Penantian Kinara

Penantian Kinara
Dikembalikan


__ADS_3

Puas dengan berbagi cerita dengan sang Papi dan adik tersayang nya, kini Lana, Papi Gilang dan Mami Alisa segera pergi kerumahnya karena disana sudah menunggu Abi Madan dan juga Adik Maura yang bernama Faiz dan Faizah.


Sebelum kerumah Lana, Papi Gilang sudah lebih dulu mengambil bukti yang akan ia tunjukkan kepada keluarga Abi Madan termasuk sang pelaku.


Maura.


Mereka berjalan masuk saat ketiganya disambut dengan wajah dingin dan datar Besan dan dua adik Maura lainnya.


Lana melanhkah masuk langsung menuju ke kemarnya di mana si kembar berada. Maura menatapnya dengan datar.


Wajah itu begitu sembab saat ini. Tetapi tidak sedikit pun Lana melihatnya. Ia segera mengambil si kembar dan juga empat anaknya yang lain sekalian dengan Mbak sus nya, Lana bawa keluar.


Seperti yang Kinara katakan tadi, jika selama sidang perceraian Lana maka semua anak Lana akan tinggal bersama nya.


Lana melewati semua orang yang menatapnya kini dengan mata melotot karena terkejut melihat tingkah Lana.


"Mau kamu kemanakan Cucu ku?!" tanya Abi Madan pada Lana yang kini terus berjalan melewatinya tanpa menyahuti ucapannya sama sekali.


"Kamu tidak dengar Lana!!" serunya lagi


Lana berhenti di tempat. Ia tidak menoleh sedikit pun kebelakang. "Bawa semua anakku kerumah Kinara. Dia yang akan mengurus semua anakku." Katanya pada Mbak sus.


"Baik Pak!" sahut mereka bertiga.

__ADS_1


Lana kembali masuk saat melihat Abi Madan mentap nyalang padanya.


"Ada apa ini Lana? Kenapa kamu membawa anak kamu dan Maura kerumah adikmu? Sebenarnya ini ada apa?" tanya lelaki paruh baya lebih tua sedikit dari Mami Alisa itu.


Lana tidak menyahut. Kali ini Papi Gilang dan Mami Alisa yang akan berbicara dengannya. Karena ketika melamar Maura untuk Lana dulu pun Mami Alisa yang berbicara langsung kepada Abi Madan meminta Maura untuk menjadi istri putra kandungnya bersama almarhum Ayah Emil.


"Kenapa kamu diam? Jelaskan Maulana Akbar!" serunya lagi semakin gusar yang melihat Lana hanya diam saja.


"Maulana tidak akan berbicara kali ini Kak Madan. Sama seperti tiga dua tahun yang lalu! Kali ini saya yang akan berbicara!" tegas mami Alisa membuat Abi Madan terkejut.


"Ada apa ini Lis? Kenapa? Ada dengan ruamh tanghga putramu dan putriku? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Abi Madan pada mami alisa yang kini sednag mentapnya dengan datra.


Melihat Mami Alisa mentap Abi Madan begitu lama membuat Papi Gilang berdehem. Lana mengulum senyumnya. Ia ingin tertawa melihat tingkah sang Papi yang seperti takut kehilangan Mami Alisa.


Ck. Cemburu mu Pi! Nggak ketulungan!


Biarin! Mana bisa Papi nggak cemburu jika yang dihadapan nya ini merupakan cinta pertama Mak kamu?? Ishh.. Bikin panas saja!


Batinnya kesal saat melihat Lana yang kini menunduk menyembunyikan senyumnya. Papi Gilang semakin kesal kepada anak tirinya itu.


Ia kembali bedehem.


Dehem terus pi! Hingga suara Papi habis mer!eka berdua tidak akan terputus tatapannya terkecuali...

__ADS_1


Lana melirik Papi Gilang yang kini melotot kemudian tersenyum padanya.


Cup!


Deg!


Mami alisa terkejut.


Abi Madan tersentak. Ia pun ikut berdehem sama seperti papi Gilang tadi.


"Maaf sayang.." bisik Mami Alisa di telinga Papi Gilang, membuat pria matang yang masih tampan itu melengos ke arah lain.


Mami Alisa menghela nafasnya. "Seperti aku dulunya meminta Maura kepadamu dengan cara baik-baik. Maka hari ini. Aku, Alisa Bhaskara ingin mengembalikan Maura Putri Kartika kepadamu. Untuk tidak menjadi istri putraku lagi!"


Dddduuuuuaaaaaarrrrrrr....


Tersentak mereka semua mendengarnya. Lana memejamkan matanya. Maura terkesiap. Ia menatap Lana yang kini tidak menatapnya sama sekali.


Malah mata sayu yang selalu membuatnya tergoda itu kini malah menatap ke lantai marmer yang ada di rumah mereka.


Matanya mengembun.


Semua yang mendengar nya begitu terkejut. Abi Madan sampai tidak bisa berkata-kata. Mulut itu menganga saking terkejutnya.

__ADS_1


"Ini keputusan ku. Dan Lana sudah menyetujuinya. Mulai sekarang, aku mengembalikan Maura padamu kak Madan. Untuk sebab dan musabab, tanyakan pada putramu dan bukti yang kami miliki cukup buat kamu mengerti kenapa aku sebagai Mak Lana memutuskan hal ini!" ucapnya begitu tegas.


Papi Gilang tersenyum tipis melihat Mami Alisa masih sama seperti saat melamar maura dulu. Lembut tapi penuh dengan ketegasan.


__ADS_2