Penantian Kinara

Penantian Kinara
Kedatangan Ibu Amanda


__ADS_3

Ali berjalan perlahan sambil membuka pintu samping rumah Lana yang terhubunh langsung dengan rumahnya dan Nara. Rian didepan pintu, ia melihat sang istri sedang menunggunya sambil menyender di tepi pintu sambil tersenyum manis padanya.


Ali pun ikut tersenyum, ''Assalamu'alaikum bidadari cantik Abang...'' sapa Ali sembari mengulurkan tangannya untuk disalimi Nara.


Nara terkekeh, ''Waalaikum salam Abang ku sayang.. nggak bawa pulang uang Abang ku tendang sampai melayang...'' balas Nara tak kalah menggoda dari Ali.


Ali yang mendengar nya Sampai tertawa terbahak. ''Hahaha.. kok gitu? Masa sih sayang Abang ini mau nendang Abang hingga melayang karena nggak bawa pulang uang??'' katanya pada Nara sambil merangkul mesra bahu istri kecilnya itu.


Nara tertawa. ''Lah.. kan emang gitu Abang. Kalau suami pulang itu bawa pulang uang. Kalau nggak bawa pulang uang otomatis dong periuk melayang??''


Buhahahaha...


Ali semakin terbahak mendengar ucapan Nara. ''Hahaha... kamu dapat omongin itu dari mana sayangku? Hem? Bisa-bisa ada omongin kayak gitu untuk suami yang baru pulang. Kalau suami lain otomatis pastilah akan ngamuk sama kamu!''


Nara terkekeh, ''Itu kan suami orang. Lah ini Abang! Bang Ali Jaber Al Basri! Suami sah Kinara Zivanna Bhaskara! Nggak ada yang salah dan semua itu benar! Benar-benar mengocok perut Abang yang baru pulang kerja!'' goda Nara pada Ali.


Lagi dan lagi Ali tertawa terbahak. ''Hahaha.. sayangku. Bener-bener ih kamu! Sakit perut Abang ini! Tanggung jawab kamu!''


''Weleh? Kok ada acara pakai tanggung jawab segala? Tanpa Abang bilang tanggung jawab pun adek itu udah tanggung jawab Abang loh.. lupa??'' sahut Nara pura-pura nggak konek.


Matanya berkedip-kedip lucu pada Ali. Hingga Ali tidak tahan dengan godaan Nara. Pintu ia tutup dengan kaki.


Braaakkk..


''Astaghfirullah!'' pekik seseorang diluar rumah mereka karena terkejut dengan pintu rumah Ali yang tertutup begitu kuat.


Sementara Ali sedang menikmati putik merah jambu yang sedari tadi terus saja menggoda nya dengan lelucon recehnya hingga membuat perut Ali benar-benar di kocok ingin tertawa.


Sibuk berbagi Saliva, mereka berdua tidak sadar jika pintu diketuk dari luar.

__ADS_1


Tok, tok, tok..


''Assalamu'alaikum.. Ali.. Kinara...'' panggilnya


Sepi. Tak dan sahutan. ''Kemana sih? Kok sepi? Eh, bukannya tadi aku lihat ada Nara di dalam Kan ya? Terus pintu ini juga baru saja tertutup hingga membuatku terkejut. Ck! Dasar pengantin baru. Ya gini,'' katanya sambil terkekeh-kekeh mengenang dia dulu pun seperti ini.


Lagi, ia ketuk lagi pintu rumah pengantin baru yang sedang memadu kasih diruang tamu itu.


Tok, tok, tok...


''Assalamu'alaikum... Ali Jaber! Kinara! Ishh.. bukain pintunya! Saya mau masuk loh.. isshh.. mana banyak nyamuk juga!'' gerutunya bersungut-sungut.


Nara yang di antara sadar dan tidak mencoba menghentikan ulah Ali yang semakin tidak terkontrol.


''Abang! Ada tamu itu euughh.. ih awas! Bukain!' katanya pada Ali.


Ali tidak merespon, yang ada ia malah membuka sesuatu yang melekat di tubuh Nara saat ini. Nara terkikik geli saat merasakan hembusan nafas Ali menerpa tubuhnya.


Ali berhenti, ia menatap Nara dengan dalam. Kemudian berdecak sebal.


Berhasil! hihihi...


Nara cekikikan melihat wajah Ali mendadak masam seperti itu. ''Ck. Apa sih?! Buat orang kesal aja!'' sungutnya semakin kesal saat mendengar suara pintu semakin kuat di ketuk dari luar.


''Ali Jaber! Kinara! Ih bukain napa pintunya?! Saya di gigit nyamuk ini..!!'' kesalnya lagi.


Tanpa sadar ia mengetuk lagi pintu di depan nya sambil bersungut-sungut. Akan tetapi bukan pintu yang ia ketuk, Malah wajah masam Ali yang terketuk kuat olehnya hingga Ali memekik kuat.


Tak!

__ADS_1


''Aaaarrrgghhtt... astaghfirullah! Kenapa mata saya yang ibu ketuk sih?!''


''Eh, astaghfirullah!! Ali?? Heh? Hehehe.. maaf.. maaf.. saya kirain pintu juga tadi. Hihihi...'' ucap ibu Amanda semakin terkikik geli karena melihat di leher Ali ada bintang berkelipan disana.


Siapa lagi pelaku nya jika bukan Nara tadi. Ali berdecak sebal. ''Ada apa ibu kemari??'' ketus Ali begitu kesal.


Mana hasrat tidak tersalurkan belum lagi mata tajamnya terketuk tangan ibu Amanda istrinya komandan Kevin. Hingga ia meringis menahan sakit.


Sementara Nara yang baru saja memakai bajunya kembali setelah tadi sampai terbuka oleh sang suami kini menuju ke pintu Dimana Ali sedang bersungut-sungut kepada ibu Amanda istrinya komandan Kevin.


''Ada apa ibu datang kemari?!'' ketus Ali lagi.


Nara terkekeh, ia mencubit pinggang Ali hingga Ali terjingkat kaget. ''Astaghfirullah! Sayang! Kok di Cubit sih?! Hadeeeuuhh.. perih euuyy!!'' celutuknya


Membuat ibu Amanda tertawa terbahak. Begitu juga dengan Nara. Ali menatap tajam pada Nara. Nara semakin tertawa. ''Apa?? Ih, matanya itu loh.. nanti nggak dapat lihat si apem legit lagi, mau??'' bisik Nara di telinga Ali yang sengaja ia tarik ke mulutnya.


Ali melototkan matanya. Ibu Amanda semakin tertawa. Nara terkikik geli melihat Ali semakin menatapnya dengan tajam.


''Haha.. udah ih matanya! Ada apa ibu kemari?? Mari masuk!'' Ajak Nara pada ibu Amanda.


Ibu Amanda mengangguk patuh. ''Saya ingin ngomong sama Lana dan Maura tadi. Tapi kayaknya rumah mereka lagi tidak baik-baik saja. Pasti semua ini karena laporan dari suami saya tadi kan ya?'' tanya nya sambil menatap Nara dan Ali dengan tatapan sendu merasa bersalah kepada Lana dan Maura.


Nara dan Ali saling pandang. ''Ehm, kalau Masalah itu saya kurang tau Bu. Tapi yang jelas, Abang sangat marah akan perkataan Komandan Kevin tadi di camp. Beliau sampai menghina bang Lana dan kakak ipar saya. Sebenarnya apa sih yang terjadi? Hingga kak Maura sampai memegang senjata seperti itu?? Terus, darimana ibu tau, kalau kakak ipar saya bisa memegang senjata??'' selidik Ali pada ibu Amanda.


Ia harus tau dulu puncak masalah nya dimana. Baru setelahnya ia akan datang kerumah Lana bersama Nara nanti setelah Bu Amanda pulang.


Ibu Amanda mengenal nafas panjang. ''Tadi, saat saya dan teman yang lain sedang bertemu dengan seorang polisi untuk mengusulkan Masalah perampok itu, suami saya menghubungi komandan Adam yang merupakan sahabatnya. Ia berbicara yang entah apa. Saya pun tidak tau. Dan.. tanpa di duga komandan Adam menyebut nama saya. Ia mengatakan jika saya ada disana.''


''Beliau sempat marah. Dikira saya selingkuh. Tapi saya bisa menjelaskan nya dengan baik. Hingga saya menjelaskan rencana saya untuk menghukum perampok itu melalui Maura. Saya tau, jika Maura bisa memegang senjata. Karena saat malam kejadian Lana dan Maura tertembak di jalan komplek mangga dua saat itu, saya berada tak jauh dari sana!''

__ADS_1


Deg!


''Apa?!''


__ADS_2