Penantian Kinara

Penantian Kinara
Kecewa


__ADS_3

Ada kata mutiara yang mengatakan, jika seseorang terluka baginya bisa untuk memaafkan tetapi sulit untuk melupakan. Wanita itu ibarat cermin.


Jika cermin itu masih utuh, pastilah bias pandang wajah kita disana terpampang nyata. Tetapi berbeda jika kaca itu pecah dan retak. Kita bisa mengembalikan nya seperti semula. Tetapi... bias yang ditampilkan oleh kaca yang sudah pecah dan retak itu tidak akan sama lagi.


Begitupun dengan Kinara saat ini. Ia terkejut kala mendengar ucapan sang Abang, Tama. Suami Kakaknya mengatakan jika ada Lana, Maura, Papi dan Maminya begitu juga Ira dan Ragata. Algi dan Rayyan tidak ada. Kedua pemuda itu sedang di sibukkan dengan tugas masing-masing setelah pulang dari jalan-jalan tadi. Sedangkan Rayyan sedang di Bandung mengurusi kantor serta kuliahnya.


''Mari masuk! jangan berdiri di depan pintu saja! Maaf.. Abang nggak tau kalau kalian datang. Mak? Papi??'' Tama menyapa lagi kedua orang taunya itu.


Lana masuk dengan kaki lemas sepeti tidak bertulang. Sedangkan Papi Gilang sambil berjalan terus memegangi tangan Mami Alisa.


Mencari rasa kuat dan aman untuk menghadapi putri kecilnya ini.


Kinara.


Putri kecilnya kini sudah dewasa. Ia sudah bisa mengerti mana yang bisa dan mana yang tidak. Dan mana yang menyayanginya. Kinara sama persis seperti Annisa.


Tidak seperti dulu, jika menginginkan ataupun tidak ingin sesuatu maka ia lebih memilih diam. Tetapi tidak dengan sekarang. Gadis kecilnya itu sedang kecewa dengan mereka semua.


''Duduk Mak. Duduk Pi! Kamu juga Dek!'' tegas Tama pada Lana.


Lana menunduk. Ia tau jika sudah mendengar suara tegas Tama berarti dia melakukan kesalahan saat ini. Lana pasrah. Ia duduk dengan wajah menunduk.


Kinara masih saja dalam pelukan Gading. Ali memeluk erat tubuh Kinara setelah Annisa melepaskan nya.


Annisa berlalu ke belakang setelah Tama memberi kode padanya agar ke belakang sebentar. Annisa menurut. ''Kalian bicaralah. Abang buatkan minum dulu ya di dapur?''

__ADS_1


Semuanya tidak menyahut. Mereka semua terdiam. Annisa dan Tama sibuk membuat minum.


Setelah selesai, Tama dan Annisa membawa nampan minuman dingin dan juga dua gelas air lemon hangat kesukaan Papi Gilang dan Mami Alisa.


''Di minum dulu. Agar hati dan pikiran kalian itu tenang! Kamu juga Dek! Jangan menangis terus! Nggak akan kenyang dengan kamu menangis seperti itu!'' ketus Annisa tiba-tiba membuat Tama terkejut.


Mak Alisa dan Papi Gilang saling pandang dan mengulum senyumnya. ''Baiklah tuan putri.. ini Papi minum!'' Kata Papi Gilang semabri menenggak setengah minuman air perasan jeruk lemon itu.


Annisa melengos. Mami Alisa terkekeh. Ia tau kalau putri nya itu sedang kesal kepada mereka semua.


Tama menarik tangan Annisa untuk duduk disisinya. ''Sini sama Abang. Semenjak kamu begini, kamu keseringan kayak gitu. Udah! Diem!'' ucap Tama mengunci rapat mulut Annisa dengan tangan hangatnya.


Annisa cemberut. Tama terkekeh. Kini beralih pada Kinara yang tidak mau melepaskan pelukannya dari tubuh sang putra angkat nya.


''Sayang..''


''Dek..'' panggil Papi Gilang dan Lana bersamaan.


Mereka saling pandang, dan Lana mengangguk. Ia menunduk lagi. Tidak ingin melihat wajah sendu Kinara padanya saat ini.


''Sayang Papi-,''


''Nggak ada yang perlu dibicarakan kok. Adek maklumin keadaan Abang. Adek hanya kesal saja sama Abang. Udah itu aja!'' ucapnya memotong ucapan sang Papi yang kini tertegun karena ucapan dingin Kinara pada mereka semua.


Lana memberanikan diri untuk melihat Kinara yang saat ini menatapnya dengan datar dan dingin. Tidak seperti biasanya. Ia sadar, Kinara seperti itu karena dirinya.

__ADS_1


''Maafkan Abang Dek.. Abang salah.. maaf.. karena rasa rindu Abang sana Maura membuat Abang melupakan mu.. maafkan Abang..'' lirih Lana dengan bibir bergetar.


''Kakak juga minta maaf Dek.. jika kami berdua telah mengabaikan mu selama dua Minggu ini. Maafkan kami Kinara..'' timpal Maura mencoba untuk berbicara pada Kinara yang saat ini sedang menatapnya dengan dingin dan datar.


''Tak apa Kak. Adek paham kok. Adek salah paham pada kalian berdua. Tak apa. Adek memaafkan kalian berdua.. tetapi untuk melupakan?? Itu tidak mungkin! Sekali hati ini tersakiti oleh kalian, maka sampai kapan pun akan terus teringat. Sudahlah Bang. Maafkan adek juga? Yang bersifat KEKANAKAN ini?? Maklum kan saja. Kalau adek ini kan masih labil??''


Deg!


Lana dan semua orang terkejut. Kecuali Ali. Mata itu menatap sendu pada sang istri. Ia tau kalau Kinara saat ini sedang kecewa pada seluruh keluarga nya.


Sayang...


Kinara menoleh pada Ali. Ia tersenyum.


Tak apa Bang.. inilah takdirku.. tetapi adek percaya padamu. Hanya kamu yang adek punya sekarang! Berjanjilah, kalau Abang tidak pernah meninggalkan ku!


Air mata Ali menetes. Kinara mengusap nya.


Abang tidak bisa berjanji untuk tidak meninggalkan mu. Takdir tidak ada yang tau sayang.. tetapi Abang bisa mengatakan. Bahwa hanya kamu, kamu dan kamu istri Abang. Bukan yang lain. Jika suatu saat Abang pergi meninggalkan mu, Abang pasti kembali lagi. ingat sayang. Abang selalu bersama mu. Selalu bersama mu. Sampai kapanpun!


Keduanya saling menangis dalam diam. Semua itu tidak luput dari perhatian semua orang.


Lana semakin merasa bersalah pada Kinara. Ia tau. Kalau Kinara berbicara seperti itu karena tidak ingin membuat masalah baru di keluarga mereka.


Lana tau, kalau Kinara sedang kecewa. Ia menitikkan air matanya saat merasakan sesak yang tiada Tara di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2