Penantian Kinara

Penantian Kinara
Jalan-jalan bersama keluarga


__ADS_3

Keesokan harinya.


Mereka berdua akan pergi jalan-jalan bersama keluarga besar. Termasuk si pengantin usang rasa baru itu.


''Ehemm.. cie cie.. yang udah resmi dan sah!'' goda Maura pada Nara.


Nara tersenyum. Ia menunduk malu. Lana terkekeh, Ali pura-pura tidak tau. Ia lebih menyibukkan diri dengan setirnya. Setiap kali pulang bersama Lana, pastilah Ali lah yang menjadi supir mereka semua. Dan Ali pun tidak keberatan. Ia menyukai hal itu.


Bahkan saat Nara ingin ke pasar pun Ali ikut menemani istri kecilnya itu. ''Gimana? Kemana aja selama seminggu ini tidak keluar dari rumah? Sibuk mencetak penerus bangsa kah??'' goda Maura pada Nara.


Nara memutar bola mata malas melihat wajah Maura yang terkesan lebay padanya. ''Ck. Jangan selalu mengatai ku kakak ipar! Kamu pun sama denganku! Bukankan Abang selalu menggarap hingga tidak kenal waktu???'' balas Nara begitu membuat Maura dan Lana terperangah.


Sementara Ali tertawa terbahak mendengar ucapan sang istri begitu telak mengembalikan ucapan Maura. ''Jangan Kakak pikir aku tidak tau ya apa yang kalian perbuat?? Hem, kalian itu mengadon keponakan ku tidak kenal waktu! Bahkan saat aku datang pun, kalian berdua masih sibuk mengadon! Apa kalian tau, kalau selama seminggu ini akulah yang menjaga ketiga anak kalian?! huh?!'' sentak Nara dengan suara rendahnya.


Maura dan Lana terdiam. Mereka sangat malu pada Nara dan Ali. Lana melengos begitu juga dengan Maura. Ali tidak bisa menahan rasa geli dihatinya terhadap pasangan itu.


Buhahahaha...


Ali tertawa puas melihat Lana dan Maura malu pada mereka berdua. ''Hahaha .. makanya jangan suka menggoda orang lain! kena batunya sekarang kan? Sekarang aku tanya sama kalian berdua? Siapa yang paling bersemangat mencetak penerus. Aku? Atau kamu Bang??''


Lana melengos. Ali tertawa. ''Hahaha... kena batunya kalian berdua! Ngadon bibit kok nggak ingat waktu! Aku yang pengantin baru aja nggak gitu banget nyetaknya! Ada juga waktu istirahat! Lah kalian??? Hahaha...'' puas sekali Ali bisa membalas mereka berdua.


Nara tersenyum bangga pada ucapan Ali. ''Heh, sukanya menggoda orang! Giliran kena diri sendiri terdiamkan??'' kata Nara lagi.


Ia begitu puas membalas kakak iparnya yang begitu ingin menggoda nya itu. Sepanjang perjalanan di isi dengan kesunyian diantara mereka.

__ADS_1


Mereka menuju kerumah Mak Alisa terlebih dahulu untuk menyusul dua paruh baya itu. Mereka berencana ingin pergi ke tempat dimana Mak Alisa dulu pernah pergi dengan Papi Gilang saat mereka berdua telah selesai melakukan peresmian mall kedua mereka saat Algi dan Nara berusia dua tahun lebih.


''Sudah siap??'' tanya Mak Alisa pada Maura dan Nara.


Maura masih terlihat kecanggungan dengan adik ipar nya. Tujuan dirinya ingin menggoda Nara, malah di goda balik oleh kedua pasangan pengantin baru ini.


''Sudah Mak.'' Sahut Maura masih gugup ketika berada didekat Nara.


Nara terkekeh kecil. ''Masih malu Kakak ipar?'' bisik Nara di telinga Maura.


Maura melotot. Nara tertawa puas. Ali pun ikut tertawa di dekat Lana. Karena ia pun berhasil menggoda Lana di depan Sang Papi. Siapa lagi kalau bukan Papi Gilang.


Pria paruh baya itu tertawa terbahak saat mendengar penuturan Ali padanya. Ia tidak menyangka jika Lana segitu buasnya saat bersama Maura dalam mencetak penerus mereka.


Lana begitu malu saat ini. Ia memilih masuk ke mobil duluan. Di ikuti Maura, Mbak Sus dan ketiga anaknya yang dibawa oleh Mbak Sus.


''Hahaha... dasar kamu Dek! Kok bisa sih menggoda Abang kayak gitu??'' ucap Papi Gilang sambil terus tertawa.


''Ya.. adek kesel Papi! Tiap kali ketemu pasti itu-itu aja yang dibahas! Masalah pribadi itu tidak boleh di umbar walau pada saudara sendiri! Adek kesal pada kak Maura. Ia ingin menunjukkan kalau ia begitu pandai dan hebat dalam urusan rumah tangga. Biarin aja! Kesal banget adek lihatnya! Mana adek datang mereka nggak keluar-keluar lagi. Satu Minggu Papi. Satu Minggu! Adek yang jaga Malik dan Zia. Beruntungnya Malda begitu pintar. Ia lah yang bilang sama adek, kalau Papi mereka keluar ketika pagi saja. Setelahnya ankrem! Ngendok ae di dalam kamar!'' ketus Nara begitu kesal.


Buhahahaha....


Suara gelak tawa membahana di dalam rumah Papi Gilang dan Mak Alisa. Ingin sekali tadi Nara memukul abangnya itu. Tapi itu tidak mungkin. Ia lebih baik melakukan sesuatu yang membuat Lana dan Maura mati kutu di depannya.


Mereka tak bisa berkutik. Karena yang Nara katakan itu benar adanya. Selama seminggu ini, mereka berdua sibuk di dalam kamar. Entah apa yang terjadi, cuma mereka berdua yang tau.

__ADS_1


Tapi Nara tau, kalau kedua pasangan yang sudah lama tidak berjumpa itu sibuk mencetak adik lagi untuk ketiga keponakan nya itu.


''Hahaha... ya sudah. Ayo hahaha.. kita pergi. Kalau terlalu siang, nanti Suasananya tidak enak. Di jam segini lah waktu yang tepat. Iya kan sayang?'' ucap Papi Gilang pada Mak Alisa.


''Ya, ayo. Lana dan Maura sudah lebih dulu. Entahlah ia tau atau tidak, biar mereka tersesat di sana!'' imbuh Mak Alisa dengan sedikit candaan.


Kelima orang itu tertawa bersama.


Setelah nya mereka semua pergi menuju ke tempat Mak Alisa dan Papi Gilang dulu pergi. Tempat dimana sejarah cinta mereka berdua. Dan setiap bulannya mereka berdua selalu kesana.


Sekedar untuk melepas rindu ataupun ingin bernostalgia dengan masa lalu mereka berdua. Tempat dimana untuk pertama kalinya, Mak Alisa begitu merasa dihargai dan begitu beruntung karena di cintai oleh sang suami. Yaitu Papi Gilang.


Sejarah itu selalu Mak Alisa ceritakan kepada Algi dan Kinara. Sementara Ira dan Lana sudah tau sedari dulu.


''Tempat bersejarah Mami dan Papi ya? Hem.. adek baru pertama kali kesana. Abang!'' panggil Nara pada Ali.


''Hem?'' sahutnya tanpa menoleh, ia masih sibuk mengemudikan mobil milik Papi Gilang.


''Apakah kita juga harus buat tempat bersejarah di sana?'' tanya Nara pada Ali.


Ali tersenyum, ''Tentu. Jika kamu menginginkan nya. Nggak ada salahnya bukan??''


''Betul! Buatlah tempat itu menjadi tempat yang akan kalian selalu mengingat nya. Seperti kami berdua.''


''Tentu. Adek akan buat tempat Mami dan Papi menjadi tempat bersejarah kami berdua! Kita pacaran kan Bang??''

__ADS_1


Ali tertawa. Begitu juga dengan Mak Alisa, Papi Gilang, dan Algi. Sementara Lana dan Maura sudah pergi duluan. Mereka begitu malu saat Ketahuan seluruh keluarga nya tentang kejadian Selama seminggu baru pulang dari bertugas.


__ADS_2