akan tetap pulang menemui mu. Itu janji Abang padamu, sayang. Abang sangat, sangat, sangat mencintai mu istriku. Kinara Zivanna Bhaskara. Satu-satunya istri Ali Jaber Al Basri satu untuk selamanya..''
''Nara?? Dek??? kamu sudah bangun??'' tanya Lana sambil mendekati adik bungsunya itu.
Nara menoleh dan tersenyum pada Lana.
Deg!
Deg!
''Adek udah sadar dari tadi kok. Apa terjadi sesuatu dengan perut adek?? Adek merasa.. kok kayak keras ya?? Bang Raga tau sesuatu??'' tanya Nara pada Ragata.
Papi Gilang, Mami Alisa, Algi, Ira, Lana dan Ragata saling lempar pandang. Nara Terkekeh. ''Ada apa? Ada apa dengan kalian? Adek baik-baik saja kan? Abang? Papi? Kakak? loh? Kak Maura?'' Nara terkejut melihat Maura yang sedang menatapnya dengan sendu.
Maura bangkit dan segera memeluknya sambil terisak. Nara terkejut. ''Hei.. kakak kenapa?? Adek baik-baik saja kok. Sudah.. jangan menangis?'' ucapnya sambil mengelus lembut tubuh Maura
Nara mengurai pelukannya dari tubuh Maura. ''Apa bang Ali menitipkan sesuatu untuk adek, Bang??''
Deg!
Lana terkejut. Dengan segera ia memberikan seluruh barang peninggalan Ali. ''I-ini yang tertinggal di camp saat terakhir kali Abang-,''
''Sudah .. tidak apa-apa bang.. Abang sama kakak tunggu adek ya? Adek mau pulang kerumah kami. Hari ini juga. Tapi adek mandi dulu. Gerah nggak mandi-mandi dari kemarin. Mami? Gading mana??'' tanya Nara pada Mak Alisa.
Mami Alisa tertegun melihat perubahan Nara begitu cepat. ''Nakk....''
Nara tersenyum, ''Adek tak apa Mami. Adek pulang hari ini ya kerumah kami? Mumpung bang Lana udah pulang. Tak apa adek sendiri. Kan kalau ada apa-apa, ada bang Lana dan kak Maura yang nolongin?''
Semuanya terdiam melihat kelakuan aneh Nara. Mami Alisa semakin tersedu di pelukan Algi. ''Sudah, adek mandi dulu. Abang tungguin ya?'' katanya pada Lana.
Lana mengangguk kaku. Nara berlalu ke kamar mandi untuk mandi dan sholat ashar. Karena sudah masuk waktu ashar saat ini. Melihat Nara pergi semuanya saling pandang.
Mereka memilih keluar dari kamar Nara dan berbicara di bawah sana. Tiba di bawah, semuanya terdiam. Tak ada satu pun yang berbicara. Hanya terdengar suara celotehan Mbak Sus dan si kembar Malik dan Zia. Dan juga Malda. Gadis kecil itu begitu perhatian, ia tidak berani melihat Lana dan Maura yang sedang bermuram saat ini.
__ADS_1
Sedangkan Gading saat ini sedang bermain di bawah bersama Pak satpam rumah Papi Gilang. Itulah kebiasaan selama sebulsn ini semenjak tinggal disana.